Archive for April 2011

cerita Eurotrip

Malam ini, suasana hati saya tidak begitu baik. Mungkin karena baru saja pulang liburan dan harus kembali ke tumpukan PR. Mungkin karena habis berkumpul kembali dengan teman-teman semasa kuliah S1 dulu dan sekarang harus kembali sendirian di apartemen. Hua hua. Anyway. Jadinya, daripada bermuram durja, mending saya mengulas Eurotrip minggu lalu. Yah, bukan mengulas juga sih, karena ceritanya saya sedang malas, jadi pajang foto-foto saja ah, hihi. Untuk urusan cerita, saya percayakan pada Bu Mia. Foto yang akan saya pajang di sini sebenarnya subset dari yang saya pajang di Facebook, tapi tanpa saya di dalamnya, hoho.

 

1. Belanda

Tempat bertemu adalah Amsterdam. Saya rasa, selamanya kota ini akan mengingatkan saya pada insiden paspor hilang. Tapi berhubung saya sedang malas, tidak usahlah diceritakan, hehe. Intinya, meskipun jelas tidak jelek, sepertinya Amsterdam bukan tipe favorit saya. Mobil, tram, sepeda, pejalan kaki, semua serba semrawut, huhu. Dari sini, kami pun mengunjungi Keukenhof, yuhuu. Berikut adalah foto-foto edisi Belanda.

 

2. Belgia

Tujuan berikutnya: Brussels. Sekilas kota ini benar-benar mengingatkan saya pada kawasan Sudirman-Thamrin, yang artinya pemandangannya cuma gedung-gedung pencakar langit, huhu. Kabar bagusnya adalah, uang beasiswa saya berasal dari kota ini, hoho. Selain itu, ada toko Tintin juga. Jajan lumayan banyak, hoho.

 

3. Swiss

Saya suka Geneva! Ada danau besar di mana di tengahnya ada air mancur setinggi 140 meter, asik sekali. Selain itu, di pinggir danau ada taman-taman yang bersuasana damai.

 

4. Italia

Di Verona rombongan perjalanan kami reunian dulu dengan beberapa anak Fasilkom. Ngobrol dan foto-foto sampe lupa waktu, berujung lari-lari mengejar kereta Verona-Venice. Sungguh terharu rasanya ketika sampai di Venice (baru terharu besok paginya sih, pas sampe udah malem, ga liat apa-apa). Perkenalan pertama saya dengan Venice adalah lewat buku The Thief Lord-nya Cornelia Funke, salah satu buku favorit saya. Akhirnya saya bisa melihat Piazza San Marco dengan patung singanya, tempat Bo memberi makan burung-burung merpati, membayangkan kantor Victor yang berada di tepi kanal, jenis topeng yang dipakai Scipio (sungguh si Scipio Massimo ini sangat oke, masuk daftar fictional crush). Berhubung di sini banyak suvenir-suvenir bagus, saya belanja agak banyak, hehe.

 

 

 

Sekian ulasan Eurotrip pertama saya. Berikut adalah foto (sebagian) hasil belanjaan, hoho.

DSC01840

I wanna see your face and know I made it home

And instead of counting the days, I tried to enjoy what I have here: the sun, the wind, the smile of a stranger.

But all the same I miss you.

And I made a promise to myself to finally do all the things we have planned. A movie or a chocolate milkshake or a quiet evening. I would tell you about my friends and show you all the photos. You would tell me about the things I have missed during this long separation.

And I prayed to God we would meet again soon. As for now, I’m still painting flowers for you.

Happy birthday, dear Mother.

When I wake up, the dream isn’t done
I wanna see your face and know I made it home
If nothing is true, what more can I do?
I am still painting flowers for you

(All Time Low – Painting Flowers)

perpustakaan

Bukan maksud saya membanding-bandingkan Universitas Indonesia dan University of Malta, karena Indonesia adalah tanah air saya dan Universitas Indonesia tentunya punya tempat tersendiri di hati saya, yohoho. Oke, kalau ditinjau secara lebih serius, memang UI punya banyak nilai lebih dibanding UoM (tadi katanya ga mau ngebanding-bandingin? Huhu), baik dari segi area, konten kurikulum (setidaknya untuk CS), fasilitas, ketersediaan peminjaman sepedah (ini sih udah jelas ga ada di Malta), dll. Tapi… Perpustakaan tidak termasuk salah satu diantaranya.

Pepustakaan UoM hanya sedikit lebih besar daripada Pepustakaan Pusat UI (yang lama), tapi koleksinya jauh lebih lengkap dan memuaskan. Buku pelajaran lengkap, fiksi klasik juga banyak. Semester ini saya bahkan ga perlu beli buku pelajaran sama sekali karena semuanya tersedia di perpus, dalam keadaan bagus pula. Memang sih ada buku-buku yang dicoret-coret, tapi yaa itu sekitar 1 dari 10 buku lah. Dari segi pelayanan, di sini librarian-nya baik-baik banget. Satu lagi hal yang sangat berbeda adalah suasananya. Sebagaimana seharusnya perpustakaan, di sini sunyi sekali. Lantai 2 adalah tempat diskusi dan belajar bersama, tapi volumenya masih dalam batas wajar.

Meminjam buku di perpustakaan buat saya lebih preferable daripada men-download ebook-nya. Soalnya… yah kalau baca buku di laptop, pasti tiap sebentar diselingi dengan chatting dan browsing ga penting. Selain itu, ga bisa dibawa kemana-mana, mata gampang cape pula. Teman-teman saya di sini sih mengatasinya dengan ebook reader. Saya sendiri bukannya anti dengan ebook reader, melainkan hanya sekedar tidak bisa membayangkan di mana asiknya. Mungkin karena belum pernah mencoba. Jadi kalau ada yang berminat mengubah pandangan saya tentang ebook reader, silakan saya dibelikan biar bisa nyoba, hoho.

Oke, kembali ke masalah perpustakaan. Saya termasuk orang-orang yang menyambut baik dibangunnya Perpustakaan Pusat UI yang baru. Buat saya, perpustakaan adalah win-win-win solution buat meningkatkan minat baca, menghemat uang, dan menyelamatkan pohon. Jadi, saya senang ketika UI berinvestasi lewat perpustakaan instead of lapangan parkir, lapangan parkir, dan lapangan parkir. Tapi denger-denger ada gosip bahwa di perpus yang baru akan ada Cineplex segala. Semoga gosip hanya akan menjadi gosip, amin.

about working on assignments

Maybe I’ve been pushing myself a bit too hard lately. Maybe I just wanted to get things done, to finish earlier, to go home as soon as possible. Well, whatever the reasons are, the last few days do not work as expected. I started everything, but did not finish anything. I did try to enjoy what I was working on, but at times, it’s really depressing when your code does not work, or the book chapters that you need to read only seem to get thicker. Well, I know I shouldn’t take it too seriously, it’s *only* course assignments (beh, only). I mean, there’s more to life than those assignments that aren’t due until 2 months from now.

All of this reminds me of the times when I learn something just for the sake of fulfilling my curiosity, without the obligation to pass an exam or to follow more than what I care about. The time when, if I don’t understand a part, I can just skip it and move on to the exciting parts. There’s this very interesting book I’m reading now (borrowed from the library), that best describes what I feel about what learning is supposed to be:

Dirichlet, though, was more than happy to battle with one tough paragraph after another. At night he would place the book under his pillow in the hope that the next morning’s reading would suddenly make sense.

Marcus du Sautoy – The Music of the Primes

Maybe I just need a break. Maybe today I will close my text editor and shut down my computer, and read about prime numbers and place the book under my pillow.

menunggu waktunya offline

Postingan ini sebenarnya lebih ditujukan untuk mengisi waktu. Saat ini saya baru saja selesai makan malam dengan menu masakan andalan (Indomie kari ayam) dan sebenarnya ingin sekali offline dan mematikan komputer, tapi untuk suatu alasan tertentu saya masih harus berkutat di depan layar.

Oke, jadi sepertinya saya absen agak lama yah dari dunia per-blog-an? 10 hari, tergolong lama lah, huhu. Alasannya, kalau ada yang tertarik, adalah sebagai berikut:

  1. Kuliah pendek sudah dimulai dan berakhir. Ini tipe kuliah yang penyelenggarannya sejenis dengan Machine Translation. Hanya saja, kalau Machine Translation durasinya 4 minggu, yang ini 1,5 minggu. Nama kuliahnya adalah Finite State Machinery and Computational Morphology. Selain itu tidak ada yang cukup menarik untuk diceritakan.
  2. Banyak PR. Alasan klise mahasiswa. Dari 6 kuliah yang saya ambil di semester ini, semuanya berbuah tugas. Ya sudahlah.
  3. Kalau tidak sedang mengerjakan tugas, kerjaan saya adalah streaming YouTube buat nonton serial Korea Dream High. Saya suka deh serial ini. Mungkin bukan tipikal tontonan yang luar biasa cerdas, tapi cukup asik dan menghibur kok (terutama karena Song Sam Dong, yohoho).
  4. Daylight Time Saving mengacaukan jadwal saya, bah.

Itu saja. Tidur ah.