Archive for January 2011

Logicomix: An Epic Search for Truth

logicomix

Judul: Logicomix – An Epic Search for Truth
Penulis: Apostolos Doxiadis, Christos Papadimitriou
Nilai: 5/5

Pertama kali saya mendengar tentang buku ini adalah lewat rekomendasi dosen saya di kelas Formal Languages and Automata. Waktu itu saya langsung lupa, sampai kira-kira seminggu yang lalu tanpa sengaja saya sampai ke halaman review buku ini di Goodreads. Meskipun judulnya lagi minggu ujian, saya pun nekad meninggalkan catatan kuliah dan mulai membaca buku ini. Ternyata oh ternyata, saya tidak bisa berhenti membaca, malah berdalih bahwa karena sama-sama memiliki substring logic, membaca Logicomix bisa dianggap sebagai persiapan menjelang ujian Logic Programming (meskipun tentu saja tidak. Kita lihat saja nanti berapa nilai ujian saya yang kurang persiapan T_T).

Oke, jadi graphic novel ini bercerita tentang tokoh-tokoh/sejarah dalam mencari “kebenaran”. Kisahnya disampaikan melalui sudut pandang seorang filsuf, Bertrand Russell. Di salah satu kuliahnya, Russell berkisah tentang karirnya sebagai filsuf/matematikawan/logician. Nah kita tahu kan dalam matematika, ada yang namanya aksioma (istilah bahasa Inggrisnya: axiom), yaitu pernyataan-pernyataan yang sudah pasti benar tanpa perlu dibuktikan lagi. Kurang lebih yang dipertanyakan di sini adalah, dari mana kita bisa tahu bahwa aksioma-aksioma itu sudah pasti benar? Inilah yang membawa kita pada filosofi. Ada beberapa pendapat mengenai foundations of mathematics. Russell berpendapat bahwa matematika berakar dari logic.

Untitled

Satu hal yang perlu dicatat, ini adalah buku fiksi. Meskipun sebagian besar tokoh dan penemuannya sama dengan kehidupan nyata, beberapa kejadian sengaja dibuat untuk memperlancar narasi. Di akhir buku ada tokoh penjelasan lebih lanjut mengenai tokoh-tokoh dan teorinya.

Bagi saya, yang membuat buku ini menarik adalah karena saya merasa familiar dengan nama-nama seperti Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, Gottlob Frege, Kurt Gödel, Georg Cantor dari kuliah Semantics atau Teori Bahasa dan Automata. Sementara untuk beberapa penjelasan filosofis yang disebutkan, saya sama sekali tidak menganggap diri saya kompeten untuk mengambil pihak manapun, hehe. Saya menikmati buku ini dari sisi sejarahnya, sebagai pembaca dan pengamat, bukan sebagai pihak yang ingin terlibat dalam diskusi filosofis. Overall, Logicomix adalah bacaan yang sangat menarik, sebuah fiksi yang membuat saya penasaran akan fakta sebenarnya. Seandainya saja kuliah Semantics sama menariknya dengan graphic novel ini…

edisi belajar

Ini adalah suasana di sekitar sofa saya beberapa malam yang lalu.

DSC01019 Ini adalah gambar orang rajin (bukan saya tentunya).

DSC01014

if anything can go wrong, then it will

DSC01003My first exam, Corpora and Statistical Methods, is on next Tuesday. I used to like exams. There’s something about studying together until the last minutes, sharing pages of notes and anxiety, that made exams, well, fun. Mostly because to me they were like that tunnel with a small light at the end of it. You just need to go through it, and once it ends, say hello to the bright sun. No need to worry about the results.

Here, however, exam weeks feel like an anticlimax. Not only that my exams are spread in such a loooong period (when all I want is just to get them done), but also the fact that this semester does not end with them. Oh no, I still have tons of assignments due until the end of February. And even more interesting, semester 2 begins right after the exams over, i.e. the start of February. Well, you may have deduced that we don’t have recess between semesters here.

Not that I’m complaining about it. I’m completely fine with not having a holiday. After all, there is no obligation to attend the lectures, so I can have holiday anytime by skipping classes. Not that I will do it, though (skipping classes for a holiday, I mean. Not skipping classes in general XP). Well what bothers me is the fact that finishing exams won’t make me feel that relieved.

But I’m not going to be relieved at all if I don’t prepare myself well. Speaking about preparations, there’s no such thing as Kuncung sitting together in a bench and laughing over Murphy’s Law like before Project Management exam. I miss those days. But as Murphy said, if anything can go wrong, then it will. So I better start studying now.

The Princess Bride

princess_brideSewaktu berkelana di IMDB mencari film yang menarik buat ditonton, saya sama sekali tidak menyangka film yang direkomendasikan ternyata akan menjadi salah satu film favorit saya. The Princess Bride adalah film tahun 1987, yang artinya saya telat banget. Tapi meskipun usianya lebih tua setahun daripada saya, film bagus akan tetap bagus sepanjang masa.

Ini adalah dongeng klasik. Untuk kaum adam, film ini mungkin terlihat luar biasa payah. Untuk mereka yang sok dewasa, film ini mungkin terlihat kekanak-kanakan. Untuk saya, film ini perfect. Saking sukanya, setelah menonton filmnya saya memutuskan untuk baca ebooknya (berhubung saya ragu bisa menemukan bukunya di dunia nyata). Saya ga suka baca ebook, terutama untuk genre fiksi (kalau ebook buat kuliah sih apa boleh buat). Satu-satunya ebook yang pernah saya tamatkan adalah The Princess Daries #10: Forever Princess, wokwokwok. The Princess Bride sukses menjadi ebook kedua yang saya tamatkan. Ternyata filmnya sangat setia dengan bukunya.

The-Princess-Bride

Dari tadi hanya memuji-muji, saya belum menjelaskan kisahnya. Well, it has all the best things a story can tell. Fencing. Fighting. Torture. Poison. True love. Hate. Revenge. Giants. Hunters. Bad men. Good men. Beautifulest ladies. Snakes. Spiders. Beasts of all natures and descriptions. Pain. Death. Brave men. Coward men. Strongest men. Chases. Escapes. Lies. Truths. Passion. Miracles.

The Ring of Solomon

bart

Judul: The Ring of Solomon (A Bartimaeus Novel)
Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: Doubleday
Nilai: 3/5

Kisah ini bermula di masa pemerintahan Solomon di Jerusalem. Saat itu Solomon tengah mencapai puncak kejayaannya berkat cincin sakti yang kabarnya bisa mengabulkan setiap permintaan. Dalam pemerintahannya, Solomon memiliki tiga belas penyihir bawahan. Salah satu dari penyihir-penyihir ini, Khaba, adalah masternya Bartimaeus.

Semua jin bawahan Khaba ditugaskan untuk membangun kuil. Pada masa itu, jin diharuskan untuk mengambil wujud sebagai manusia, tidak boleh ada aksesori aneh-aneh seperti tanduk dan lain-lain. Tapi dasar para jin suka ngelunjak, mereka pun mengambil wujud aneh-aneh saat ga ada yang mengawasi. Suatu hari Solomon kebetulan memonitor, semua jin pun meninggalkan aksesori gaib dan kembali ke wujud manusia. Semua jin kecuali Bartimaeus. Saat Solomon lewat, dia masih berwujud badak dan sedang menyanyikan lagu tentang kehidupan pribadi Solomon. Sebagai hukuman, Bartimaeus dan semua jin bawahan Khaba dikirim ke padang pasir untuk memantau bandit.

Di padang pasir inilah Bartimaeus bertemu Asmira, gadis yang ditugaskan oleh Ratu Sheba untuk membunuh dan merebut cincin Solomon. Bartimaeus jadi terjerumus masalah (lebih jauh lagi) ketika posisi masternya berpindah tangan dari Khaba ke Asmira. Terikat untuk membantu Asmira dalam misi gila membunuh Solomon, Bartimaeus harus menembus pasukan jin penjaga, dikejar-kejar marid, dan berhadapan dengan spirit berkekuatan besar.

Barty, menurut saya, masih kocak seperti biasa. Kehadiran Faquarl juga lumayan bikin seru, terutama karena di sini mereka belum musuhan. Dari segi cerita, ya bisa dibilang cenderung simpel, konfliknya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan triloginya. Overall, buku ini lumayan okelah untuk mengobati kerinduan terhadap Barty.

Cursed spirit! The king asked you a question!

Yes, yes, I was getting to that. And a cracking question it was. Beautifully put. Succinct. Probing… What was it again?

the way sadness works is one of the strangest riddles of the world

DSC00991

- Lemony Snicket

suara dari Jakarta

Ah, judulnya memang agak melambai. Jadi intinya begini. Setelah hampir empat bulan berada di sini, entah kenapa baru kepikiran sekarang buat streaming radio Jakarta, duh. Sebelumnya kalau sedang bosan dengan koleksi musik di laptop, biasanya saya streaming stasiun radio gaib. Nah beberapa hari yang lalu, untungnya saya teringat bahwa teknologi sekarang sudah sedemikian canggihnya untuk memungkinkan saya mendengarkan siaran radio di kampung halaman.

Stasiun radio pilihan saya tentu saja U FM (huh dibayar berapa saya buat ngiklan). Beda waktu enam jam dengan Jakarta terasa menguntungkan, karena sore-sore begini biasanya sudah tidak ada lagi penyiarnya, tinggal lagu-lagunya doang. Sempurna untuk menemani belajar.

Ngomong-ngomong tentang belajar…

<pura-pura serius>

Sorry for being such a complainer in the last few posts. Menyadari akses dan fasilitas yang saya miliki sekarang, rasanya tidak pantas untuk mengeluh dan bukannya memanfaatkannya sebaik mungkin. Tentu saja saya masih pemalas, tentu saja saya masih suka menunda-nunda mengerjakan tugas yang perlu pemikiran filosofis atau perangkaian kata tingkat tinggi. But now that I think of it, computational linguistics is all right. There’s no use in wondering if this is what I want to do, not now. I’ve never been a person who plans too far for the future and maybe it’s better not to start being one. At least for now.

</pura-pura serius>

Jadi perbedaan jam rupanya juga tidak terlalu menguntungkan dalam hal streaming radio, karena barusan siaran di U FM juga sudah habis. Saatnya belajar dalam kesunyian, kalau begitu? Tapi sebelumnya saya harus menyudahi postingan ini dulu. Sejujurnya belakangan ini saya merasa kehilangan kata-kata. Entah kenapa sepertinya bahasa tidak bisa mengakomodasi benang-benang pemikiran, huhu.

Ah sudahlah, jadi kalau diteruskan malah jadi mengeluh lagi nanti.

belajar sambil mengeluh

Saya bertanya-tanya sejak kapan saya jadi pemalas begini. Yah bukan berarti tadinya bisa dibilang orang paling rajin juga sih, tapi setidaknya saya bukan orang yang bisa bermalas-malasan saat PR numpuk. Tapi itu dulu, huhu.

Sabtu siang kemarin, dengan gembira saya merayakan selesainya tugas Semantics. Langsung deh berbangga diri dan menghabiskan sisa hari itu di depan laptop sampai larut malam untuk… jeng jeng jeng… menonton To Liong To. Huhu, penting gila emang. Mencari tontonan dangkal yang bisa menghibur hati, tapi entah kenapa stok film donlotan ga ada yang terasa pas. Mungkin karena sedang agak jenuh dengan budaya Barat (halah), saya jadi mencari sesuatu yang berbau Timur. Menggali-gali ingatan, akhirnya saya menemukan memori masa kecil tentang suatu serial silat. Singkat kata, kemarin itu saya menghabiskan 7 jam nonstop buat nonton To Liong To.

Pas bangun pagi ini, saya sudah punya rencana yang tadinya terasa cukup menyenangkan: mengerjakan PR sedikit, baca-baca bahan kuliah sedikit, lalu lanjut lagi nonton To Liong To. Bersih-bersih apartemen? Besok aja sebelum tutorial Corpora and Statistical Methods. Sayangnya (atau untungnya) tiba-tiba saya teringat: kalau besok ada tutorial, tentunya ada soal-soal yang harus dikerjakan untuk dibahas pas tutorial. Ngecek homepage dosennya dan ternyata benar, sodara-sodara. Ada 4 halaman soal yang harus dikerjakan T_T. Bisa-bisanya lupa.

Sebenarnya, tutorial Corpora and Statistical Methods ini sifatnya ga wajib. Boleh dikerjakan boleh engga, tapi kalo ga ngerjain jadi paling bego sendiri nanti. Jadilah seharian ini saya habiskan dengan belajar sambil mengeluh. Kalau ingat kemarin saya menghabiskan waktu berjam-jam di depan YouTube, jadi kesel sendiri. Yah tapi ketika soal tutorial ini akhirnya selesai dikerjakan (banyak yang rada ngasal, tapi kan besok dibahas juga), rasanya melegakan. Saya ga bisa bilang saya cinta sekali pada computational linguistics, but it gets better now (kecuali kalau sudah berhubungan dengan Machine Translation, bah).

 

Tentang To Liong To

Oke, bagian ini ga penting banget emang (sama seperti bagian sebelumnya dan keseluruhan isi blog ini). Kalau bukan oleh buku dan kartun Jepang, masa kecil saya diwarnai oleh serial silat. Serial paling populer yang pernah saya tonton mungkin To Liong To atau Heavenly Sword and Dragon Saber. Pas SD dulu nonton yang versi 1986. Waktu SMP saya sempat nonton lagi entah versi tahun berapa. Ga lama sebelum berangkat ke benua Eropa sini, saya sempat nyoba nonton yang versi 2009. Ternyata itu busuk gila, sodara-sodara. Nah kemarin itu saya nyoba nonton yang versi 2003. Ga sebusuk versi 2009, tapi jelas kalah oleh versi 1986. Untuk ukuran tahun 2003, sepertinya visual effect-nya agak menggelikan, tapi berhubung saya juga bukan penggemar gambar-gambar canggih, bukan masalah. Yang bikin busuk adalah… banyak hal, haha. Saya bukan penonton yang bawel kok, tapi kalau bahu kiri yang ditusuk pedang dan yang berdarah adalah bahu kanan, sepertinya agak keterlaluan juga blundernya (meskipun lama-kelamaan saya jadi ketawa sendiri nontonnya). Sekarang, rasanya sudah cukup saya menonton To Liong To versi 2003. Kalau diterusin bisa merusak memori masa kecil saya :)

Mengenai tanggung jawab yang diemban

Oke, seperti yang didaftar di postingan sebelumnya, saya punya lumayan banyak tugas. Sayangnya, baik suasana hati maupun pikiran sedang terlalu keruh untuk bekerja.

Coba dilihat-lihat.

  1. Corpora and Statistical Methods.
    • Progress sejauh ini: membaca beberapa referensi paper, memutuskan bahwa salah satu topik akan terlalu sulit untuk dikerjakan.
    • Yang harus dilakukan sekarang: memilih satu di antara 2 topik dan mencari tahu bagaimana cara mengerjakannya.
    • Kerjakan sekarang? Tidak, karena deadlinenya masih lama dan ada tugas lain yang lebih mendesak.
  2. Proyek Machine Translation.
    • Progress sejauh ini: (kelompok) meeting pertama, mendaftar langkah-langkah yang perlu dikerjakan; (saya) mencoba melakukan langkah pertama di daftar, tools-nya error.
    • Yang harus dilakukan sekarang: menyerah dan menunggu kabar dari anggota kelompok yang lain.
    • Kerjakan sekarang? Tidak, karena anggota yang lain juga belum mulai.
  3. Ringkasan dan Presentasi Seminar
    • Progress sejauh ini: membaca paper-paper tentang Computational Semantics.
    • Yang harus dilakukan sekarang: membuat kerangka karangan dan mulai menulis.
    • Kerjakan sekarang? Mungkin setelah postingan yang sangat menarik ini selesai.
  4. Tugas Akhir Semantics
    • Progress sejauh ini: memilih topik-topik yang akan dikerjakan.
    • Yang harus dilakukan sekarang: mulai berpikir dan menulis.
    • Kerjakan sekarang? Mungkin setelah postingan yang sangat menarik ini selesai.
  5. Tugas Clustering Machine Learning
    • Progress sejauh ini: menyelesaikan program
    • Yang harus dilakukan sekarang: mencari tahu format dokumentasi dan mulai menulis.
    • Kerjakan sekarang? Tidak, karena malas dan dokumentasi lebih efektif dikerjakan menjelang deadline.
  6. Tugas review filosofi Machine Learning
    • Progress sejauh ini: nada.
    • Yang harus dilakukan sekarang: mencari tahu ini sebenernya disuruh ngapain sih.
    • Kerjakan sekarang? Tidak, karena tidak menarik.

Jadi setidaknya sekarang saya sudah tahu tugas yang mana yang sebaiknya dikerjakan duluan, huhu.

Daftar PR

  1. Tugas akhir Semantics
  2. Tugas akhir Corpora and Statistical Methods
  3. Review paper dan presentasi Seminar
  4. Proyek Machine Translation
  5. Tinjauan filosofi di balik Machine Learning
  6. Dokumentasi tugas clustering Machine Learning

black and white movie

I never consider new year as something special. Not that I have anything against it (even though I'd say I don't really like the way they celebrate it here in Malta, with people drinking beers and smoking cigarettes on the streets), but I just never see New Year's Eve as something worth staying up late. To me new year is just a point where you have to buy a new calendar.

image

Anyway, 2010 has passed. It was the year when I started drawing again, when I knew Jonathan Safran Foer and Jean-Jacques Sempé for the first time, when I saw J.R.R Tolkien not as my favourite author, but as a linguist. What has happened other than those, I think they're not worth reviewed (oops, sorry LCT). While some are still too fresh in my memory, they start to feel like an old black-and-white movie now.

Well I guess I learned a few things (or I hope so). Happy new year, everyone. I’m giving you a quote from our beloved author here.

May your coming year be filled with magic and dreams and good madness. I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you’re wonderful, and don’t forget to make some art — write or draw or build or sing or live as only you can. And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.


- Neil Gaiman