Archive for July 2011

malam Minggu malam yang panjang

Saya bukan orang yang suka keluar rumah di malam Minggu. Masa-masa SMA terlalu cepat berlalu. Tahu-tahu yang saya ingat sekarang, malam Minggu saya dulu tidak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, yang dihabiskan dengan belajar atau ikutan kuis trivia Harry Potter. Sampai kuliah pun kebiasaan ini masih bertahan. Di hari Sabtu, “jam malam” saya adalah jam 6 sore. Kalau sudah lewat jam segitu dan saya belum di rumah, biasanya orangtua saya resah. Tapi bahkan selama di Malta, tanpa orangtua yang mengharapkan kepulangan, saya masih tidak suka keluar malam.

Tentu saja every once in a while ada perkecualian. Pernah saya keluar malam Minggu ke Valletta, lupa untuk kepentingan apa. Berdesak-desakan di bus. Jalanan penuh orang merokok dan minum-minum. Pernah juga keluar saat New Year’s Eve, lagi-lagi ke Valletta. Nyaris ga bisa jalan saking ramenya. Masih juga bernuansa rokok dan minuman. Saya kapok.

Di Jakarta, setelah entah berapa tahun dihabiskan sebagai anak cupu yang ga pernah keluar rumah, akhirnya tadi malam saya keluar. Pertama, menuju tempat makan yang menjadi meeting point dengan teman-teman. Penuh. Pindah ke mall terdekat. Penuh juga. Saya masih suka heran, mall sebegitu banyak dan sebegitu besarnya, kok bisa penuh semuanya ya. Lebih heran lagi, melihat kepadatan dan kemacetan, kenapa orang-orang masih juga pergi ya?

Namun untungnya, di tengah-tengah kota yang semrawut ini, kita masih punya sekelompok orang yang cukup saleh untuk melakukan doa bersama. Dan bukan sekedar doa bersama, melainkan doa bersama yang digelar di jalan raya. Dengan menutup ruas jalan. Kalau ribuan pengendara mobil dan motor harus mencari jalan alternatif dan terjebak dalam kemacetan panjang selama berjam-jam, tentu saja itu bukan urusan mereka, Mereka kan sedang berdoa. Wow. Salut deh, plok plok plok.

Lain kali, I will just stay at home and read a book.

Milo

Yohoho, hari ini saya mendapat kiriman Milo dari ibu saya. Tentunya bukan sembarang Milo yang bisa ditemui di sini, yang banyakan gulanya ketimbang cokelatnya. Bukan, yang saya dapatkan adalah Milo yang rasanya sama dengan Milo jaman dulu yang kaya akan cokelat. Jadi inget semasa kecil dulu, di mana bubuk Milo yang dituang ke mangkok adalah cemilan favorit saya. Bahkan beberapa buku saya sampai sekarang masih ada bercak Milo-nya gara-gara hobi makan sambil baca. Sekarang dapet 2 kaleng besar, 1 diantaranya dibawa ke Groningen ah.

arranging stuff

Coming home means surprises (and this post is exactly one month late, I know). Among others, I get a series of new bookshelves. This is one of them; the tallest and slimmest, containing my favorite books, except those on the bottom row which, strictly speaking, I wish to throw away (i.e. my course books).

DSC02403

For the first time, I have enough space for my books. There is even an extra space for some Eurotrip souvenirs.

DSC02395

The yellow thing in the back is a postcard-sized photo album. But since some of my postcards are not postcard-sized, I had to crop the edges. Sorry, I tried not to cut your name, though Open-mouthed smile.

DSC02364

left: from Shakespeare & Co; right: from Venice

 

DSC02369

from a friend in Copenhagen

 

DSC02372

from a friend in South Korea

At Aksara, I found this invisible book shelf, so now the books look like they are floating. It only supports 9 kg. And while it makes the wall look nice, the price is not nice at all.

sixth-life crisis

From It’s Kind of A Funny Story by Ned Vizzini, I think this is quite true Smile

 

“Forget the midlife crisis. It’s all about the sixth-life crisis.”

”What the hell is that?”

”Well, first there’s the quarter-life crisis. That’s like the characters on Friends—people freaking out that they won’t get married. Twenty-year-olds. That’s probably true that people get quarter-life crises; I wouldn’t know. But I know that now things work faster. Before you had to wait until you were twenty to have enough choices of things to do with your life to start getting freaked out. But now there’s so much stuff for you to buy, and so many ways you can spend your time, and so many specialties that you need to get started on very early in life—like ballet, right, Noelle, when did you start ballet?”

”Four.”

”Okay. I started Tae Bo at six. So there are like— so many people angling for success and so many colleges you’re supposed to get into, and so many women you’re supposed to have sex with— ... So now, instead of a quarter-life crisis they’ve got a fifth-life crisis—that’s when you’re eighteen—and a sixth-life crisis—that’s when you’re fourteen. I think that’s what a lot of people have. Well, there are lot of people who make a lot of money off the fifth- and sixth-life crises. All of a sudden they have a ton of consumers scared out of their minds and willing to buy facial cream, designer jeans, SAT test prep courses, condoms, cars, scooters, self-help books, watches, wallets, stocks, whatever … all the crap that the twenty-somethings used to buy, they now have the ten-somethings buying. They doubled their market! So pretty soon. There’ll be seventh- and eighth-life crises. Then eventually a baby will be born and the doctors will look at it and wonder right away if it’s unequipped to deal with the world; if they decide it doesn’t look happy, they’ll put it on antidepressants, get it started on that particular consumer track.”

- It’s Kind of A Funny Story

Mischief Managed

… sempat menjadi trending topic di Twitter tanggal 15 Juli yang lalu. Untungnya, saya juga bisa turut serta menyaksikan filmnya, yohoho. Jadi ceritanya, orangtua saya baru saja pindah ke Batam bulan Juli ini. Nah saya sekalian ikut dengan harapan bisa menyeberang ke negeri tetangga, hehe.

Sebenarnya di negeri singa tersebut HP7 part 2 sudah diputar dari tanggal 14, tapi saya baru bisa ke sana tanggal 15. Jam 6 pagi, saya, ibu, sepupu, dan pacar saya berangkat naik feri dari pelabuhan Batam Centre. Sejam kemudian, tepatnya jam 8 waktu Singapura, kami pun sampai. Tujuan pertama: The Cathay! Ini dia barbuknya.

Begitu logo Warner Bros muncul di layar, saya terharu, buhuhu. Sayangnya ibu saya langsung merusak suasana haru dengan cekikan begitu melihat penampakan Griphook si goblin. Jadi ceritanya, ibu saya ikut nonton cuma buat nemenin saya, sebelumnya ga pernah nonton Harry Potter. Alhasil, sepanjang film ibu dan sepupu saya sering kali ketawa di scene-scene yang seharusnya mengharukan. Belum lagi pacar saya yang sempat ketiduran. Buhuhu.

Buat saya sendiri, filmnya lumayan bagus. Di awal terasa agak lambat. Bagian Gringotts dan naga terasa agak terlalu mudah. Lalu, ada scene di mana Voldemort memeluk Draco di hadapan seluruh sekolah dan Death Eater. Errr, that was awkward. Kemudian, dari gambaran di Pensieve, ada adegan Snape menangis dan memeluk Lily yang baru saja dibunuh. Entah kenapa saya agak sulit mencocokkannya dengan karakter Snape. Seandainya memang waktu itu Snape ada di TKP, sepertinya dia bukanlah orang yang lebay begitu. Satu lagi yang sempat jadi trending topic adalah Albus Severus Potter. Ganteng sih, tapi menurut saya tampangnya agak terlalu tua untuk anak laki-laki berusia 11 tahun. Dan terlihat terlalu cool juga untuk jadi anak yang gugup menghadapi hari pertama di Hogwarts. All in all, film ini jelas ga jelek, tapi juga ga sebegitu hebohnya.

Setelah menonton film ini, rasanya… biasa aja. Hehe. Ga ada perasaan “this is the end of my childhood” atau apa. I’ve never been a fan of the movies, kecuali mungkin HP7 part 1. Buat saya, kesedihan akan berakhirnya Harry Potter sudah terjadi bulan Juli 4 tahun yang lalu, ketika saya menutup halaman terakhir Harry Potter and the Deathly Hallows. Anyway, filmnya saya kasih nilai 7/10.

keluhan pagi

Sebagai orang yang sudah tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun, saya harap saya masih diizinkan berkata bahwa hidup di Jakarta itu memang sulit, huhu. Bukannya mau sok-sokan udah lupa dengan tanah asal, tapi beberapa minggu setelah sampai di sini, saya merasa agak, well, homesick. Bukan berarti saya sebegitu cintanya sama Malta (meskipun saat ini saya sedang memakai kaos I love Malta, huhu), sama sekali tidak.  Bukan berarti juga hidup saya sekarang jadi luar biasa sulit atau gimana. Hanya saja, tinggal di sini, I wonder if the result is worth the effort.

Habisannya… Buat keluar rumah aja, butuh perjuangan berat menempuh kemacetan di bawah langit yang kelabu karena polusi. And for what? Another day at a mall, shopping for more bags and shoes? Bekerja keras buat beli mobil yang bahkan nyaris tidak bisa bergerak di kota ini? Intinya, saya jadi mempertimbangkan opsi untuk tinggal di pedesaan saja dan beternak sapi dan ayam, huhu. Memang sih kalau tentang menjalani hidup, it’s more about how than where. Mau tinggal di manapun, kalau dijalani dengan akhlak yang baik, tentunya hidup akan lebih bermakna, tsah. It’s just that I’d rather do it in a place with less pressure.

Jadi kesimpulannya… saya harus berhenti mengeluh. Buhuhuhu.