Archive for February 2011

pembatas buku

Belakangan ini, saya sering multithreading dalam membaca buku. Penyebabnya bukanlah karena buku-buku tersebut sebegitu menariknya sampai saya ga sabar pengen baca semua. Sebaliknya, justru sangat membosankan sehingga saya terpaksa pindah-pindah buat cara suasana baru. Semua ini masih dalam rangka berhemat, di mana saya terpaksa meminjam buku-buku klasik di perpustakaan. Tapi ya itu tadi, buku-bukunya kalau ga bikin bosan, ya bikin depresi.

Anyway, masalah saya dengan membaca paralel adalah saya ga punya cukup banyak pembatas buku. Akhirnya siang ini menggambar dikit buat pembatas buku. Ini diambil dari cover Where The Sidewalks Ends-nya Shell Silverstein.

DSC01070 - Copy

Berikutnya diambil dari Where The Wild Things Are. Iseng-iseng nulis quote di belakangnya: inside all of us is fear. Inside all of us is adventure and inside all of us there’s a wild thing.DSC01071

Oke, ga penting emang. Lanjut ngerjain PR.

lain dulu lain sekarang

Berbicara pada diri sendiri.

Sebulan pertama

Udara dan langit: wah, udaranya enak, panas tapi anginnya bikin adem. Langitnya juga bersih dan cerah, kalo malem bisa ngeliat bintang bertebaran, bahkan bisa ngeliat sabuk Orion juga.

Penduduk: kyaa, orang-orang di sini baik-baik banget deh, tiap kali papasan disenyumin. Kalo belanja dilayanin dengan ramah. Kalo nyasar dibantuin nyari jalan.

Pemandangan: harus bawa kamera ke mana-mana nih! Bangunan tua dari batu kuning menarik sekali, kafe-kafe kecil di pinggir laut juga asik. Bikin daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi ah.

Kuliah: semangat belajar menggebu-gebu, daftar kuliah ini-itu, sit in di kelas sini-situ.

Makanan: aha senangnya, nemu toko daging halal, nemu restoran halal. Besok nyoba masak resep X ah, besoknya lagi enaknya nyoba resep Y, harus sedia bumbu Z di rumah…

Ngeliat kucing Malta: kyaa kucing di sini lucu sekali, gendut dan berbulu lebat. Kalo begini, saya ga benci kucing deh!

 

Setelah lima bulan

Udara dan langit: brr, dingin banget. Boro-boro ngeliat bintang, kalo udah malem ngumpet di balik selimut aja ah.

Penduduk: dasar orang Malta tukang ngaret!

Pemandangan: hmm, pemandangannya begini-begini doang, batu tua bulukan, suram (kamera tergeletak terlupakan).

Kuliah: sial, tugas banyak amat. Kenapa dulu gw pake daftar kuliah ini ya…

Makanan: chicken nugget, Nutella, tuna kalengan, yes they exist for a reason.

Ngeliat kucing: dasar tambun!

 

Manusia :)

Setelah beberapa lama, jadi terbiasa dengan segala sesuatu. Hal-hal yang sebenarnya, kalau direnungkan dengan baik, sungguh patut disyukuri, jadi terlihat biasa. Bahkan, jadi lebih sering kelihatan sisi jeleknya daripada sisi baiknya. Kadang-kadang kalau sedang merasa gundah dan bosan, saya mencoba mengingat kembali saat-saat saya pertama kali sampai di sini, bagaimana segala sesuatunya terasa begitu segar dan menarik, biar inget buat bersyukur :D  Karena bukankah keberadaan itu sendiri adalah sesuatu yang luar biasa?

I sat thinking how terribly sad it was that people are made in such a way that they get used to something as extraordinary as living. One day we suddenly take the fact that we exist for granted – and then, yes, then we don’t think about it any more until we are about to leave the world again.

- Jostein Gaarder (The Solitaire Mystery)

being the only student

Belakangan ini saya memang malas menulis blog. Salah satunya penyebabnya adalah beberapa hari yang lalu suasana hati saya sedang agak busuk. Sakit, kedinginan, banyak tugas, dan rindu rumah sukses membuat saya ga semangat hidup. Setelah suasana hati membaik, hari-hari saya didominasi kumpul kelompok untuk proyek Machine Translation, bah.

Jadi yang ingin saya ceritakan hari ini adalah, semester 2 sudah dimulai. Kalau di semester lalu saya mengambil beberapa kuliah yang sudah pernah saya pelajari, seperti Logic Programming dan TBA, kali ini ga ada stok kuliah santai-santai. Mari didaftar:

  1. Compilers. Kelas pagi + dosen bikin ngantuk = bah.
  2. Further Topics in Data Structures and Algorithm. Sejauh ini rasanya baik-baik saja (ya iyalah, baru sekali pertemuan), semoga selanjutnya tetap baik-baik saja.
  3. Functional Programming. Yang ini lumayan oke.
  4. Logic, Representation, and Inference. Ini kuliah yang seharusnya membuat saya sangat bersemangat. Ditambah lagi, tahun lalu kuliah ini diajar oleh Patrick Blackburn sendiri (aaaa). Nyatanya… Tahun ini diajar dosen tamu dari Swiss, yang sebenarnya ga buruk dalam mengajar, tapi tetap saja bukan Patrick Blackburn.
  5. HLST Project. Kuliah ini belum ketauan kapan munculnya. Semoga saja ga terlalu merepotkan.
  6. Finite State Machinery and Computational Morphology. Kuliah ini harusnya dimulai semester lalu, tapi taunya malah ditumpuk di semester ini. Berhubung ini sepertinya tipe kuliah singkat macam Machine Translation, saya jadi punya firasat buruk.
  7. Introduction to Bioinformatics. Kuliah ini sengaja saya sebut terakhir karena, ehem, karena siang ini saya mendapat email yang cukup mengejutkan dari dosennya. Annisa, you are the only student in the Bioinformatics course. We shall be meeting once a week to cover reading material and to assign coursework. BAGAIMANA MUNGKIN? Sungguh saya langsung kepikiran buat ngedrop, huhu. Ditambah lagi, sepertinya bebannya cukup berat. Tapi… entah kenapa rasanya seperti menyerah sebelum bertanding, huhu. Jadi ya sementara ini saya *terpaksa* datang dulu ke sesi kuliah privat and melihat apa yang akan terjadi selanjutnya (sok tabah, padahal dalem hati: aaaa, tidak!!).

Doakan saya selamat, sodara-sodara!

sakit

Ceritanya, saya sedang sakit. Dan yang paling saya inginkan saat ini adalah dikerok. Huhu.

ujian selesai, semester 1 belum selesai

Setelah dua minggu yang terasa sangat panjang, akhirnya siang ini ujian saya selesai, horeee! Dari 7 kuliah yang saya ambil, cuma 4 diantaranya yang ada ujiannya. Berikut rangkumannya.

  1. Corpora and Statistical Methods
    Sesuai namanya, kuliah ini kurang lebih tentang pemrosesan korpus (kumpulan teks) dengan metode statistik. Kalau kata teman saya, sesi kuliahnya seperti nonton film di bioskop, sementara sesi tutorialnya seperti pertemuan alcoholic anonymous. Tapi sebaiknya tidak saya ceritakan lebih jauh :P. Nah buat kuliah ini, bahannya buanyak banget, sodara-sodara. Ada 13 topik, di mana tiap topik dijelaskan dalam 2 file presentasi ppt, dan tiap file terdiri atas kurang lebih 40-50 halaman slide T_T.
    Ujiannya terdiri atas pilihan ganda dan uraian. Pilihan gandanya untungnya lumayan. Di bagian uraian, diminta memilih 2 dari 5 pertanyaan yang ada. Saya memilih tentang natural language generation dan language modeling, tapinya pake ngarang-ngarang dikit, hehe.
  2. Logic Programming
    Sebenarnya saya sudah pernah mengambil Logic Programming pas kuliah S1 dulu. Tapi karena LCT menuntut saya untuk mengambil kuliah di modul CS dasar, ya sudah terpaksa ambil lagi. Kalau dibandingkan sama yang diajar Pak Ari dulu, kuliah yang di sini bisa dibilang basic banget (wakaka, sombong).
    Pas ujian, bisa dibilang saya kurang persiapan karena sebelumnya ketagihan baca komik T_T. Alhasil, ada satu pertanyaan yang menghabiskan waktu saya selama lebih dari sejam. Itu pun ga nemu jawabannya karena waktu keburu habis. Even worse, pas sampe rumah saya iseng nyari jawaban ujiannya (iseng membawa derita). Ternyata ada satu pertanyaan di mana saya ga teliti dan membuat kesalahan bodoh T_T.
  3. Formal Languages and Automata
    Ini juga sudah pernah saya ambil di kuliah S1 dan lagi-lagi, terpaksa saya ambil demi mencukupi kebutuhan modul CS. Karena handout kuliah ini bisa dibilang sangat suram dan membosankan, akhirnya saya belajar pake slide TBA dari Pak Stef.
    Ujiannya, saya heran sendiri, sungguh gampang. Tidak, bukan sombong, karena yang lain juga bilang begitu dan pada keluar ruangan ujian dalam waktu yang sangat singkat. Saya sampe ngecek beberapa kali, jangan-jangan ada jebakan, hehe. Yah sebenernya kesel juga sih. Udah belajar sampe PDA, konversi CFG ke PDA dan sebaliknya, pembuktian, dll, eh taunya yang ditanyain cuma seputar regular expression dan finite state automata. Tapi tetep aja, pas sampe rumah saya baru sadar lagi-lagi saya membuat kesalahan bodoh.
  4. Machine Learning, Expert System, and Fuzzy Logic
    Kuliah ini diajar dua dosen, sebut saja dosen A dan dosen B. Kalau sedang diajar dosen A, kelas ini sangat menarik. Tapi kalau giliran dosen B, siap-siap tidur aja di kelas.
    Ujiannya juga dibagi jadi dua bagian, sesuai bahan yang diajar masing-masing dosen. Di bagian dosen A, disuruh memilih 2 dari 3 topik yang ada: tentang konsep dan kategori, tentang filosofi di balik machine learning, dan tentang clustering. Saya memilih 2 topik terakhir. Alhamdulillah kayanya cukup lancar di sini. Di bagian dosen B juga disuruh memilih 2 dari 3 topik: expert system, knowledge representation, dan fuzzy logic. Berhubung saya ga tau apa-apa tentang expert system (selain eksistensinya), saya pilih 2 topik terakhir. Di pertanyaan tentang knowledge representation, disuruh “explain in detail”. Huh, apa-apaan nih, ga jelas banget. Ya sudah akhirnya saya tulis semua yang saya tau. Ketika sadar, ternyata sudah 3 halaman penuh dan 45 menit berlalu untuk satu nomor saja. Ups, saya harap itu cukup mendetail, Pak.

Yah, begitulah ujian saya. Ironisnya, saya malah kurang teliti di kuliah-kuliah yang sudah pernah saya ambil (dan jadi asisten dosen juga, doh). Tapi semoga selamat deh. Sekarang ini, saatnya berhura-hura.

Hanya untuk malam ini tapinya, haha.

Hari Selasa minggu depan masih ada presentasi Seminar, hal yang saya takutkan lebih daripada semua ujian itu digabung jadi satu T_T. Lalu masih ada literature review untuk Seminar, proyek kelompok Machine Translation (bah), dan proyek individu Corpora and Statistical Methods. Untungnya tugas akhir Semantics sudah selesai. Malam ini, santai-santai dulu nonton film ah.

log peminjaman

Saya bukan orang yang suka meminjam buku dari perpustakaan. Mungkin karena saya lebih suka memiliki daripada meminjam, hehe. Tapi beberapa waktu belakangan ini, saya sadar bahwa sepertinya tidak bijaksana untuk terus membeli buku. Sebagian besar karena alasan ekonomi, sebagian lagi karena bukunya juga tidak bisa saya bawa pulang semuanya.

Akhirnya, saya menyempatkan diri menengok koleksi fiksi di perpustakaan universitas. Sebenarnya sudah lama hal ini ingin saya lakukan, tapi ada masalah: saya tidak mengenal sistem klasifikasinya. Masalah yang bisa diselesaikan dalam sekejap dengan bertanya, tentu saja, tapi males, wokwokwok. Singkat kata, saya hanya mengenal satu sistem klasifikasi, yaitu Dewey Decimal Classification, seperti yang diterapkan di Perpustakaan Pusat UI. Sayangnya, di sini sistemnya berbeda. Tapi ternyata hanya butuh browsing sedikit di situs perpustakaannya untuk tahu bahwa di sini menggunakan sistem klasifikasi Library of Congress. Sip, langsung berburu.

Satu hal yang saya suka dari buku perpustakaan adalah log peminjamannya. Buku pertama yang saya pinjam adalah Laws of Thought. Wokwokwok, gaya-gayaan doang minjem bukunya George Boole, padahal baru beberapa halaman langsung nyerah. Meski demikian, paling tidak log peminjamannya cukup menarik. Bukunya masuk ke perpustakaan tahun 1954, pertama kali dpinjam tahun 1966, dan saya adalah orang pertama yang meminjam buku ini dalam selang waktu 18 tahun terakhir :D.

DSC01031

Kenapa saya begitu tertarik dengan log peminjaman? Well, sebagian besar karena film Whisper of the Heart. Kalau belum pernah nonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Satu film terbaik Studio Ghibli, menurut saya. Ceritanya tentang gadis bernama Shizuku yang hobi membaca. Satu hari Shizuku menyadari bahwa setiap buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sebelumnya sudah pernah dipinjam oleh nama yang sama. Sangat menarik. Sayangnya di sini log-nya hanya berupa tanggal tanpa nama :D.

woth

Anyway, karena niat membaca buku yang agak berbobot gagal total, akhirnya hari ini saya meminjam fiksi: 1984, The Picture of Dorian Gray, dan Cryptonomicon. Buku terakhir saya temukan dalam keadaan masih sangat bagus bersama teman-temannya dari penulis yang sama. Ternyata semua dibeli di toko buku Mireva di letaknya tepat di seberang universitas (ada stikernya soalnya). Sip, cuma pindah beberapa meter, jadi bisa berhemat belasan euro. Satu lagi hal yang menyenangkan dari meminjam buku di perpustakaan sini adalah jangka waktunya yang panjang. Berkat status sebagai Master student, saya bisa meminjam 6 buku dengan masa peminjaman 3 bulan, yippi. Bisa-bisa ga bakal beli buku lagi nih.

buku-buku yang mencerahkan dunia akademis

Sebenarnya sudah agak lama saya ingin menulis, tapi ditahan-tahan atas alasan yang sangat mulia, yaitu belajar buat ujian. Yah, biasanya belajarnya juga cuma bertahan selama beberapa jam sih, setelah itu rasanya otak terlalu cape untuk membaca atau menulis, jadi niat mulia saya berakhir dengan menonton. Tapi berhubung belakangan ini saya merasa film-film makin busuk saja dan menyesali waktu dua jam yang terbuang dalam kebusukan, di sinilah saya pada akhirnya: berceloteh tidak penting.

Satu hal yang saya sadari selama masa pembelajaran intensif menjelang ujian ini adalah: sesungguhnya banyak bahan kuliah saya yang menarik. Well, I don’t know if it’s just me, or the teachers always find a way to make interesting stuff boring :D. Yang membangkitkan kesadaran saya sama sekali bukan slide kuliah tentunya, melainkan graphic novel Logicomix di postingan saya sebelumnya. Saya rasa semua ini membuktikan satu hal: when things get boring, a good book always comes to rescue. Mari kita tilik beberapa buku yang telah membuat kuliah saya menjadi lebih menarik.

 

A Beautiful Mind - Sylvia Nasar

Buku ini adalah biografi John Forbes Nash, Jr., yang kemudian diangkat menjadi film berjudul sama. Saya membaca buku ini di masa-masa awal kuliah di Fasilkom, sama sekali tidak menduga buku ini akan ada hubungannya dengan kuliah (karena tentu saja kalau tahu, kecil kemungkinannya akan saya baca). Saat itu, seperti kebanyakan mahasiswa baru Fasilkom lainnya, saya merasa salah jurusan karena yah, waktu itu rasanya kuliahnya sulit minta ampun. Saat membaca buku ini, saya berkenalan dengan beberapa hal/nama yang disebutkan juga di kuliah, seperti number theory, game theory, John McCarthy, John von Neumann, dan lain-lain. Praktis saat number theory dijelaskan di kelas Matematika Diskrit, kuliah di Fasilkom jadi terasa jauh lebih menarik. Sampai sekarang MD adalah kuliah favorit saya.

Bukunya sendiri bisa dibilang lumayan. Ada beberapa bagian yang terasa agak memusingkan (urusan manifold dll) dan membosankan (urusan skizofrenia dll), jadi bacanya di-skimming saja :D. Terlepas dari itu, saya lumayan suka buku ini. Bayangan akan Nash melihat Einstein berjalan-jalan di sekitar Princeton di masa senjanya, entah kenapa bikin merinding, hehe.

 

Representation and Inference for Natural Language – Blackburn & Bos

Bisa dibilang ini adalah buku yang mengubah karir saya :D (atau dengan kata lain, menjerumuskan saya ke dalam dunia komputasi bahasa). Selepas dari Fasilkom, saya luntang-lantung sebelum akhirnya memutuskan untuk melamar jadi asisten riset dan mencoba daftar EMCL. Sayangnya, segera setelah keputusan tersebut diambil, dapet kabar bahwa tahun itu EMCL tidak lagi ditunjang uang jajan dari EU. Jadilah saya luntang-lantung lagi tidak tahu mau daftar apa. Untungnya, riset saya yang baru dimulai itu ternyata berhubungan dengan computational semantics seperti yang diceritakan oleh Blackburn dan Bos ini. Jadilah saya memutuskan untuk tertarik dan nekad mendaftar LCT. Karir riset saya tidak berjalan mulus (aduh masih merasa bersalah), tapi alhamdulillah aplikasi saya diterima. Dan di sinilah saya pada akhirnya, EM LCT 2010 :D.

 

Logicomix - Apostolos Doxiadis & Christos Papadimitriou

Sudah ada satu postingan khusus untuk buku ini, jadi saya tidak akan berbicara banyak. Yang pasti, buku ini telah memutarbalikkan posisi kuliah Semantics (di mana kehadiran saya di kelas bisa dihitung dengan jari tangan kanan, atau kiri juga boleh) menjadi kuliah favorit saya di sini.

 

Dunia Sophie – Jostein Gaarder

Sebenarnya sudah lamaaaaa sekali sejak saya baca buku ini dan sejujurnya saya tidak terlalu menikmatinya. Saya akui, sebagai sejarah filosofi terselubung, buku ini sangatlah menarik, but it’s just not my cup of coffee. Waktu itu rasanya terlalu pusing untuk mengikuti pandangan filsuf-filsuf yang saling bertentangan. Ditambah lagi, terjemahan bahasa Indonesianya tidak terlalu ramah untuk pembaca, hehe. Tapi di kelas Machine Learning, saya belajar sedikit tentang filosofi dan mengenali nama-nama rasionalis (seperti Descartes) dan empirisis (seperti Locke dan Berkeley) yang pernah saya baca di buku ini. Jadinya yah, terasa seperti reunian dengan karakter buku, hehe.

 

Sekian dulu. Bisa dilihat kan, dari 4 buku yang membuat dunia akademis saya menjadi lebih cerah, 3 diantaranya adalah buku nonakademis. Jadi, pelajaran bisa didapat dari buku manapun, termasuk fiksi (dan maksud dari kalimat ini adalah pembenaran untuk membaca novel sebelum ujian).