Archive for October 2011

save the trees, buy a Kindle

Ehem jadi, setelah bertahun-tahun tidak mengikuti perkembangan teknologi, dan setelah menimbang beberapa permasalahan sebagai berikut:

  • banyak yang harus dibaca
  • tempat nge-print jauh
  • beli buku di luar negeri adalah rugi karena repot bawa pulangnya
  • kalau bawa buku di perjalanan, cepet banget tamatnya

akhirnya saya memutuskan sudah saatnya membeli gadget yang agak canggih, yaitu… Kindle e-Reader with Wi-Fi, 6” display. Beberapa hari yang lalu barangnya sampai, dan beginilah penampakannya:

Langsung saja beberapa komentar:

  • E-paper dan e-ink rupanya meyakinkan sekali, hampir terasa baca buku beneran. Kalau bacanya pake lampu, masih ada pantulannya sedikit sih, tapi ga mengganggu. Mata ga cepet cape seperti kalau baca lewat layar LCD.
  • Kindle yang ini tidak dilengkapi audio, jadinya ga bisa setel audio book atau text-to-speech, dll. Tapi ga masalah, karena memang tujuan saya cuma membaca.
  • Juga tidak dilengkapi keyboard. Ada keyboard virtual-nya sih. Ngarahinnya mungkin agak susah karena harus geser2 tombol. Tapi lagi-lagi ga masalah karena tujuan saya cuma membaca, bukannya ngetik-ngetik apa gitu.
  • Koneksinya hanya Wi-Fi. Sejauh ini belum sempet dicoba karena di rumah ga ada wi-fi.
  • Ukurannya cukup pas di tangan dan di mata.
  • Harga $109… sayangnya tidak semurah yang dimungkinkan, huhu. Jadi, model yang sama dijual dengan harga $79, dilengkapi iklan. Sebenarnya saya sama sekali ga keberatan dengan iklan, tapi barangnya ga bisa di-ship ke Hollanda sini. Ya sudah terpaksa pilih yang mahalan.
  • Kapasitasnya sih katanya bisa mencapai 1400 buku. Cukup banget lah ya.

All in all, lumayanlah, worth every penny. Sekarang ga perlu repot-repot bawa buku tebel di tas. Kalau baca paper juga lebih konsen karena distraction-nya lebih sedikit dibanding kalau baca di laptop, hehe. Kindle ini benar-benar sesuai perannya sebagai e-reader: cocoknya buat orang-orang yang tujuannya cuma baca doang. Kalau mau sambil nyetel musik, nonton film, browsing2 mah ga bisa, mending di komputer aja, huhu.

Ga enaknya… Kalo abis baca buku, berasa kaya antiklimaks ah. Biasanya ada sedikit perasaan mellow saat menutup halaman terakhir; sekarang cuma sekedar geser-geser doang, rasanya biasa aja. Selain itu, bukunya juga ga bisa dipajang kaya buku beneran, huhu.

Kesimpulannya, e-reader memang tidak akan bisa menggantikan buku beneran. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri kok. Jalan terbaik adalah beli Kindle dan buku benaran juga, hehe.

The most important thing is that people read.

- Neil Gaiman

Beberapa hari yang lalu, gw (kenapa gw dan bukan saya, karena lagi pengen) meminjam buku dari perpustakaan, judulnya Fermat’s Enigma. Memang sudah agak lama mengincar buku ini, tapi baru nemu sekarang. Ceritanya? Tentang sejarah Teorema Terakhir Fermat. Dari dulu memang gw suka matematika. Kenapa bisa berakhir di computational linguistics, anggap saja itu takdir Tuhan.

Jadi gw membaca bukunya. Juga menonton tayangannya di sini. Gw bukan orang yang mudah terkesan dengan yang namanya kisah sukses orang lain; but this one is really an eye-opener for me. Selesai membaca buku ini gw jadi mikir sendiri. Selagi gw bermalas-malasan, streaming serial tv, dan donlot film, there are people out there risking the years of their life working on great things. There’s no guarantee they would succeed, but they did it anyway.

Melihat ke sekeliling, gw jadi ngerasa ketinggalan. Ada temen yang ngambil internship. Ada yang sibuk sama proyek ini-itu. Gw ngapain aja ya? Ngerjain PR doang palingan. Sumpah, jadi malu. Ngerasa terlalu membatasi diri, ngerasa kurang ‘maruk’ dalam mengambil kesempatan. Dalih sih ada. Ga suka linguistik, ga suka kerja, udara dingin. Suatu waktu ada teman yang mengeluh bahwa dia sudah menerjunkan diri ke dalam terlalu banyak masalah. Sekarang gw jadi bertanya-tanya sendiri, kapan terakhir kali gw melibatkan diri ke dalam masalah. Kayanya gw selalu ngambil jalan aman.

Jadi ceritanya, gw pengen semangat sekarang. Karena hari terlalu pendek untuk dihabiskan dengan nonton serial tv. Karena waktu yang ada selalu lebih sedikit daripada tugas yang perlu dikerjakan. Mumpung masih muda dan sehat.

There’ll be plenty of time to rest in the grave

- Paul Erdös

kalo ditanya kapan kawin…

Mathematicians who had been stuck for months on a particular problem would write to her seeking a solution, and Hypatia rarely disappointed her admirers. She was obsessed by mathematics and the process of logical proof, and when asked why she never married she replied that she was wedded to the truth.

- Simon Singh – Fermat’s Enigma

Wedded to the truth; how romantic is that?

Sunday morning

I wasn’t really excited about moving to Groningen. People don’t ask you where the hell is the Netherlands, as they did with Malta. The country is not small enough it still shows in the world map. And considering the our long history, it’s not uncommon to find so many Indonesian people, and Indonesian tokos, and Dutch people who speak Indonesian. This place is just too familiar for most of us. And that, in some ways, made me feel less special. Sort of.

I wasn’t really happy during my first weeks here, I thought I would never fit in. It was freezing cold and it rained every day. I hated my status as a student of Faculty of Arts. My apartment was so far from the university, after a few minutes of biking I felt pain on my left knee. I don’t live in a student house, which means I have no one to talk to at home. Strange as it may sound, those days I missed being around people.

After one month, things are better now, so much better they’re almost good. I can bike from apartment to university in 20 minutes without knee pain. In fact, yesterday I biked for 4 hours in total and it felt good. But it’s so hard to feel anything but good when it’s 27 C out there.

Sunday morning is now my favorite time of the week. There’s this field just behind my neighborhood (I never noticed before since I always have to go to the opposite direction) and I’ve never seen such a breathtaking view as when the sun has just risen there.

I never knew I loved foggy mornings, and biking alone, and biking with friends, and cooking for people. I never knew there are so many things to be happy with.

We said that we would never fit in
When we were really just like them

- The Ataris – So Long Astoria