Saya bertanya-tanya sejak kapan saya jadi pemalas begini. Yah bukan berarti tadinya bisa dibilang orang paling rajin juga sih, tapi setidaknya saya bukan orang yang bisa bermalas-malasan saat PR numpuk. Tapi itu dulu, huhu.

Sabtu siang kemarin, dengan gembira saya merayakan selesainya tugas Semantics. Langsung deh berbangga diri dan menghabiskan sisa hari itu di depan laptop sampai larut malam untuk… jeng jeng jeng… menonton To Liong To. Huhu, penting gila emang. Mencari tontonan dangkal yang bisa menghibur hati, tapi entah kenapa stok film donlotan ga ada yang terasa pas. Mungkin karena sedang agak jenuh dengan budaya Barat (halah), saya jadi mencari sesuatu yang berbau Timur. Menggali-gali ingatan, akhirnya saya menemukan memori masa kecil tentang suatu serial silat. Singkat kata, kemarin itu saya menghabiskan 7 jam nonstop buat nonton To Liong To.

Pas bangun pagi ini, saya sudah punya rencana yang tadinya terasa cukup menyenangkan: mengerjakan PR sedikit, baca-baca bahan kuliah sedikit, lalu lanjut lagi nonton To Liong To. Bersih-bersih apartemen? Besok aja sebelum tutorial Corpora and Statistical Methods. Sayangnya (atau untungnya) tiba-tiba saya teringat: kalau besok ada tutorial, tentunya ada soal-soal yang harus dikerjakan untuk dibahas pas tutorial. Ngecek homepage dosennya dan ternyata benar, sodara-sodara. Ada 4 halaman soal yang harus dikerjakan T_T. Bisa-bisanya lupa.

Sebenarnya, tutorial Corpora and Statistical Methods ini sifatnya ga wajib. Boleh dikerjakan boleh engga, tapi kalo ga ngerjain jadi paling bego sendiri nanti. Jadilah seharian ini saya habiskan dengan belajar sambil mengeluh. Kalau ingat kemarin saya menghabiskan waktu berjam-jam di depan YouTube, jadi kesel sendiri. Yah tapi ketika soal tutorial ini akhirnya selesai dikerjakan (banyak yang rada ngasal, tapi kan besok dibahas juga), rasanya melegakan. Saya ga bisa bilang saya cinta sekali pada computational linguistics, but it gets better now (kecuali kalau sudah berhubungan dengan Machine Translation, bah).

 

Tentang To Liong To

Oke, bagian ini ga penting banget emang (sama seperti bagian sebelumnya dan keseluruhan isi blog ini). Kalau bukan oleh buku dan kartun Jepang, masa kecil saya diwarnai oleh serial silat. Serial paling populer yang pernah saya tonton mungkin To Liong To atau Heavenly Sword and Dragon Saber. Pas SD dulu nonton yang versi 1986. Waktu SMP saya sempat nonton lagi entah versi tahun berapa. Ga lama sebelum berangkat ke benua Eropa sini, saya sempat nyoba nonton yang versi 2009. Ternyata itu busuk gila, sodara-sodara. Nah kemarin itu saya nyoba nonton yang versi 2003. Ga sebusuk versi 2009, tapi jelas kalah oleh versi 1986. Untuk ukuran tahun 2003, sepertinya visual effect-nya agak menggelikan, tapi berhubung saya juga bukan penggemar gambar-gambar canggih, bukan masalah. Yang bikin busuk adalah… banyak hal, haha. Saya bukan penonton yang bawel kok, tapi kalau bahu kiri yang ditusuk pedang dan yang berdarah adalah bahu kanan, sepertinya agak keterlaluan juga blundernya (meskipun lama-kelamaan saya jadi ketawa sendiri nontonnya). Sekarang, rasanya sudah cukup saya menonton To Liong To versi 2003. Kalau diterusin bisa merusak memori masa kecil saya :)