Urusan apartemen di Groningen memang agak sulit. Tempatnya sedikit dan harganya mahal. Pencariannya bisa lewat Housing Office, agen perantara dengan universitas. Secara umum, pilihannya ada dua: international student house dan private market. International student house biasanya berupa kamar pribadi dengan berbagi kamar mandi dan dapur. Ada sih yang kamar mandinya di dalem, tapi cuma sedikit. Itu yang dulu saya pilih.

Sayangnya, international student house pilihan saya sudah penuh semua, jadi saya ditawari sebuah apartemen di private market. Tadinya agak ragu-ragu karena 1) letaknya jauh dan 2) mahal. Sementara itu, student house yang masih kosong hanya yang berbagi kamar mandi dan dapur. Tapi akhirnya, setelah minta saran dari orangtua dan teman-teman, saya putuskan (dengan tidak yakin) untuk menerima tawaran tersebut. Lagipula setelah dihitung-hitung, jatuhnya cuma beberapa belas euro lebih mahal dibanding yang di Malta.

Daaaan, ternyata sangat memuaskan ^^. Beginilah penampakannya begitu membuka pintu. Ada tv dan DVD player juga (sayang ga ada port USB-nya, ga mungkin juga saya beli DVD di sini).

DSC02434

Untungnya lagi, sudah termasuk internet, dan lumayan cepet pula, setara dengan yang di Malta. Sayangnya harus nyolok kabel LAN, bukan wifi. Dan setelah donlot film pertama pagi ini, saya baru inget belum nanya landlady-nya apakah internetnya unlimited atau tidak, huhu.

DSC02436

Di ruangan satunya, ada dapur yang perlengkapannya luar biasa lengkap. Panci, wajan, microwave, coffee maker, toaster, bahkan garam, merica, kopi, dan teh pun ada. Sudah disediakan pisang juga. Saya agak bingung harus diapain, berhubung saya ga doyan pisang.

DSC02442

Cukup sudah bagus-bagusnya. Sekarang sisi jeleknya. Dari peta di bawah ini, city center ditunjukkan oleh label A, sementara apartemen saya ada di B, buhuhu.

Untitled

Kemarin sang landlady sedang ada perlu ke city center dan nawarin saya ngikutin di belakang pake sepeda. Nah, perjalanannya paling lama cuma setengah jam kayanya. Sampai di pusat kota, kami pun berpisah. Setelah urusan saya selesai, saya jadi agak panik sendiri karena lupa jalan pulangnya. Dalam artian bener-bener ga tau rute mana yang harus diambil.

Akhirnya, berbekal peta, saya pun nekat mengira-ngira jalan mana yang bisa diambil. Tiap ada persimpangan, berhenti dulu buat ngecek peta. Sempet putus asa juga karena rasanya masih jauuuuh banget. Untung ketemu mbak-mbak baik hati yang mau ngasih tau perkiraan rutenya. Setelah itu saya jadi pede nanya sama orang-orang di jalan ^^. Dua kali ketemu ibu-ibu yang kebetulan searah, jadi saya tinggal ngikutin di belakangnya. Akhirnya, setelah 1,5 jam mengayuh sepeda, nyasar, nanya sekitar 10 orang, dan puluhan kali ngecek peta, saya berhasil sampai di rumah. Bangga sekali rasanya, hehe.

Jujur, waktu mau pulang dari pusat kota itu, saya sempet nyesel kenapa ga ngambil tempat di student house aja. Letaknya ga terlalu jauh, banyak temennya pula. Tapi kemudian, di sana pun pasti ada kesulitan-kesulitannya sendiri. Ga ada gunanya juga menyesali pilihan yang sudah dibuat. Semoga saja perjalanan selanjutnya tidak akan terlalu panjang.