Archive for March 2011

inspirasi pagi

Sewaktu berolahraga sambil mendengarkan debur ombak pagi ini, saya jadi berpikir sendiri, betapa beruntungnya saya. Bisa ngeliat laut setiap hari, bisa menghirup udara bersih bebas polusi, ga perlu kena macet, materi cukup, punya apartemen sendiri yang bisa saya atur sesuka hati, dan masih banyak lagi. Hal terberat yang perlu saya pikirkan hanyalah tugas kuliah. Oke, mungkin bukan “hanya”, karena pada kenyataannya tugas kuliah bukannya tidak membuat stres. Hanya saja, kalau dipikir-pikir, sungguh saya punya begitu banyak hal untuk disyukuri.

Saat itu saya jadi teringat satu bagian dari The Catcher in the Rye, saat Holden menonton adiknya naik komidi putar sambil hujan-hujanan.

My hunting hat really gave me quite a lot of protection, in a way, but I got soaked anyway. I didn’t care, though. I felt so damn happy all of a sudden, the way old Phoebe kept going around and around. I was damn near bawling. I felt so damn happy, if you want to know the truth. I don’t know why. It was just that she looked so damn nice, the way she kept going around and around, in her blue coat and all. God, I wish you could’ve been there.

Holden Caulfield – The Catcher in the Rye

because we have a lot to discover

conversation in the class today:

A Maltese lecturer: (to me) you have wonderful food in Indonesia. (to the rest of the class) It was really good. I watched on Discovery Channel how they put so many spices in their food.

 

conversation in a restaurant with a Nepalese guy (a friend of my friend) right after the class:

Nepalese guy (NG): where are you from?
Me (M): Indonesia.
NG: oh, the beautiful Bali island
M: you’ve been there?
NG: no, I saw it on Discovery Channel.

 

Hmm, sepertinya Discovery Channel cukup ampuh dijadikan ajang promosi visit Indonesia.

lazy Sunday

So lately, I‘ve been spending most of my time facing a text editor or course books, thinking about a lot of things I want to write in this blog. Yet now when I have the time, I’m not really in the mood. I hope I don’t sound too much like Holden Caulfield.

It’s just, it’s raining outside and it’s Sunday and I don’t feel like doing anything.

Proyek MT

Proyek Machine Translation akhirnya kelar, lega rasanya. Jadi, proyek ini sudah berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Memangnya rencananya tadinya berapa lama? Seminggu, huhu. Saya sih memang dari awal ga percaya, bukan pesimis tapi realistis.

Anyway, kenyataannya sebulan lebih telah berlalu sejak proyek ini dimulai. Kenapa bisa begitu? Oke, satu hal yang saya ga sukai dari kuliah di Malta sini adalah deadline-nya yang ga jelas. Ga berlaku untuk semua kuliah sih, tapi sebagian besar. Misal dikasih deadline tanggal A. Kalau belum selesai tanggal segitu, ya bakal dikasih deadline baru. Satu, saya merasa hal itu ga fair. Saya udah kerja keras demi mengumpulkan tugas sebelum tenggat waktu, kok orang lain yang telat sebulan ga dikasih penalti apapun? Dua (dan inilah yang paling membebani dalam kasus proyek MT), buat saya deadline adalah titik waktu di mana setelah itu saya ga lagi harus memikirkan tugas yang bersangkutan. Tapi yang sering kali terjadi adalah, “saya beri lebih banyak waktu, kerjakan dengan lebih baik”. Kalau harus terus memperbaiki kerjaan, kapan bebasnya? Apalagi kalau kebetulan itu adalah mata kuliah yang ga begitu saya sukai; tentunya kesempurnaan bukanlah prioritas utama.

Oke, kembali ke MT. Jadi awalnya saya dan kelompok diberitahu bahwa deadline-nya akhir Februari. Kemudian berubah lagi jadi awal Maret. Akhirnya saya dan kelompok keburu bosan dengan proyek ini dan bikin deadline sendiri, yaitu weekend ini.

Awalnya semua bekerja dengan senang hati. Bikin plan, ketawa-ketawa, dll. Setelah beberapa lama, mulai muncul perkataan seperti, “when we finish this project, …”. Bagian titik-titik bisa diisi dengan ekspresi bebas yang menggambarkan kegiatan hura-hura. Lama-lama, karena keseringan ketemu, setiap orang setuju bahwa bagian titik-titik sebaiknya diisi dengan, “saya ingin menghabiskan waktu sendirian”. Ini satu hal yang saya suka di sini. Kalau di Indonesia dulu saya sering dicap sebagai orang aneh dan antisosial (yang tentu saja tidak benar. Anggap saja saya hanya sangat menyukai kesendirian, hehe), di sini semua sama anehnya dengan saya.

Setelah itu, masalah mulai bermunculan satu per satu. Tools yang ngasih error ga jelas, hasil yang ga sesuai harapan, kerja keras yang taunya ga kepake; semua itu memicu ketegangan yang berakhir pada situasi di mana ada anggota kelompok yang nangis, ada yang ngambek, ada juga yang tetap santai sambil pura-pura baca paper buat referensi padahal baca ebook Jane Austen. Yang terakhir itu saya tentunya, hihi.

Entahlah, saya rasa sebagian besar (kalau bukan semua) anggota kelompok saya yang lain belum terlalu terbiasa bekerja dalam kelompok untuk proyek yang bikin stres macam MT ini. Beberapa ada yang berlatarbelakang linguistik, di mana katanya sebagian besar tugasnya dilakukan secara individual. Bahkan mereka bilang sepertinya saya adalah satu-satunya yang selalu berada dalam mood yang baik selama proyek ini. Ironis sekali, di Indonesia mana ada yang bilang gitu, haha. Anyway, saya sendiri meyakini bahwa alasannya adalah karena saya kurang suka MT dan karenanya saya tidak terlalu peduli bagaimana hasilnya menolak dibuat stres oleh sesuatu yang tidak saya sukai. Selain itu, rasanya ini belum apa-apa deh dibanding kuliah di Fasilkom dulu, apalagi pas semester 6, di mana saya harus bolak-balik antara kelompok PPL, Anum, CIS, MSI, dan Grafkom.

----nostalgila dikit----

Bicara tentang kuliah di Fasilkom, jadi rindu masa-masa dahulu. Tiap hari dateng ke kampus buat ngerjain HEAVEN, makan di warteg Sasari, transfer donlotan film, ngerjain proyek Room of Relax (wakaka) buat Grafkom, duduk-duduk sambil berdiskusi di yuli. Di proyeknya pun sering kali diselipkan hal-hal ga penting, seperti bulu-bulu malaikat di presentasi HEAVEN dan splash screen paling menarik sedunia buat presentasi Image-Encryption CIS.

splashscreen

----nostalgila selesai----

Singkat kata, begitulah suka duka kerja kelompok pertama di belahan dunia Eropah. Sekarang, saya mau santai-santai dulu.

olahraga, ulang tahun, dan lain-lain

Setelah lima bulan lebih tinggal di sini, kemarin akhirnya saya berinisiatif untuk jalan pagi di pinggir laut. Atau lebih tepatnya, kemarin itu adalah pertama kalinya saya berolahraga di manapun dalam bentuk apapun. Pemicunya, tidak lain dan tidak bukan, adalah karena saya baru saja beli sepatu baru, hoho. Sebenarnya saya paling malas belanja sepatu, tapi sepatu lama saya sudah menyakitkan, jadi terpaksa deh. Tadinya mau beli sneakers, tapi rasanya kok percuma saja kalo dipake jalan jauh, bakal tetap kurang nyaman. Jadi bertanya-tanya, apa beli sepatu olahraga aja sekalian? Akhirnya saya beli dua-duanya, wokwokwok.

Anyway (kebanyakan cerita ga penting), kemarin berangkat dari rumah jam 6. Sesampainya di Gzira, udara masih dingin, jalanan masih sepi, ada beberapa orang yang lari pagi. Jalan terus sampe Sliema. Beginilah pemandangan matahari terbit dari sana. Mohon maap kalo fotonya jelek. Selain ga jago motret, ngambilnya juga cuma pake kamera hp.

03032011171Ternyata jalan pagi lumayan menyegarkan. Di jalan pulang mikir-mikir, kayanya enak kalo sampe rumah mandi air dingin lalu minum jus segar. Nyatanya, airnya masih sedingin es, sodara-sodara. Begitu kulit kepala tersentuh air, rasanya langsung pusing (tapi berhubung tanggung, ya lanjutin aja). Setelah itu, boro-boro minum jus, yang ada langsung selimutan di deket heater sambil minum susu cokelat panas.

Sepertinya dari tadi saya kebanyakan ngemeng-ngemeng tanpa tujuan. Jadi sebenarnya kemarin itu, ehem, saya ulang tahun, hoho. Rencana saya untuk hari ulang tahun yang sempurna adalah berdiam di rumah sambil baca Jane Austen dan nonton Harry Potter (beberapa hari ini saya sibuk nonton ulang Harry Potter, entah kenapa rasanya rindu), sambil berharap semoga oh semoga ga ada kumpul kelompok Machine Translation. Sayangnya, menjelang siang, disuruh kumpul kelompok di rumah Milos, bah. Sebenarnya saya sudah agak mencurigai keberadaan rencana surprais-surpraisan, tapi ga lucu juga kalo ternyata memang mau kerja kelompok dan saya ga bawa laptop, huhu. Jadi ini dia kejutannya: ada brownies bikinan Farina, Anna Karenina (beh, perjuangan nih), plus Nesquik cokelat, hehe. Ngajarin Mariya nyanyi Balonku, jalan kaki ke St Julians, overall it was fun.

DSC01087Tentang bertambahnya umur, yah, sepertinya saya tidak sedewasa umur saya. I still feel very passionate about dragons and fairy tales, still think that adults are boring people who don’t have imaginations (and afraid that someday I will become one of them), dan masih sering melarikan diri dari masalah (yang biasanya berupa pura-pura ga ngeliat kalo ketemu orang yang dikenal di jalan, karena tentu saja, malas basa-basi). Let me end this post with a quote from a movie I don’t like:

I always think that I’m still this 13-years-old boy who doesn’t really know how to be an adult

- Jesse (Before Sunrise)