Sebagai orang yang sudah tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun, saya harap saya masih diizinkan berkata bahwa hidup di Jakarta itu memang sulit, huhu. Bukannya mau sok-sokan udah lupa dengan tanah asal, tapi beberapa minggu setelah sampai di sini, saya merasa agak, well, homesick. Bukan berarti saya sebegitu cintanya sama Malta (meskipun saat ini saya sedang memakai kaos I love Malta, huhu), sama sekali tidak. Bukan berarti juga hidup saya sekarang jadi luar biasa sulit atau gimana. Hanya saja, tinggal di sini, I wonder if the result is worth the effort.
Habisannya… Buat keluar rumah aja, butuh perjuangan berat menempuh kemacetan di bawah langit yang kelabu karena polusi. And for what? Another day at a mall, shopping for more bags and shoes? Bekerja keras buat beli mobil yang bahkan nyaris tidak bisa bergerak di kota ini? Intinya, saya jadi mempertimbangkan opsi untuk tinggal di pedesaan saja dan beternak sapi dan ayam, huhu. Memang sih kalau tentang menjalani hidup, it’s more about how than where. Mau tinggal di manapun, kalau dijalani dengan akhlak yang baik, tentunya hidup akan lebih bermakna, tsah. It’s just that I’d rather do it in a place with less pressure.
Jadi kesimpulannya… saya harus berhenti mengeluh. Buhuhuhu.
hahahaa.. makanya orang jakarta terkenal paling sabar.. sabar kena macet, legowo mobilnya berkali2 diserempet motor, berlapang dada karena setengah dari masa hidupnya terbuang di jalanan beraspal.. jadi kalo mau latihan sabar disini tempatnya O:)
gw rasa justru kemacetan ini adalah hasil ketidaksabaran. Ga sabar nunggu lampu merah, naik dan turun angkot ga pada tempatnya, nyebrang ga di zebra cross, ga ngasih jalan buat orang nyebrang, dll. If we are really as patient as we think we are, then maybe the traffic jam will not be this bad after all.