Saya bukan orang yang suka keluar rumah di malam Minggu. Masa-masa SMA terlalu cepat berlalu. Tahu-tahu yang saya ingat sekarang, malam Minggu saya dulu tidak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, yang dihabiskan dengan belajar atau ikutan kuis trivia Harry Potter. Sampai kuliah pun kebiasaan ini masih bertahan. Di hari Sabtu, “jam malam” saya adalah jam 6 sore. Kalau sudah lewat jam segitu dan saya belum di rumah, biasanya orangtua saya resah. Tapi bahkan selama di Malta, tanpa orangtua yang mengharapkan kepulangan, saya masih tidak suka keluar malam.
Tentu saja every once in a while ada perkecualian. Pernah saya keluar malam Minggu ke Valletta, lupa untuk kepentingan apa. Berdesak-desakan di bus. Jalanan penuh orang merokok dan minum-minum. Pernah juga keluar saat New Year’s Eve, lagi-lagi ke Valletta. Nyaris ga bisa jalan saking ramenya. Masih juga bernuansa rokok dan minuman. Saya kapok.
Di Jakarta, setelah entah berapa tahun dihabiskan sebagai anak cupu yang ga pernah keluar rumah, akhirnya tadi malam saya keluar. Pertama, menuju tempat makan yang menjadi meeting point dengan teman-teman. Penuh. Pindah ke mall terdekat. Penuh juga. Saya masih suka heran, mall sebegitu banyak dan sebegitu besarnya, kok bisa penuh semuanya ya. Lebih heran lagi, melihat kepadatan dan kemacetan, kenapa orang-orang masih juga pergi ya?
Namun untungnya, di tengah-tengah kota yang semrawut ini, kita masih punya sekelompok orang yang cukup saleh untuk melakukan doa bersama. Dan bukan sekedar doa bersama, melainkan doa bersama yang digelar di jalan raya. Dengan menutup ruas jalan. Kalau ribuan pengendara mobil dan motor harus mencari jalan alternatif dan terjebak dalam kemacetan panjang selama berjam-jam, tentu saja itu bukan urusan mereka, Mereka kan sedang berdoa. Wow. Salut deh, plok plok plok.
Lain kali, I will just stay at home and read a book.