Archive for December 2010

kesan dan tulisan

“Words do not express thoughts very well. They always become a little different immediately after they are expressed, a little distorted, a little foolish.”

— Hermann Hesse

Terkadang saya mengalami dilema dalam menulis blog. Kalau dipikir-pikir, awalnya saya menulis karena ada begitu banyak hal di kepala saya yang tidak bisa saya ungkapkan secara lisan. Tidak ada maksud apa-apa selain mengosongkan pikiran. Toh saya juga sadar tulisan-tulisan saya tidak bisa dibilang berbobot, hehe.

Hanya saja, terkadang saya khawatir semua ini bisa memberikan kesan yang salah. Terkadang saya takut terkesan terlalu suka mengeluh, terlalu mencintai buku, terlalu tidak pedulian. Banyak yang bilang, kalau terus memusingkan pendapat orang lain tentang kita, kapan kita bisa hidup tenteram? Tapi tentu saja saya peduli akan pendapat orang lain, at least for this particular person and about this particular context.

Baiklah, mungkin dari tadi saya berbicara dalam teka-teki, hehe. Intinya adalah, saya selalu berusaha jujur dalam apapun yang saya tuliskan, karena itu adalah raison d'être of this blog. Tapi di sisi lain, saya juga tidak mau apa yang tertuliskan itu membuat pembacanya merasa tidak nyaman atau memiliki sangkaan yang salah mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Karena bukankah Rasulullah pernah bersabda, “berkatalah yang baik atau diam”?

Ah sudahlah, sepertinya dari tadi saya hanya meracau saja (even though I’m sure some of you know what it’s about :D). Mungkin sebaiknya mulai titik ini saya filter lagi secara lebih jauh mengenai apa yang boleh tampil di depan umum dan apa yang sebaiknya tersembunyi di catatan pribadi.

Laporan 2010

DSC00952

Meskipun 2010 belum berakhir, sekarang saja saya laporkan bacaan sepanjang tahun ini. Mengingat saat ini saya hanya membaca ulang buku-buku yang sudah pernah dibaca sebelumnya, sepertinya tidak akan ada perubahan untuk 2 hari ke depan. Sebenarnya saya agak ingin membeli buku-buku baru buat menemani selama liburan Natal/tahun baru ini, tapi sayangnya bulan lalu saya sudah membeli The Hobbit illustrated edition yang harganya terpaksa membuat saya berikrar tidak akan membeli buku lagi sampai tahun depan, huhu.

DSC00955

Jadi intinya, berikut daftar bacaan selama 2010:

1. Sara Pennypacker – The Talented Clementine
2. Rick Riordan – Percy Jackson and The Olympians #1: The Lightning Thief
3. E. B. White – Charlotte’s Web
4. Garth Nix – The Abhorsen Trilogy #1: Sabriel*
5. Diana Wynne Jones – Howl’s Moving Castle
6. Philip Pullman – Si Boneka Jerami dan Pelayannya (The Scarecrow and His Servant)
7. Cressida Cowell – How To Train Your Dragon #1
8. Jay Asher – Thirteen Reasons Why
9. Jonathan Safran Foer – Extremely Loud and Incredibly Close
10. Louis Sachar – Holes
11. Lisa Genova  Still Alice
12. Garth Stein – The Art of Racing in the Rain*
13. Susan Patron – The Higher Power of Lucky
14. Dr. Seuss – Oh, The Places You'll Go!
15. Meg Cabot – Princess Mia
16. Herge – Petualangan Tintin: Tongkat Ottokar
17. Herge – Petualangan Tintin: Lotus Biru
18. Poppy D. Chusfani - Bookaholic Club: Hantu-hantu Masa Lalu
19. Yann Martel - Beatrice and Virgil*
20. Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfury - Sirah Muhammad*
21. Wizards - various author
22. The Catcher in The Rye - J.D. Salinger
23. Sophie Kinsella - Twenties Girl
24. Derek Landy - Skulduggery Pleasant
25. Yim Sook Young/Kim I Rang- Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia
26. Judy Blume - Double Fudge
27. Suzanne Collins - The Hunger Games
28. Sherman Alexie - The Absolutely True Diary of A Part-Time Indian
29. Wendy Mass - Every Soul A Star
30. Jonathan Safran Foer - Everything Is Illuminated
31. Yann Martel - Life of Pi (English version)
32. Sempe - Mixed Messages
33. J. R. R. Tolkien - The Silmarillion
34. Roald Dahl - The Wonderful Story of Henry Sugar
35. Dr. Seuss - Did I Ever Tell You How Lucky You Are?
36. Jane Austen - Sense and Sensibility
37. Meg Cabot - Forever Princess
38. Judy Blume - Otherwise Known As Sheila The Great
39. J. D. Salinger - For Esme - With Love and Squalor*
40. Suzanne Collins - Catching Fire
41. Lemony Snicket - Horseradish: Bitter Truths You Can't Avoid
42. Michael Ende - The Neverending Story
43. Éric-Emmanuel Schmitt - Oscar and The Lady in Pink
44. William Goldman - The Princess Bride
45. Scarlett Thomas – PopCo*

* unfinished

Bacaan terbaik:

  1. J. R. R. Tolkien - The Silmarillion
  2. Jonathan Safran Foer – Extremely Loud and Incredibly Close
  3. Sherman Alexie - The Absolutely True Diary of A Part-Time Indian
  4. Michael Ende - The Neverending Story
  5. William Goldman - The Princess Bride

Jelek atau overrated:

  1. Jay Asher – Thirteen Reasons Why
  2. Suzanne Collins - Catching Fire
  3. Wendy Mass - Every Soul A Star
  4. J. D. Salinger - For Esme - With Love and Squalor
  5. Meg Cabot – Princess Mia

Sekian saja, semoga tidak ada perubahan sampe tahun depan :)

liburan saya

DSC00923

I wish people would stop bugging me about travelling. Untuk alasan-alasan yang sudah disebutkan oleh Bu Mia, travelling jelas bukan termasuk salah satu kegiatan yang paling saya sukai. Sekarang liburan Natal dan saya ga kemana-mana, keluar rumah paling cuma ke Sliema atau Valletta (gambar di atas itu pemandangan di Valletta).

Kegiatan saya di rumah? Hmm, mengerjakan PR termasuk salah satu diantaranya. Entah kenapa mengerjakan PR jadi terasa lebih menyenangkan saat liburan begini. Mungkin karena waktunya lebih banyak, ga diburu-buru, ga diinterupsi oleh jadwal kuliah. Pagi-pagi buta mengerjakan PR, siangnya saya jadi merasa berhak nonton film atau baca buku, hehe. Oh, saya punya lumayan banyak buku yang belum selesai dibaca, mengingat bulan lalu saya agak kalap belanja buku. Kalau dihitung-hitung, saya sudah punya 20 buku fiksi sejak tinggal di Malta selama 3 bulan ini. Wah sial banyak juga, gimana bawa pulangnya nanti ya? Belum lagi buku-buku kuliah setebal yellow pages. Oke, jadi intinya, saya punya cukup banyak hal untuk membuat saya sibuk selama liburan ini.

Ah, keseluruhan post ini terdengar seperti denial, karena sesungguhnya, seandainya punya pilihan, saya agak ingin pulang ke Jakarta yang hangat dan nyaman. Dan bukannya ga punya pilihan juga, karena saya masih punya waktu libur seminggu, tapi tapi tapi… Ada perasaan mengganjal seandainya saya pulang sekarang. Ada PR yang belum diselesaikan. Ada ujian yang belum dipersiapkan. Ada uang yang sebaiknya ditabung.

Karena pada saatnya pulang nanti, saya ingin pulang atas dasar menjumpai keluarga dan teman-teman, bukannya atas dasar melarikan diri dari winter seperti motivasi saya sekarang ini (padahal winter di Malta bisa dibilang cupu dibanding negara-negara Eropa lainnya). Karena saya ingin pulang dengan perasaan tenang bahwa saya sudah melakukan usaha terbaik saya di sini.

Jadi untuk sementara ini: The Silmarillion, susu cokelat, dan tumpukan selimut sudah cukup buat saya. Eurotrip? Nanti saja kalau darah Took saya sudah lebih dominan dibanding darah Baggins.

There are some who say that sitting at home reading is the equivalent of travel, because the experiences described in the book are more or less the same as the experiences one might have on a voyage, and there are those who say that there is no substitute for venturing out into the world. My own opinion is that it is best to travel extensively but to read the entire time, hardly glancing up to look out of the window of the airplane, train, or hired camel.

Lemony Snicket – Horseradish

People can be so annoying sometimes. Whatever. I'll just read The Silmarillion and escape from this world.

homesick

Ya ya meskipun sedang libur, memang belakangan ini saya ga sering mengupdate blog. Masalahnya, saya sedang sibuk sodara-sodara. Dan bukan jenis kesibukan yang terlalu menyenangkan juga. Kapan-kapan aja deh ceritanya, huhu. Sedang merasa agak busuk sekarang. Mending nyanyi dulu.

I'll lose some sales and my boss won't be happy,
but I can't stop listening to the sound
of two soft voices
blended in perfection
from the reels of this record that I've found.

Every day there's a boy in the mirror asking me...
What are you doing here?
Finding all my previous motives
growing increasingly unclear.

I've traveled far and I've burned all the bridges
I believed as soon as I hit land
all the other options held before me,
would wither in the light of my plan.

So I'll lose some sales and my boss won't be happy,
but there's only one thing on my mind
searching boxes underneath the counter,
on a chance that on a tape I'd find...
a song for someone who needs somewhere to long for.

Homesick.
Because I no longer know where home is.

(Kings of Convenience - Homesick)

Argh, pengen pulang.

Natural Classification

Yang namanya manusia, pasti cenderung hidup berkelompok sesuai dengan kesamaan yang dimiliki. Tersebutlah peserta-peserta kelas Machine Translation: Am, Ma, Mi, P, F, dan tentu saja saya sendiri, An. Berikut adalah observasi saya mengenai klasifikasi alamiah berdasarkan konfigurasi tempat duduk di ruang CB208.

Hari pertama:
-------------------------------------
Am Ma An Mi  <first row>
-------------------------------------
P F            <second row>

Hari kedua:
-------------------------------------
Ma F Mi         <first row>
-------------------------------------
P Am An   <second row>

Hari ketiga:
-------------------------------------
Ma An F         <first row>
-------------------------------------
Am P Mi   <second row>

Hari keempat:
-------------------------------------
Am P F          <first row>
-------------------------------------
An Ma Mi   <second row>

….

….

Hari terakhir:
-------------------------------------
Am P F          <first row>
-------------------------------------
An Ma Mi   <second row>

Sejak hari keempat hingga hari terakhir, konfigurasi tidak mengalami perubahan lagi. Nah, penghuni baris pertama adalah orang-orang yang rajin bertanya dan menyampaikan opini tentang phrase-based alignment, distortion models, dan aspek-aspek lainnya yang sangat menarik dari Statistical Machine Translation. Di baris kedua, ada orang-orang yang ngeliatin slide dengan tatapan kosong, sambil sesekali ngecek hp dan saling pandang (saking bingungnya mau ngapain). Jadi kalau disimpulkan, beginilah hasil klasifikasi saya:

-------------------------------------------------------
{those who pay attention}  <first row>
-------------------------------------------------------
{those who daydream}   <second row>

Kegiatan saya di baris kedua sebenernya lebih bervariasi daripada hanya ngelamun (meskipun itu memang kegiatan utamanya). Buku catatan saya penuh dengan gambar kartun (ada karikatur dosennya juga), daftar belanjaan, dan tulisan-tulisan yang bisa dikategorikan sebagai entri buku harian.

Hari ini adalah kuliah terakhir Machine Translation. 15 menit sebelum waktu kuliah habis, sang dosen menutup slide dan berkata bahwa sebaiknya kuliah diakhiri. Biar ada waktu buat menuju kelas berikutnya, katanya. Sayangnya salah satu tuyul di baris pertama berkata bahwa kelas berikutnya selalu mulai telat. Dan guess what? Sang dosen membuka file presentasi dengan topik baru dan memanfaatkan 15 menit yang tersisa dengan menjelaskan hal-hal yang sangat menarik tentang factored model. Saking kecewanya, saya memandang orang-orang di sekitar saya untuk melihat apakah mereka juga kecewa. Kebetulan oknum Ma juga sedang melakukan hal yang sama seperti saya. Jadilah 15 menit tersebut dihabiskan dengan mencoba (nahan ketawa)/(ketawa tanpa suara). Apa yang perlu ditertawakan, memang ga begitu jelas. Kami hanyalah orang-orang yang terkadang merasa kelas Machine Translation berlangsung selamanya.

Tentu saja pada akhirnya kuliah berakhir. Besok dosennya bakal terbang kembali ke asalnya, meninggalkan sejuta pertanyaan dan tugas. Zzzz, sekarang santai dulu ah. Yang penting udah libur! Ga ada lagi acara berbosan-bosan di kelas, hore!

younger yesterday

april 1989

Have you ever experienced that awkward moment when you looked in the mirror and realized that you’ve grown so big and tall? Sometimes I just can’t believe that 22 is the number that defines me, for some things never changed through these years.

Last Sunday my family had this acara lamaran for my brother. I wasn’t there, of course, and most likely I won’t be there at the wedding too. In some ways all those marriage things sound strange, for he’s only two years older than me and most of the time I still feel like an 8-years old. In some ways, he’s always been that little boy with runny nose, the one who mixed all the possible combinations of creams and chocolates to make some surprisingly tasty drink, that big brother with whom I fight over a remote control.

To my brother, I don’t know if you read this (well I hope not! Since when do you know I have a blog anyway?). But if you do, well I hope this is not too embarrassing. Oh, and congratulations of course. Be rich and generous, yohoho!

We’re not too young to know
Not too young to find our way
We were younger yesterday
So much more to know, don’t let this moments slip away

(Younger Yesterday – The Meadows)

nonton Harry Potter

Akhirnya saya nonton Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1! Hore!!!! Sebelum dirilis, saya ga antusias sama film ini, mengingat 6 film sebelumnya adalah kegagalan besar (setidaknya menurut saya). Tapi tapi tapi… Melihat banyaknya review yang memuji-muji film ini di hari pertama pemutarannya, saya penasaran juga. Sayangnya rencana nonton sempat tertunda karena saya ga tau letak bioskop terdekat di sini dan teman-teman saya terlalu miskin imajinasi untuk tertarik nonton film ini.

Namun akhirnya Rabu kemarin saya dan teman saya Mariya menetapkan hati buat nonton. Bikin poll di Doodle, tapi yang tertarik cuma si Milos doang. Biarinlah, yang penting jadi. Jam 17.20 saya sampe di depan apartemen Mariya, lalu kami pun jalan kaki menuju halte bus terdekat. Si Milos lagi di Sliema dan rencananya akan berangkat langsung dari sana menuju bioskop di Valletta. Sekitar jam 17.45, saya dan Mariya sampe di terminal bus Valletta (kelamaan nunggu busnya), tapi rupanya si Milos ga dapet bus dari Sliema. Ya sudah akhirnya berdua aja menuju bioskop.

Hari Rabu kemarin itu adalah hari libur di Malta. Valletta rame luar biasa, sodara-sodara. Jalan Republika (saya lupa nama Maltese-nya) penuh dengan orang. Eits, tapi ini rame yang menyenangkan loh. Berhubung udah hampir telat, saya dan Mariya berlari-lari di tengah kerumunan orang menuju Embassy Shopping Centre and Cinema. Untungnya keburu. Ini dia tiketnya.

DSC00913Pas masuk, teaternya udah gelap, jadi kebingungan nyari nomer tempat duduknya. Tapi akhirnya berhasil duduk sebelum filmnya di mulai. Saat semua lampu sudah dimatikan dan logo Warner Bros terpampang di layar, wihhh rasanya excited sekali! Yuhuuu.

Well, what can I say about the movie? It’s good. It’s surprisingly good. Di film ini saya bisa melihat Harry Potter, bukan Daniel Radcliffe. Sejujurnya, dari film pertama saya berpendapat Daniel Radcliffe ga terlalu cocok memerankan Harry: terlalu ganteng, terlalu bersih, kurang kurus, dan banyak alasan lainnya. Selanjutnya, saya merasa Daniel makin tua kok makin jelek ya (gini nih, ganteng salah, jelek salah). Di film ini doi ga ada ganteng-gantengnya, tapi aktingnya di sini benar-benar sesuai dengan karakter Harry.

Selain itu, ada scene yang ga berasal dari buku tapi saya suka. Sebagai catatan, sejak saya berkenalan dengan Harry Potter, saya selalu berpendapat bahwa Hermione adalah pasangan yang tepat untuk Harry. For some reasons I can’t explain, they're just perfect for each other. Yah, lama-kelamaan saya bisa menerima fakta bahwa mereka tidak akan bersama. Tapi dancing scene antara Harry dan Hermione di film ini membangkitkan kembali perasaan lama itu, huhu. I know they’re like siblings, but that’s exactly why they should end up together.

Ada juga sih bagian yang saya ga suka di film ini, yaitu image 3D Harry dan Hermione yang muncul saat Ron akan menghancurkan Horcrux. Er, berlebihan aja rasanya. Apalagi, banyak penontonnya yang anak-anak, jadi kayanya ga pantas.

Oke, satu hal tentang bioskop Malta. Saat film sedang seru-serunya, tiba-tiba layarnya gelap, lalu muncul tulisan “Intermission” yang disusul dengan iklan-iklan. WTH? Busuk banget lah. Tapi setelah 10 menit, akhirnya filmnya nyambung lagi. Setelah filmnya kelar, rasanya puas!

Sekeluarnya dari bioskop, Valletta sudah agak sepi. Di sepanjang jalan banyak dekorasi yang menyerupai pohon Natal putih tertutup salju, lampu warna-warni, dan lagu-lagu Natal yang diputar lewat speaker. Saya pun pulang dengan hati bahagia.

Oh, I forgot one more thing. Favorite scene? Saat Bellatrix menyiksa Hermione. It’s perfect. You can feel her pain. I almost cried seeing ‘Mudbloood’ written in her arm.

Horseradish: Bitter Truths You Can’t Avoid

x14755

Judul: Horseradish: Bitter Truths You Can’t Avoid
Penulis: Lemony Snicket
Penerbit: HarperCollins Children’s Books
Tahun: 2007
Harga: EUR 7.67
Nilai: 5/5

The moral of this story, if you are interested, is that there are bitter truths you can’t avoid in this world, whether you are wondering about home, family, school, work, entertainment, literature, travel, emotional, health, affairs of the heart, a life of mystery, the mystery of life, an overall feeling of doom that one cannot ever escape no matter what one does, and miscellaneous things that I have neglected to mention in specific. For your convenience, some of these bitter truths have been placed into somewhat handy book, and arranged into thirteen chapters so that any time you are wondering about something, you can open the book and read a bitter truth or two, rather than go to the trouble of trying to find a wise man, particularly in your neighborhood where so few of them live.

Pernah bertanya-tanya kenapa hidup menjadi seperti ini? Atau bahwa hidup seharusnya lebih dari sekedar mengerjakan tugas sekolah, kerja, urusan keluarga, dan cinta-cintaan? Jujur, saya sih sering, hehe. Namun, sering kali pertanyaaan-pertanyaan seperti itu ga perlu dipikirkan terlalu jauh, because, well, we can’t find a wise man to answer those questions. Sometimes you just have to face the bitter truths.

Buku ini terbagi atas 13 bab, mulai dari Home, Family, School, Work, dan seterusnya. Di tiap bab Lemony Snicket menyodorkan kenyataan hidup yang bisa dibilang pahit, tapi penuh humor kering.

Perhaps if we saw what was ahead of us, and glimpsed the crimes, follies, and misfortunes that would befall on us later on, we would all stay in our mother’s wombs, and then there would be nobody in the world but a great number of very fat, very irritated women.

If writers wrote as carelessly as some people talk, then adhasdh asdglaseuyt[bn[ pasdlgkhasdfasdf.

Brilliant. I fell in love with this book instantly. Meskipun memang bisa ditamatkan dalam sekejap saja, rasanya buku ini bisa dibaca berulang-ulang dan ga akan membuat bosan.

As you requested

Untitled

First of all, I’m really tired now after working on my Machine Translation assignment, so I can’t write too much. However, I promised someone I would write this post tonight.

Last Monday was the first time I ever received a postcard. I’ve been in love with postcards since I saw them in the tourist shops along the streets of Sliema. Just like most of the things in Malta, they looked old. That time, I decided to regularly send some postcards to my family, as a trace of the places I’ve been.

I have sent six postcards to my friends and family since then. It’s a nice feeling, you know, to write a message about whatever place on the other side of the paper, walk to the post office, and wait wait wait until they reach the hands of your loved ones. To me postcards are special, in a way that it reminds me that some things cannot be done in a hurry.

My boyfriend sent me this postcard of Bangka Belitung weeks ago. He bought it at Times Bookstore and went to the post office on his day off. I checked my mailbox everyday, but it actually takes longer to send a postcard from Indonesia to Malta than the other direction. And last Monday, just when I started thinking that it might be drowned somewhere in the Pacific ocean, it’s finally there, in my mailbox.

It didn’t suddenly brighten my day or make me feel like I could overcome whatever problems I had. Not like that at all, but it brought a smile to my sick-of-Machine-Translation face. That’s enough, if you ask me.

Last Monday was exactly two years since we’ve been together. You asked me to put the photo of the postcard in my blog. Here it is, as you requested. I would have done so even if you didn’t ask me. Thank you for giving me something that is hand-written and has a body and does not need batteries. Thank you for stepping into a bookstore and helping me with UNIX shell script.

Nobody gets too much heaven no more
It's much harder to come by
I'm waiting in line
Nobody gets too much love anymore
It's as high as a mountain
And harder to climb

(Bee Gees – Too Much Heaven)