Sekali-sekali mengeluh boleh dong.
Hari ini rasanya tidak karuan. Jadi sudah beberapa hari ini tubuh saya sepertinya agak melemah. Kurang bertenaga, kurang bersemangat. Huhu. Karena sedang mengidam-idamkan masakan Indonesia, akhirnya pagi ini saya masak gulai ayam. Lumayan enak dan gampang (terutama karena masaknya menggunakan bumbu siap pakai, haha). Habis itu, seperti biasa, belajar. Menjelang siang, kerinduan akan masakan Indonesia masih kurang terobati. Jadilah saya membuat marmer cake (sekali lagi pake adonan siap pakai). Begini tampangnya.
Nyatanya, makan dua potong saja sudah puas. Sisanya masih ada satu loyang minus dua potong, huhu. Sayangnya, hari saya masih jauh dari berakhir. Sudah belajar, sudah makan gulai, sudah makan kue, nyatanya masih jam 1 siang, zzz. Tentu saja seharusnya diisi dengan mempelajari kuliah lain dan mengerjakan PR lain, tapi otak saya rasanya sedang tumpul setumpul-tumpulnya. Nonton Udon, berhenti setelah 5 menit. Nonton Persepolis, berhenti juga setelah 5 menit. Nonton Adam, berhasil namatin, tapi merasa 2 jam terbuang sia-sia.
Huhu. Rasanya pengen tidur, tapi ga menemukan cerita pengantar tidur yang pas. Kesalahan terbesar saya pas berangkat ke sini adalah cuma bawa 1 buku berbahasa Indonesia: The Penderwicks. 5 buku lainnya berbahasa Inggris. Nyatanya, setelah 8 bulan membaca/mendengar/menulis/berbicara bahasa Inggris, membuka novel berbahasa Inggris agak-agak bikin pengen muntah. Literally. Sekarang, The Penderwicks sudah melekat di otak saya, lebih daripada ilmu manapun yang pernah saya pelajari, huhu. Sore ini saya ke perpustakaan dan toko buku kampus demi mencari buku seringan bulu yang ceritanya kira-kira bisa mendamaikan hati, tapi ga ada yang pas.
Buhuhu. Hari ini masih panjang. Isya masih 3 jam lagi. Tenggorokan sakit. Pengen baca Malory Towers. Pengen baca Surat untuk Raja.
Ah sudahlah. Apa mendingan nulis cerpen aja ya? Udah lama ga nulis cerpen lemah tentang kisah kasih remaja. Dulu itu adalah satu satu hobi saya kalau sedang galau, huhu.