Akhirnya saya nonton Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1! Hore!!!! Sebelum dirilis, saya ga antusias sama film ini, mengingat 6 film sebelumnya adalah kegagalan besar (setidaknya menurut saya). Tapi tapi tapi… Melihat banyaknya review yang memuji-muji film ini di hari pertama pemutarannya, saya penasaran juga. Sayangnya rencana nonton sempat tertunda karena saya ga tau letak bioskop terdekat di sini dan teman-teman saya terlalu miskin imajinasi untuk tertarik nonton film ini.
Namun akhirnya Rabu kemarin saya dan teman saya Mariya menetapkan hati buat nonton. Bikin poll di Doodle, tapi yang tertarik cuma si Milos doang. Biarinlah, yang penting jadi. Jam 17.20 saya sampe di depan apartemen Mariya, lalu kami pun jalan kaki menuju halte bus terdekat. Si Milos lagi di Sliema dan rencananya akan berangkat langsung dari sana menuju bioskop di Valletta. Sekitar jam 17.45, saya dan Mariya sampe di terminal bus Valletta (kelamaan nunggu busnya), tapi rupanya si Milos ga dapet bus dari Sliema. Ya sudah akhirnya berdua aja menuju bioskop.
Hari Rabu kemarin itu adalah hari libur di Malta. Valletta rame luar biasa, sodara-sodara. Jalan Republika (saya lupa nama Maltese-nya) penuh dengan orang. Eits, tapi ini rame yang menyenangkan loh. Berhubung udah hampir telat, saya dan Mariya berlari-lari di tengah kerumunan orang menuju Embassy Shopping Centre and Cinema. Untungnya keburu. Ini dia tiketnya.
Pas masuk, teaternya udah gelap, jadi kebingungan nyari nomer tempat duduknya. Tapi akhirnya berhasil duduk sebelum filmnya di mulai. Saat semua lampu sudah dimatikan dan logo Warner Bros terpampang di layar, wihhh rasanya excited sekali! Yuhuuu.
Well, what can I say about the movie? It’s good. It’s surprisingly good. Di film ini saya bisa melihat Harry Potter, bukan Daniel Radcliffe. Sejujurnya, dari film pertama saya berpendapat Daniel Radcliffe ga terlalu cocok memerankan Harry: terlalu ganteng, terlalu bersih, kurang kurus, dan banyak alasan lainnya. Selanjutnya, saya merasa Daniel makin tua kok makin jelek ya (gini nih, ganteng salah, jelek salah). Di film ini doi ga ada ganteng-gantengnya, tapi aktingnya di sini benar-benar sesuai dengan karakter Harry.
Selain itu, ada scene yang ga berasal dari buku tapi saya suka. Sebagai catatan, sejak saya berkenalan dengan Harry Potter, saya selalu berpendapat bahwa Hermione adalah pasangan yang tepat untuk Harry. For some reasons I can’t explain, they're just perfect for each other. Yah, lama-kelamaan saya bisa menerima fakta bahwa mereka tidak akan bersama. Tapi dancing scene antara Harry dan Hermione di film ini membangkitkan kembali perasaan lama itu, huhu. I know they’re like siblings, but that’s exactly why they should end up together.
Ada juga sih bagian yang saya ga suka di film ini, yaitu image 3D Harry dan Hermione yang muncul saat Ron akan menghancurkan Horcrux. Er, berlebihan aja rasanya. Apalagi, banyak penontonnya yang anak-anak, jadi kayanya ga pantas.
Oke, satu hal tentang bioskop Malta. Saat film sedang seru-serunya, tiba-tiba layarnya gelap, lalu muncul tulisan “Intermission” yang disusul dengan iklan-iklan. WTH? Busuk banget lah. Tapi setelah 10 menit, akhirnya filmnya nyambung lagi. Setelah filmnya kelar, rasanya puas!
Sekeluarnya dari bioskop, Valletta sudah agak sepi. Di sepanjang jalan banyak dekorasi yang menyerupai pohon Natal putih tertutup salju, lampu warna-warni, dan lagu-lagu Natal yang diputar lewat speaker. Saya pun pulang dengan hati bahagia.
Oh, I forgot one more thing. Favorite scene? Saat Bellatrix menyiksa Hermione. It’s perfect. You can feel her pain. I almost cried seeing ‘Mudbloood’ written in her arm.