#1 - The Final Empire


Final Empire: suatu masa di mana abu berjatuhan dari langit, tanaman berwarna coklat, dan kaum skaa (rakyat jelata) diperbudak. Selama seribu tahun, Lord Ruler memegang kekuasaan mutlak. Adalah Kelsier, tawanan Lord Ruler yang berhasil melarikan diri, yang kemudian merekrut orang-orang berbakat demi menggulingkan kekuasaan Lord Ruler. Salah satu orang yang dipilih Kelsier adalah Vin, seorang gadis 16 tahun dengan masa lalu yang kelam. Vin beranggapan siapapun yang ditemuinya hanya akan berkhianat.

Satu hal yang membedakan buku ini dengan seri fantasi lainnya adalah sistem sihirnya. Di sini sihir dilakukan bukan dengan mantra-mantra gaib, melainkan dengan membakar logam. Orang-orang yang memiliki kekuatan untuk membakar logam disebut Allomancer. Allomancer memiliki tingkatan-tingkatannya. Tingkatan paling tinggi adalah Mistborn, yaitu mereka yang bisa membakar semua jenis logam, seperti Kelsier dan Vin.

Saya harus bilang bahwa buku ini dimulai dengan epik sekali. Di setiap bab ada sedikit catatan harian seseorang yang dikatakan sebagai Hero of Ages. Hubungan antara catatan harian ini dengan kisah yang sedang berjalan baru diketahui belakangan. Nah, saya sukaaa sekali dengan bagian catatan harian yang agak melankolis ini.

Sometimes, I worry that I’m not the hero everyone thinks I am.

Di sini kita juga akan melihat sedikit romance antara Vin dan Elend Venture, seorang nobleman yang bersimpati atas nasib para skaa. Romance-nya diceritakan dengan agak datar, sesuai selera saya :D. Si Elend ini sangat adorable dan, uh, sebut saja: memiliki kualitas yang tidak mungkin dimiliki pria-pria di dunia nyata :D

Yang saya kurang suka dari buku ini adalah pertarungannya yang diceritakan dengan terlalu detil. Agak bosan. Lalu, Sanderson sering sekali menggunakan kata "frown". In this book, everyone frowned. Namun kesimpulannya, sebagai pembuka trilogi, buku ini sangat memukau dan bikin ketagihan.

Poin: 4/5

#2 - The Well of Ascension


Lord Ruler berhasil digulingkan dari tahtanya, Final Empire berganti menjadi New Empire, dan Elend diangkat menjadi kaisar. Namun, tidak semua pihak mengakui kekuasaan yang baru ini. Elend, Vin, dan kawan-kawan harus mengantisipasi serangan dari berbagai pihak yang ingin mengambilalih kekuasaan.

Di buku kedua ini, saya merasa tidak banyak yang diceritakan. There's nothing really fresh here. Seiring dengan kemunculannya yang semakin sering, saya jadi tidak terlalu antusias lagi dengan Elend. Vin sudah menjadi Mistborn yang sangat powerful, tapi masih penuh curiga. Hubungan keduanya sungguh, uh, hambar. Saya tidak suka romance, but seeing how they acted, it's hard to believe that they are a couple.

Di sini diceritakan bahwa ternyata penulis catatan harian di buku sebelumnya adalah seseorang bernama Alendi, yang ternyata bukanlah the Hero of Ages. Di buku ini tidak ada lagi catatan harian Alendi, tetapi berganti dengan catatan orang lain yang tidak terlalu melankolis :(. This is still enjoyable, tapi tidak ada yang benar-benar baru di sini.

Poin: 3.5/5

#3 - The Hero of Ages


Di akhir buku kedua, Elend berhasil bertahan hidup dengan menjadi Mistborn. Vin masuk perangkap dan secara tidak sengaja melepaskan kekuatan gelap bernama Ruin. Dunia berubah. Semakin banyak hujan abu. Kabut mulai muncul di siang hari dan menyerang orang-orang. Muncullah pertanyaan: siapakah the Hero of Ages yang akan menyelamatkan dunia?

Er, I don't really know what to say about this book. For an ending of the trilogy, I was expecting something epic. Namun kenyataannya, saya merasa diseret perlahan-lahan saat membaca buku ini. Alurnya lambat dan banyak sekali repetisi. Sudut pandangnya berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh lain, dan sering kali saya merasa banyak cerita yang kurang relevan satu sama lain. Di akhir cerita, dunia baik-baik saja, syukurlah. Saya yang kecewa, huhu. Such a disappointing final.

Poin: 2/5