Berikut adalah rangkuman perjalanan saya.

  • perjalanan Lenteng Agung – CGK: 2 jam
  • penantian sejak turun dari mobil sampai pesawat berangkat: 2 jam
  • CGK – KUL: 1,5 jam
  • transit di KUL: 2,5 jam
  • delay di KUL: 2 jam
  • KUL – AMS: 13 jam
  • ngambil bagasi dan nunggu kereta: 1 jam
  • Schipol – Groningen: 2,5 jam
  • berdiri merana di antrian pengambilan residence permit: 3 jam


    Berikut adalah penjelasan perjalanan saya.

    Terhitung sejak kemarin, saya kembali di daratan Eropa. Jadi seharusnya saya sudah berada di sini lebih awal, mengingat ada acara Welcoming Ceremony tanggal 31 Agustus dan 1 September. Namun karena alasan-alasan tertentu, saya akhirnya memutuskan untuk terbang tanggal 31 Agustus 18.25 dan mendarat tanggal 1 September 06.35. Atau begitulah rencana awalnya. Buhuhu. Kenyataannya, ada delay 2 jam untuk penerbangan KUL-AMS karena cuaca buruk. Saya yang tadinya berharap bisa menghadiri Welcoming Ceremony Kamis siang buat mengambil residence permit, jadi agak berputus asa.
    Namun ternyata inilah yang terjadi:

    1. Di Schipol, saya ketemu sesama Indonesia yang juga bertujuan ke Groningen. Dia dijemput teman-teman seasramanya.
    2. Saya ikutan gabung. Ternyata ada yang punya kartu diskon, jadi saya cuma bayar 14 EUR buat tiket kereta.
    3. Karena berbagai keterlambatan, saya baru sampai di stasiun Groningen jam 12 siang. Untungnya di sana dijemput sama landlady apartemen saya.
    4. Setelah mendengar bahwa saya harus ke Zwolle (sejam berkereta dari Groningen) kalau gagal mengambil residence permit hari itu, sang landlady pun bersikeras mengantar saya ke universitas.

    Sesampainya di Academy Building, ternyata pengambilan residence permit tidak semudah yang saya bayangkan, buhuhu. Menurut jadwal, harusnya acaranya dari jam 9 sampai jam 1 siang. Saya datang jam setengah 1 dan ternyata… Antriannya masih panjang bener dan pergerakannya sangat lambat. Dengan kepala agak melayang-layang, akhirnya saya memutuskan tetep ngantri. Sepanjang antrian ada petugas-petugas yang nawarin air dan stroopwafel. Sempat ngobrol dikit dengan beberapa orang di dekat saya. Ketika mendengar bahwa saya langsung ke universitas begitu sampai di Groningen, mas-mas dari Chile berkata, “you are very tough”. Dia ga tau aja saya hampir nangis saking capenya. Dan akhirnya, setelah 3 gelas air dan 1 stroopwafel (ga enak, terlalu manis) atau lebih tepatnya 3 jam kemudian, akhirnya saya tiba di awal antrian. Terharu sekali rasanya ketika kartu residence permit jatuh ke tangan saya, huhuhu.