Archive for May 2011

liburan? jalan-jalan?

Saya baru saja kembali dari perjalanan ke Paris. Long story made short, I’m not that impressed, haha. Terdengar sombong? Hihi, abisannya saya sudah agak bosan dengan tipikal kota-kota Eropa yang isinya cuma kapel/gereja/katedral tua, monumen, air mancur, dan patung-patung vulgar. Singkat kata, saya ga pengen buru-buru kembali ke Paris. Kalaupun masih ada jodoh, mending ke Disneyland deh.

Semua ini jadi membuat saya bertanya-tanya liburan macam apa yang cocok buat saya. Dari jaman dulu, saya paling susah buat diajak liburan ke luar kota. Dan kalaupun berhasil diajak, biasanya saya cuma mendekam di kamar hotel sambil baca buku. Ya ya, saya orangnya memang ga asik T_T. Belakangan, saya mencoba menjadi sedikit lebih asik dengan menyambut baik tiap kesempatan jalan-jalan. It won’t hurt to try, dan bukankah ada begitu banyak tempat menarik di muka bumi ini? Tetap saja, mondar-mandir mengunjungi wahana turisme (yang kalau di Eropa sini bisa diartikan sebagai bangunan tua dan pepatungan) sampai kaki pegal dan kurang tidur bukanlah definisi saya tentang liburan.

Yah kalau ditanya liburan yang asik itu seperti apa, saya juga belum tau. Sejauh ini “liburan yang baik-baik saja” adalah yang dihabiskan di rumah sambil nonton film bagus, menggambar, membaca, dan ngeblog. Kalau boleh berandai-andai, liburan seharusnya relaxing. Mungkin mengunjungi tempat berpemandangan bagus lalu melukis (kaya bisa aja), mungkin mencoba suatu atraksi yang memacu adrenalin, mungkin melakukan road trip seperti yang di Elizabethtown. Atau bahkan mungkin sesederhana melihat padang rumput dan sapi dari jendela kereta yang nyaman. All in all, a holiday should be more than posing with a background of some old building which history you don’t even know (or want to know).

DSC01637

Oh, dan satu lagi hal yang tidak kalah penting dalam liburan: teman seperjalanan. Hati-hati dalam memilih teman :D Terlalu banyak orang tidak akan asik, karena semua orang pasti beda-beda maunya. Dan satu hal yang membuat perjalanan kemarin tidak asik adalah karena saya ga cocok dengan beberapa orang diantaranya, hihi. Lain kali lebih baik sendirian atau barengan teman Indo yang sudah dikenal bertahun-tahun ah.

buhuhu

Sekali-sekali mengeluh boleh dong.

Hari ini rasanya tidak karuan. Jadi sudah beberapa hari ini tubuh saya sepertinya agak melemah. Kurang bertenaga, kurang bersemangat. Huhu. Karena sedang mengidam-idamkan masakan Indonesia, akhirnya pagi ini saya masak gulai ayam. Lumayan enak dan gampang (terutama karena masaknya menggunakan bumbu siap pakai, haha). Habis itu, seperti biasa, belajar. Menjelang siang, kerinduan akan masakan Indonesia masih kurang terobati. Jadilah saya membuat marmer cake (sekali lagi pake adonan siap pakai). Begini tampangnya.

 

Nyatanya, makan dua potong saja sudah puas. Sisanya masih ada satu loyang minus dua potong, huhu. Sayangnya, hari saya masih jauh dari berakhir. Sudah belajar, sudah makan gulai, sudah makan kue, nyatanya masih jam 1 siang, zzz. Tentu saja seharusnya diisi dengan mempelajari kuliah lain dan mengerjakan PR lain, tapi otak saya rasanya sedang tumpul setumpul-tumpulnya. Nonton Udon, berhenti setelah 5 menit. Nonton Persepolis, berhenti juga setelah 5 menit. Nonton Adam, berhasil namatin, tapi merasa 2 jam terbuang sia-sia.

Huhu. Rasanya pengen tidur, tapi ga menemukan cerita pengantar tidur yang pas. Kesalahan terbesar saya pas berangkat ke sini adalah cuma bawa 1 buku berbahasa Indonesia: The Penderwicks. 5 buku lainnya berbahasa Inggris. Nyatanya, setelah 8 bulan membaca/mendengar/menulis/berbicara bahasa Inggris, membuka novel berbahasa Inggris agak-agak bikin pengen muntah. Literally. Sekarang, The Penderwicks sudah melekat di otak saya, lebih daripada ilmu manapun yang pernah saya pelajari, huhu. Sore ini saya ke perpustakaan dan toko buku kampus demi mencari buku seringan bulu yang ceritanya kira-kira bisa mendamaikan hati, tapi ga ada yang pas.

Buhuhu. Hari ini masih panjang. Isya masih 3 jam lagi. Tenggorokan sakit. Pengen baca Malory Towers. Pengen baca Surat untuk Raja.

Ah sudahlah. Apa mendingan nulis cerpen aja ya? Udah lama ga nulis cerpen lemah tentang kisah kasih remaja. Dulu itu adalah satu satu hobi saya kalau sedang galau, huhu.

Comino

Setelah hampir 8 bulan tinggal di Malta, baru kemarin saya jalan-jalan ke Comino, huhu. Comino adalah sebuah pulau tak berpenghuni di dekat pulau utama Malta. Panjang pulaunya cuma sekitar 2 km, tapi konon katanya pantainya indah sekali.

Jadi kemarin saya bersama teman-teman saya Farina dan Milos menyempatkan diri pergi ke sana.  Sebenernya bisa naik ferry turis dari Sliema, 30 eur untuk tur Gozo-Comino, tapi berhubung kami pelit dan katanya Gozo juga ga menarik, akhirnya memilih opsi yang lebih murah. Naik bus nomor 145 ke Cirkewwa (tiket 58 sen, lama perjalanan sekitar 45 menit), sambung ferry (tiket 10 eur bolak-balik, lama perjalanan sekitar 20 menit).

Dan sesampainya di sana… Subhanallah, memang bagus sekali sodara-sodara. Airnya jernih dan bersih. Berikut beberapa barang buktinya.

DSC01866 

DSC01873

DSC01874

DSC01883

DSC01887 

Sebelum menikmati pantai, saya dan teman-teman sepakat menjelajah pulaunya dulu. Awalnya sih masih menarik, tapi lama-lama cuma ada bebatuan doang T_T. Jadi saran saya buat yang mau ke Comino, tidak usah jalan-jalan di pulaunya, langsung nyebur saja ke laut.

Saya sendiri, berhubung ga bawa baju renang dari Indo dan ogah banget jadi satu-satunya orang yang nyebur dengan pakaian lengkap (padahal kalo di Indo mah normal-normal saja, huhu), tetap duduk di bebatuan ditemani buku The Penderwicks, MP3 player, dan sekotak brownies buatan sendiri, hoho. Teman-teman saya, entah kelewat sopan atau memang laper, memuji dan menikmati dengan lahap (yang sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, berhubung saya bikinnya dari adonan siap pakai, haha).

DSC01917

Kesimpulannya, acara jalan-jalan kemarin sangat memuaskan dan Comino sangat worth it untuk dikunjungi.

DSC01920

being the sister

If anyone could possibly imagine just how much I wanted to be home. The want to face today with an unfamiliar excitement, wearing kebaya and being the sister. Instead, this is just another Sunday for me. Walking around, taking the wrong bus, getting lost in some town.

I guess I should say congratulations. But it hurts like hell, the way things happen and I’m not there. And I wonder, when it’s time, if I’d see a man or a boy. Or a brother, as always, as if nothing ever changed since the days we were fighting over a remote control.

For too long I was out on my own
Everyday I spent trying to prove I could make it alone
It was fun hanging onto the moon, heading into the sun
But it's been too long
Now I want to come home

(Paul McCartney – Come Home)

kapan pulang?

Beberapa hari belakangan ini, kesibukan menggila. Seharusnya sibuknya sudah dimulai sejak kembali dari Eurotrip, tapi waktu itu saya tunduk pada kemalasan, yang sekarang saya sesali. Yang terjadi belakangan ini kurang lebih adalah sebagai berikut.

DSC01850

  1. Akhirnya nemu log perpustakaan jaman dulu. Saat ini saya lagi meminjam buku biografinya David Hilbert dari perpustakaan, terbitan tahun 1970. Ternyata di bagian belakang masih ada log yang mencatat nama dan alamat peminjamnya, mulai dari 1971. Ga penting emang, tapi saya suka, hehe.
  2. Tadinya saya berencana pulang lebih awal, mungkin sebelum Juni berakhir. Tapi sampai saat ini saya masih punya 4 PR (di mana salah satunya saya sama sekali ga ngerti harus ngapain), 4 ujian, dan 1 proyek yang bahkan belum dimulai sama sekali. Kapan pulangnyaaaaaa……
  3. Udara sudah menghangat sekarang, tapi bukan berarti saya kehabisan bahan keluhan. Jam tidur berkurang karena malamnya semakin singkat (dan masih akan terus menjadi lebih singkat). Emang paling pas di Indonesia deh, siang malam proporsinya pas.

Ah sudahlah, ngomel-ngomel doang jadinya, huhu.