Archive for September 2011

bicara tentang kuliah

Malem-malem begini enaknya ngomongin kuliah. Perubahan status dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (UI) dan Faculty of Information and Communication Technology (UoM) menjadi mahasiswa Faculty of Arts (RuG) cukup bikin saya ngerasa kehilangan jati diri, buhu. Mari diawali dengan…

Kuliah Syntactic and Semantic Theory

Deskripsi: 10 ECTS. Terdiri atas 2 bagian, yaitu, seperti yang sudah bisa ditebak, Syntax dan Semantics. Masing-masing bagian punya dosen, buku, tugas, dan ujiannya sendiri. Jadi agak heran sebenernya, kenapa harus dijadiin satu mata kuliah kalo gitu?

Pengen ngedrop karena: booooriiing. Tapi susah. Sial.

Belum di-drop karena: ga yakin masih bisa ngedrop, haha. Lagipula ga tau mau ganti dengan kuliah apa. Di Faculty of Arts kayanya ga ada yang menarik (sombong). Nengok-nengok ke fakultas sebelah, ada kuliah Automated Reasoning yang kayanya lumayan menarik. Tapi mulainya baru bulan November, yang berarti kelarnya juga belakangan. Reasoning saya mengatakan liburan saya bakal ketunda.

Intinya, ya sudah, sampai saat ini masih bertahan. Selain kuliah tadi, saya ngambil dua kuliah lain yang juga berjatahkan 10 ECTS: Natural Language Processing dan Semantic Web Technology. Dari ketiga kuliah tersebut, kuliah favorit saya adalah… jeng jeng jeng… ga ada. Mungkin yang agak saya suka adalah…

Dutch Language and Culture

Deskripsi: 0 ECTS (yap benar, kuliah gratisan ini). Sesuai namanya, belajar bahasa dan budaya Belanda. Dengan kata lain, senang-senang doang di kelas: makan stroopwaffels dan vla, main Bingo, dikasih kartu bonus Albert Heijn (supermarket paling ngetop di sini). Dulu sih dijanjiinnya, by the end of this course bakalan udah lancar ngomong Dutch. Tapi berhubung sampe saat ini saya cuma bisa ngomong Ik ben Annisa, yaa lihat saja nanti.

Cukup sudah tentang kuliah. Mari bicara tentang….

Perpustakaan

Perpustakaan RuG adalah salah satu hal terbaik di kota ini. Ruangannya nyaman, librariannya baik-baik, fasilitasnya canggih, dan koleksi bukunya… kelengkapannya bikin saya terharu. Di pikiran saya, this is how a library should be (tadinya pengen nyindir, tapi ga jadi deh, hehe).

Semoga akses ke perpustakaan bisa meningkatkan minat baca saya yang sedang turun drastis. Keasikan nonton sih. Belakangan ini nyoba baca buku tapi ga ada yang tamat. Mulai dari Winnie the Pooh (minjem dari landlady), Semantics of Murder (rekomendasi dosen Semantics), sampe The True History of Kelly Gang. Semua paling cuma sampe halaman 60-70. Sore ini baru minjem Fermat’s Enigma dari perpus, semoga menarik, amin.

Cabut ah. Besok ada kuliah Syntax, beh.

 

All Alone!
Whether you like it or not.
Alone will be something
you'll be quite a lot.

- Dr. Seuss

sambil mikirin topik tesis

Terkadang masih suka bertanya-tanya sendiri. Kenapa EMCL ga dibiayain Erasmus Mundus justru pas di tahun saat gw mendaftar. Kenapa tahun sebelum dan sesudahnya malah sudah termasuk EM lagi. Kenapa dulu of all choices, malah berpaling ke LCT, satu-satunya pilihan pula. Kenapa dari semua kemungkinan universitas, gw malah dikirim ke Malta dan Belanda.

Inikah yang namanya takdir?

Minggu pertama perkuliahan sudah berlalu, fiuh. Seminggu ini saya… sering ngerasa nyesek. Tiap hari adaaa aja yang bikin kesel. Mulai dari alarm kebakaran yang bunyi gara-gara roti bakar gosong, kucing yang manjat atap lalu masuk ke kamar saya lewat jendela lalu seenaknya tiduran di atas selimut, kompor yang ngeluarin percikan api aneh, internet yang langsung putus begitu kabel lan-nya kesenggol, sampe kuliah-kuliah linguistik yang membosankan.

Belum lagi rasa sepi yang melanda. Kalau di Malta dulu saya langsung akrab dengan teman-teman LCT, di sini tidak demikian halnya. Begitu kelas selesai, ya sudah. Bubar ke rumah masing-masing. Untuk kesekian kalinya, saya menyesali kenapa dulu ga milih international student house aja. Setidaknya di sana saya bakal ketemu banyak orang, instead of sendirian dan merana seperti di apartemen ini.

Jumat kemarin, saya menghadiri sidang tesis seorang anak LCT yang penempatannya sama dengan saya: tahun pertama di Malta, tahun kedua di Groningen. Setelah presentasinya berakhir, saya menghampiri buat nanya tentang prosedur tesis blablabla. Dia bertanya apakah saya senang di Malta. Saya bilang senang sekali, cuacanya berkebalikan dengan Groningen sini. Lalu dia bilang bukan hanya cuacanya, segalanya berkebalikan. Dan saat dia bilang begitu, rasanya saya jadi kangen sekali dengan Malta yang hangat dan bersahabat, dan Mariya, Milos, dan Bikash. Kesel. Karena LCT mencampuradukkan murid-muridnya di tahun kedua sehingga ga bisa bareng-bareng lagi.

Tapi, saat kemarin matahari bersinar cerah dan udara cukup hangat untuk bisa jalan-jalan tanpa jaket (meskipun kata teman saya cuaca begitu cuma bertahan sehari), mau ga mau suasana hati saya jadi agak membaik sedikit. Saat selimut yang ditidurin kucing sudah di-laundry dan beberapa PR sudah selesai, suasana hati saya jadi semakin baik. Kemarin seorang teman baru saya mengadakan acara makan-makan di tempatnya. Saat lumpia buatan saya habis dan dibilang enak oleh beberapa orang, rasanya sungguh menyenangkan. Dan saat saya melihat betapa repotnya harus berbagi kamar mandi dan dapur, saya merasa bersyukur berada di tempat saya sekarang. At the end of the day, saya rasa mungkin Groningen ga terlalu buruk juga. I’m okay for now.

Jadikan cintaku pada-Mu ya Allah
Berhenti di titik ketaatan
Meloncati rasa suka dan tak suka
Karena aku tahu, mentaati-Mu dalam hal yang tak kusukai
Adalah kepayahan, perjuangan, dan gemilang pahala
Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku

- Salim A Fillah

ngebanding-bandingin

Yah biasa deh baru sampe di suatu tempat, maunya ngebanding-bandingin dengan tempat lama. Groningen, dalam banyak hal, sangat bertentangan dengan Malta. Misalnya saja sebagai berikut:

  • Malta didominasi warna kuning dan bebatuan, Groningen didominasi warna hijau dan pepohonan
  • Pas baru sampe di Malta panasnya minta ampun. Pas sampe sini langsung pake sweter dan jaket.
  • Di Malta orang Indonesia-nya sedikit banget. Sekalinya ketemu di jalan, langsung pada sok akrab nanya ini-itu, sehingga saya bawaannya jadi agak males. Di sini, saking banyaknya orang Indonesia, kalau ketemu di jalan jadi cuek-cuek saja tuh ^^
  • Jarak apartemen saya ke University of Malta dulu bisa ditempuh dalam waktu… err, 2-3 menit saja. Tinggal nyebrang doang soalnya. Kalau sekarang? Ke Rijkuniversiteit Groningen perlu waktu setengah jam naik sepeda, itu pun mengayuhnya harus mati-matian.

Nah, kalau soal bersepeda ini, saya memang payah sekali deh. Cepet banget cape. Mulai dari mbak-mbak, anak sekolahan, sampai nenek-nenek, semuanya ngebalap saya kalau lagi bersepeda, hehe. Saat ini, kaki saya sudah dipenuhi memar biru karena kepentok sadel, trotoar, dan segala hal lainnya yang bisa ditabrak.

Jadi kesimpulannya adalah: Malta lebih mudah, Groningen lebih indah. Sungguh, Groningen ini kota yang cantik sekali. Berhubung kamera saya ketinggalan mulu, belum bisa ngasih barbuk. Lalu, ada untungnya juga saya tinggal jauh di Beijum, daerah suburban gitu lah. Jadi selain melihat bangunan tua di pusat kota, saya juga bisa menikmati suasana pedesaan di jalan pulang, yang mencakup bebek-bebek, istal kuda, dan kincir angin.

Jujur saja, sejauh ini I like Malta much better. Alasan utama adalah cuaca. Dari dulu saya lebih suka udara hangat ^^. Kalau di sini, sepedahan pagi-pagi rasanya sungguh bikin beku. Tapi yaa, semoga ke depannya bisa lebih menyenangkan, buhuhu.

sepeda saya

Pinjaman, sepaket dengan apartemen.

DSC02446

apartemen

Urusan apartemen di Groningen memang agak sulit. Tempatnya sedikit dan harganya mahal. Pencariannya bisa lewat Housing Office, agen perantara dengan universitas. Secara umum, pilihannya ada dua: international student house dan private market. International student house biasanya berupa kamar pribadi dengan berbagi kamar mandi dan dapur. Ada sih yang kamar mandinya di dalem, tapi cuma sedikit. Itu yang dulu saya pilih.

Sayangnya, international student house pilihan saya sudah penuh semua, jadi saya ditawari sebuah apartemen di private market. Tadinya agak ragu-ragu karena 1) letaknya jauh dan 2) mahal. Sementara itu, student house yang masih kosong hanya yang berbagi kamar mandi dan dapur. Tapi akhirnya, setelah minta saran dari orangtua dan teman-teman, saya putuskan (dengan tidak yakin) untuk menerima tawaran tersebut. Lagipula setelah dihitung-hitung, jatuhnya cuma beberapa belas euro lebih mahal dibanding yang di Malta.

Daaaan, ternyata sangat memuaskan ^^. Beginilah penampakannya begitu membuka pintu. Ada tv dan DVD player juga (sayang ga ada port USB-nya, ga mungkin juga saya beli DVD di sini).

DSC02434

Untungnya lagi, sudah termasuk internet, dan lumayan cepet pula, setara dengan yang di Malta. Sayangnya harus nyolok kabel LAN, bukan wifi. Dan setelah donlot film pertama pagi ini, saya baru inget belum nanya landlady-nya apakah internetnya unlimited atau tidak, huhu.

DSC02436

Di ruangan satunya, ada dapur yang perlengkapannya luar biasa lengkap. Panci, wajan, microwave, coffee maker, toaster, bahkan garam, merica, kopi, dan teh pun ada. Sudah disediakan pisang juga. Saya agak bingung harus diapain, berhubung saya ga doyan pisang.

DSC02442

Cukup sudah bagus-bagusnya. Sekarang sisi jeleknya. Dari peta di bawah ini, city center ditunjukkan oleh label A, sementara apartemen saya ada di B, buhuhu.

Untitled

Kemarin sang landlady sedang ada perlu ke city center dan nawarin saya ngikutin di belakang pake sepeda. Nah, perjalanannya paling lama cuma setengah jam kayanya. Sampai di pusat kota, kami pun berpisah. Setelah urusan saya selesai, saya jadi agak panik sendiri karena lupa jalan pulangnya. Dalam artian bener-bener ga tau rute mana yang harus diambil.

Akhirnya, berbekal peta, saya pun nekat mengira-ngira jalan mana yang bisa diambil. Tiap ada persimpangan, berhenti dulu buat ngecek peta. Sempet putus asa juga karena rasanya masih jauuuuh banget. Untung ketemu mbak-mbak baik hati yang mau ngasih tau perkiraan rutenya. Setelah itu saya jadi pede nanya sama orang-orang di jalan ^^. Dua kali ketemu ibu-ibu yang kebetulan searah, jadi saya tinggal ngikutin di belakangnya. Akhirnya, setelah 1,5 jam mengayuh sepeda, nyasar, nanya sekitar 10 orang, dan puluhan kali ngecek peta, saya berhasil sampai di rumah. Bangga sekali rasanya, hehe.

Jujur, waktu mau pulang dari pusat kota itu, saya sempet nyesel kenapa ga ngambil tempat di student house aja. Letaknya ga terlalu jauh, banyak temennya pula. Tapi kemudian, di sana pun pasti ada kesulitan-kesulitannya sendiri. Ga ada gunanya juga menyesali pilihan yang sudah dibuat. Semoga saja perjalanan selanjutnya tidak akan terlalu panjang.

perjalanan menuju tahun kedua

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya.

  • perjalanan Lenteng Agung – CGK: 2 jam
  • penantian sejak turun dari mobil sampai pesawat berangkat: 2 jam
  • CGK – KUL: 1,5 jam
  • transit di KUL: 2,5 jam
  • delay di KUL: 2 jam
  • KUL – AMS: 13 jam
  • ngambil bagasi dan nunggu kereta: 1 jam
  • Schipol – Groningen: 2,5 jam
  • berdiri merana di antrian pengambilan residence permit: 3 jam


    Berikut adalah penjelasan perjalanan saya.

    Terhitung sejak kemarin, saya kembali di daratan Eropa. Jadi seharusnya saya sudah berada di sini lebih awal, mengingat ada acara Welcoming Ceremony tanggal 31 Agustus dan 1 September. Namun karena alasan-alasan tertentu, saya akhirnya memutuskan untuk terbang tanggal 31 Agustus 18.25 dan mendarat tanggal 1 September 06.35. Atau begitulah rencana awalnya. Buhuhu. Kenyataannya, ada delay 2 jam untuk penerbangan KUL-AMS karena cuaca buruk. Saya yang tadinya berharap bisa menghadiri Welcoming Ceremony Kamis siang buat mengambil residence permit, jadi agak berputus asa.
    Namun ternyata inilah yang terjadi:

    1. Di Schipol, saya ketemu sesama Indonesia yang juga bertujuan ke Groningen. Dia dijemput teman-teman seasramanya.
    2. Saya ikutan gabung. Ternyata ada yang punya kartu diskon, jadi saya cuma bayar 14 EUR buat tiket kereta.
    3. Karena berbagai keterlambatan, saya baru sampai di stasiun Groningen jam 12 siang. Untungnya di sana dijemput sama landlady apartemen saya.
    4. Setelah mendengar bahwa saya harus ke Zwolle (sejam berkereta dari Groningen) kalau gagal mengambil residence permit hari itu, sang landlady pun bersikeras mengantar saya ke universitas.

    Sesampainya di Academy Building, ternyata pengambilan residence permit tidak semudah yang saya bayangkan, buhuhu. Menurut jadwal, harusnya acaranya dari jam 9 sampai jam 1 siang. Saya datang jam setengah 1 dan ternyata… Antriannya masih panjang bener dan pergerakannya sangat lambat. Dengan kepala agak melayang-layang, akhirnya saya memutuskan tetep ngantri. Sepanjang antrian ada petugas-petugas yang nawarin air dan stroopwafel. Sempat ngobrol dikit dengan beberapa orang di dekat saya. Ketika mendengar bahwa saya langsung ke universitas begitu sampai di Groningen, mas-mas dari Chile berkata, “you are very tough”. Dia ga tau aja saya hampir nangis saking capenya. Dan akhirnya, setelah 3 gelas air dan 1 stroopwafel (ga enak, terlalu manis) atau lebih tepatnya 3 jam kemudian, akhirnya saya tiba di awal antrian. Terharu sekali rasanya ketika kartu residence permit jatuh ke tangan saya, huhuhu.