This post is one week late, but I’m back in Jakarta now. It’s weird, and rather boring, how everything is still in the very same condition as 9 months before. It feels like I never left this place.
I miss solitude.
Bus
adalah sarana transportasi umum paling top di Malta. Di saat negara-negara Eropa lainnya sudah mengimplementasikan metro, tram, dan kereta, Malta masih bertahan dengan bus kuning ini. Bus-bus ini biasanya dilengkapi atribut religi seperti salib raksasa atau patung Yesus, namun ada juga yang dilengkapi stiker ala Metro Mini seperti “True Love Never Dies”, wokwokwok. Busnya tidak berhenti di setiap halte, jadi kalau mau minta diberhentikan dari dalam, kita harus menarik tali yang terhubung dengan sebuah lonceng.
Kinnie
adalah soft drink asli Malta. Menurut situsnya, Kinnie adalah “… a unique tasting, alcohol-free, refreshing beverage. … made from bitter oranges and a variety of aromatic herbs”. Dari tampangnya, memang terlihat sangat menyegarkan untuk diminum di siang hari yang terik. Rasanya? Ga karuan.
Kelinci
beserta bumbu tertentu, adalah masakan khas Malta. Sebenarnya saya belum pernah mencoba kelinci sebagaimana yang dihidangkan di restoran-restoran sini karena kehalalannya yang tidak jelas. Namun, suatu waktu ketika mengunjungi bagian halal di sebuah supermarket, ada daging kelinci yang sudah dibumbuin dan siap dipanggang. Rasanya lumayan, agak mirip bebek.
Maltese Cross
adalah simbol nasional Malta yang tertera di koin 2 Euro. Sejarah lengkapnya bisa dilihat di sini. Baru beberapa hari yang lalu saya sadar bahwa itu sebenarnya gambar salib, tepatnya ketika mencari suvenir buat oleh-oleh. Dan ternyata, mencari suvenir yang ga mengandung simbol ini susah juga, sodara-sodara.
Mela
adalah suatu kata dalam bahasa Malta yang bebas ditempatkan di manapun dalam kalimat dan bisa diartikan apa saja. Mela, sebenarnya saya juga ga tau ejaan yang benarnya seperti apa.
Balkon
adalah salah satu ciri khas bangunan Malta. Biasanya agak condong ke depan dan dihiasi sulur-sulur tanaman. Menurut saya balkon-balkon ini terlihat cukup oke. Deretan balkon di Valletta, denger-denger, adalah deretan balkon terpanjang sedunia. Suatu pencapaian yang luar biasa bukan? Huhu.
Cerai
adalah isu paling hot di Malta. Hukum di Malta tidak mengizinkan adanya perceraian, jadi ada pihak-pihak yang memperjuangkan perubahan tentang hal ini. Sejak saya datang sampai akan pergi lagi, “divorce” adalah kata yang paling sering muncul (setelah menyisihkan semua function word) di buletin kampus dan email survey, hoho.
Berhubung blog ini sepertinya semakin terlengkabai dan buku sketsa saya lebih terlengkabai lagi, akhirnya kemarin ngubek-ngubek folder foto buat mencari pengingat objek yang bisa digambar. Dan untuk setiap gambar di post ini, tempat aslinya lebih bagus daripada yang tertangkap kamera, dan yang tertangkap kamera tentunya lebih bagus daripada yang tergambar, huhu. Ini adalah gambar Piazza San Marco di Venice.
Masih berlatar Venice, ini dia topeng-topengnya. Sebenarnya jenisnya lebih banyak dan lebih bagus, tapi entah kenapa yang tertangkap kamera saya waktu itu cuma yang begini-begini doang (alesan).
Edisi Paris, inilah Menara Eiffel yang terkenal itu, Hoho, aslinya lebih bagus kok, ga bengkok begitu, ada lampu kelap-kelipnya pula. Namun pastinya ga bagus buat dinaiki dengan tangga.
Kalau yang ini ceritanya Eiffel dari kejauhan. Sepertinya menggambar menara yang ga miring adalah tantangan berat.
Masa tinggal saya di sini rupanya tinggal 12 hari, wah tidak terasa cepat sekali waktu berlalu (tapi boong). Kalau mengingat rencana-rencana yang dibuat sebelum berangkat dulu, jadi merasa agak bersalah. Tentu saja karena sebagian besar diantaranya fail berat. Mari ditinjau.
Ah sudahlah.
Tadinya berencana pindah blog, tapi karena hambatan-hambatan sebagai berikut: