Proyek Machine Translation akhirnya kelar, lega rasanya. Jadi, proyek ini sudah berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Memangnya rencananya tadinya berapa lama? Seminggu, huhu. Saya sih memang dari awal ga percaya, bukan pesimis tapi realistis.
Anyway, kenyataannya sebulan lebih telah berlalu sejak proyek ini dimulai. Kenapa bisa begitu? Oke, satu hal yang saya ga sukai dari kuliah di Malta sini adalah deadline-nya yang ga jelas. Ga berlaku untuk semua kuliah sih, tapi sebagian besar. Misal dikasih deadline tanggal A. Kalau belum selesai tanggal segitu, ya bakal dikasih deadline baru. Satu, saya merasa hal itu ga fair. Saya udah kerja keras demi mengumpulkan tugas sebelum tenggat waktu, kok orang lain yang telat sebulan ga dikasih penalti apapun? Dua (dan inilah yang paling membebani dalam kasus proyek MT), buat saya deadline adalah titik waktu di mana setelah itu saya ga lagi harus memikirkan tugas yang bersangkutan. Tapi yang sering kali terjadi adalah, “saya beri lebih banyak waktu, kerjakan dengan lebih baik”. Kalau harus terus memperbaiki kerjaan, kapan bebasnya? Apalagi kalau kebetulan itu adalah mata kuliah yang ga begitu saya sukai; tentunya kesempurnaan bukanlah prioritas utama.
Oke, kembali ke MT. Jadi awalnya saya dan kelompok diberitahu bahwa deadline-nya akhir Februari. Kemudian berubah lagi jadi awal Maret. Akhirnya saya dan kelompok keburu bosan dengan proyek ini dan bikin deadline sendiri, yaitu weekend ini.
Awalnya semua bekerja dengan senang hati. Bikin plan, ketawa-ketawa, dll. Setelah beberapa lama, mulai muncul perkataan seperti, “when we finish this project, …”. Bagian titik-titik bisa diisi dengan ekspresi bebas yang menggambarkan kegiatan hura-hura. Lama-lama, karena keseringan ketemu, setiap orang setuju bahwa bagian titik-titik sebaiknya diisi dengan, “saya ingin menghabiskan waktu sendirian”. Ini satu hal yang saya suka di sini. Kalau di Indonesia dulu saya sering dicap sebagai orang aneh dan antisosial (yang tentu saja tidak benar. Anggap saja saya hanya sangat menyukai kesendirian, hehe), di sini semua sama anehnya dengan saya.
Setelah itu, masalah mulai bermunculan satu per satu. Tools yang ngasih error ga jelas, hasil yang ga sesuai harapan, kerja keras yang taunya ga kepake; semua itu memicu ketegangan yang berakhir pada situasi di mana ada anggota kelompok yang nangis, ada yang ngambek, ada juga yang tetap santai sambil pura-pura baca paper buat referensi padahal baca ebook Jane Austen. Yang terakhir itu saya tentunya, hihi.
Entahlah, saya rasa sebagian besar (kalau bukan semua) anggota kelompok saya yang lain belum terlalu terbiasa bekerja dalam kelompok untuk proyek yang bikin stres macam MT ini. Beberapa ada yang berlatarbelakang linguistik, di mana katanya sebagian besar tugasnya dilakukan secara individual. Bahkan mereka bilang sepertinya saya adalah satu-satunya yang selalu berada dalam mood yang baik selama proyek ini. Ironis sekali, di Indonesia mana ada yang bilang gitu, haha. Anyway, saya sendiri meyakini bahwa alasannya adalah karena saya kurang suka MT dan karenanya saya tidak terlalu peduli bagaimana hasilnya menolak dibuat stres oleh sesuatu yang tidak saya sukai. Selain itu, rasanya ini belum apa-apa deh dibanding kuliah di Fasilkom dulu, apalagi pas semester 6, di mana saya harus bolak-balik antara kelompok PPL, Anum, CIS, MSI, dan Grafkom.
----nostalgila dikit----
Bicara tentang kuliah di Fasilkom, jadi rindu masa-masa dahulu. Tiap hari dateng ke kampus buat ngerjain HEAVEN, makan di warteg Sasari, transfer donlotan film, ngerjain proyek Room of Relax (wakaka) buat Grafkom, duduk-duduk sambil berdiskusi di yuli. Di proyeknya pun sering kali diselipkan hal-hal ga penting, seperti bulu-bulu malaikat di presentasi HEAVEN dan splash screen paling menarik sedunia buat presentasi Image-Encryption CIS.
----nostalgila selesai----
Singkat kata, begitulah suka duka kerja kelompok pertama di belahan dunia Eropah. Sekarang, saya mau santai-santai dulu.