Sebenarnya sudah agak lama saya ingin menulis, tapi ditahan-tahan atas alasan yang sangat mulia, yaitu belajar buat ujian. Yah, biasanya belajarnya juga cuma bertahan selama beberapa jam sih, setelah itu rasanya otak terlalu cape untuk membaca atau menulis, jadi niat mulia saya berakhir dengan menonton. Tapi berhubung belakangan ini saya merasa film-film makin busuk saja dan menyesali waktu dua jam yang terbuang dalam kebusukan, di sinilah saya pada akhirnya: berceloteh tidak penting.
Satu hal yang saya sadari selama masa pembelajaran intensif menjelang ujian ini adalah: sesungguhnya banyak bahan kuliah saya yang menarik. Well, I don’t know if it’s just me, or the teachers always find a way to make interesting stuff boring :D. Yang membangkitkan kesadaran saya sama sekali bukan slide kuliah tentunya, melainkan graphic novel Logicomix di postingan saya sebelumnya. Saya rasa semua ini membuktikan satu hal: when things get boring, a good book always comes to rescue. Mari kita tilik beberapa buku yang telah membuat kuliah saya menjadi lebih menarik.
A Beautiful Mind - Sylvia Nasar
Buku ini adalah biografi John Forbes Nash, Jr., yang kemudian diangkat menjadi film berjudul sama. Saya membaca buku ini di masa-masa awal kuliah di Fasilkom, sama sekali tidak menduga buku ini akan ada hubungannya dengan kuliah (karena tentu saja kalau tahu, kecil kemungkinannya akan saya baca). Saat itu, seperti kebanyakan mahasiswa baru Fasilkom lainnya, saya merasa salah jurusan karena yah, waktu itu rasanya kuliahnya sulit minta ampun. Saat membaca buku ini, saya berkenalan dengan beberapa hal/nama yang disebutkan juga di kuliah, seperti number theory, game theory, John McCarthy, John von Neumann, dan lain-lain. Praktis saat number theory dijelaskan di kelas Matematika Diskrit, kuliah di Fasilkom jadi terasa jauh lebih menarik. Sampai sekarang MD adalah kuliah favorit saya.
Bukunya sendiri bisa dibilang lumayan. Ada beberapa bagian yang terasa agak memusingkan (urusan manifold dll) dan membosankan (urusan skizofrenia dll), jadi bacanya di-skimming saja :D. Terlepas dari itu, saya lumayan suka buku ini. Bayangan akan Nash melihat Einstein berjalan-jalan di sekitar Princeton di masa senjanya, entah kenapa bikin merinding, hehe.
Representation and Inference for Natural Language – Blackburn & Bos
Bisa dibilang ini adalah buku yang mengubah karir saya :D (atau dengan kata lain, menjerumuskan saya ke dalam dunia komputasi bahasa). Selepas dari Fasilkom, saya luntang-lantung sebelum akhirnya memutuskan untuk melamar jadi asisten riset dan mencoba daftar EMCL. Sayangnya, segera setelah keputusan tersebut diambil, dapet kabar bahwa tahun itu EMCL tidak lagi ditunjang uang jajan dari EU. Jadilah saya luntang-lantung lagi tidak tahu mau daftar apa. Untungnya, riset saya yang baru dimulai itu ternyata berhubungan dengan computational semantics seperti yang diceritakan oleh Blackburn dan Bos ini. Jadilah saya memutuskan untuk tertarik dan nekad mendaftar LCT. Karir riset saya tidak berjalan mulus (aduh masih merasa bersalah), tapi alhamdulillah aplikasi saya diterima. Dan di sinilah saya pada akhirnya, EM LCT 2010 :D.
Logicomix - Apostolos Doxiadis & Christos Papadimitriou
Sudah ada satu postingan khusus untuk buku ini, jadi saya tidak akan berbicara banyak. Yang pasti, buku ini telah memutarbalikkan posisi kuliah Semantics (di mana kehadiran saya di kelas bisa dihitung dengan jari tangan kanan, atau kiri juga boleh) menjadi kuliah favorit saya di sini.
Dunia Sophie – Jostein Gaarder
Sebenarnya sudah lamaaaaa sekali sejak saya baca buku ini dan sejujurnya saya tidak terlalu menikmatinya. Saya akui, sebagai sejarah filosofi terselubung, buku ini sangatlah menarik, but it’s just not my cup of coffee. Waktu itu rasanya terlalu pusing untuk mengikuti pandangan filsuf-filsuf yang saling bertentangan. Ditambah lagi, terjemahan bahasa Indonesianya tidak terlalu ramah untuk pembaca, hehe. Tapi di kelas Machine Learning, saya belajar sedikit tentang filosofi dan mengenali nama-nama rasionalis (seperti Descartes) dan empirisis (seperti Locke dan Berkeley) yang pernah saya baca di buku ini. Jadinya yah, terasa seperti reunian dengan karakter buku, hehe.
Sekian dulu. Bisa dilihat kan, dari 4 buku yang membuat dunia akademis saya menjadi lebih cerah, 3 diantaranya adalah buku nonakademis. Jadi, pelajaran bisa didapat dari buku manapun, termasuk fiksi (dan maksud dari kalimat ini adalah pembenaran untuk membaca novel sebelum ujian).