Archive for November 2010

No 3, Maracana Court, two months later

Masih ingat ini? Setelah lebih dari dua bulan, penampakannya agak berubah sedikit. Pertama-tama, karena di meja makan saya ga ada makanan, fungsinya berubah jadi meja belajar. Beginilah penampakan normalnya. Berantakan memang. Udah berminggu-minggu saya ga pernah tau ada apa di balik tumpukan kertas (harusnya sih masih permukaan meja, huhu).

DSC00857Sama halnya seperti ga ada makanan di meja makan, di meja rias saya juga ga ada makeup. Adanya benda-benda favorit saya, yaitu bingkai foto bikinan sendiri, koleksi buku yang baru berkembang lagi, alat tulis, dan postcard. Yah, ada juga sticky notes bertuliskan daftar PR sih. Yang itu jelas bukan benda favorit saya.

DSC00848

DSC00854

Salah satu buku favorit saya adalah Mixed Messages-nya Sempe. Begini salah satu gambarnya. Sangat bagus bukan? Tapi yang bikin lebih bagus lagi adalah di setiap gambar ada percakapan pendek yang lucu dan penuh sindiran.

DSC00895

Apa lagi ya yang berubah? Itu aja sih kayanya. Secara keseluruhan, beginilah penampakannya di malam hari. Sofanya sudah bersarung sekarang, plus sudah ada selimut juga. Saya paling betah deh duduk di situ sambil baca buku, minum susu cokelat, dan selimutan.

DSC00868

Kesimpulannya, rasanya apartemen saya sekarang adalah tempat paling nyaman sedunia, hoho.

Whatever happened to my very long weekend

Baiklah sodara-sodara, alasan saya ga meng-update blog setelah sekian lama (padahal ga nyampe seminggu) adalah karena saya mengalami perubahan jadwal yang cukup drastis. Salah satu kuliah yang saya ambil, judulnya Advanced Issues in LCT 1, baru dimulai minggu ini. Kuliahnya diajar oleh seorang visiting lecturer dari CMU. Oleh karena itu, jangka waktunya lumayan pendek, yaitu 4 minggu. Oleh karena itu pula, kuliahnya dijadikan sangat intensif.

Seberapa intensif? Hmm, let’s see. Tadinya saya kuliah hari Senin dan Selasa doang. Sejak ada si Advanced Issues in LCT 1 ini, kuliah saya jadi Senin-Jumat. Huhu. Oke, banyak sisi baiknya kok, mari didaftar.

  1. Saya jadi lebih sering bertemu teman-teman. Lumayanlah ketawa-tawa dikit.
  2. Jadi lebih hemat karena waktu buat belanja jadi lebih singkat.
  3. Waktu saya jadi terasa lebih berharga. Kalau tadinya sering males-malesan karena berasa punya banyak waktu, sekarang jadi agak rajin dikit.
  4. Saya punya alasan untuk cabut kuliah, hore! Yah, tadinya saya merasa berdosa kalau cabut. Kuliahnya cuma dua hari seminggu, masa mau cabut? Tapi sekarang karena sudah full seminggu, boleh dong saya cabut sekali-sekali, hihi.

Di sisi lain, dunia ini menuntut keseimbangan. Kabar buruknya adalah Advanced Issues in LCT 1 ini ternyata sesuai sama namanya. Advanced, huhu. Isunya adalah Machine Translation, sesuatu yang sudah sering saya dengar dan tadinya saya sambut dengan cukup lapang dada. Pertemuan pertama, perkenalan ama dosennya. Pertemuan kedua, basa-basi dikit tentang Machine Translation. Pertemuan ketiga, what the hell? Pertemuan keempat, #$%)*&^%^^?~!*^&!!

Sebenernya ga horor kok. Materinya cukup beririsan dengan kuliah Corpora and Statistical Methods. Kalau kata teman saya, it’s like killing two flies at the same time. Masalahnya adalah, I can’t even hurt a fly, let alone kill two, huhu. Seriusan deh, dari dulu statistik adalah titik lemah saya (bersama jutaan cabang ilmu lainnya).

Satu hal yang perlu dicatat, saya bukan orang yang gampang khawatir kalau ga ngerti apa-apa di kelas. Dosen bikin ngantuk? Materi membosankan? Pemandangan di luar kelas lebih menarik? Tenang aja, kan nanti bisa belajar dari buku. Begitu pikir saya. Tadinya. Akan tetapi, di kelas itu ada 5 orang tuyul Erasmus Mundus lainnya yang mengangguk-ngangguk tanda mengerti seiring setiap perkataan sang dosen. Pemandangan yang cukup membuat saya merasa terintimidasi.

Jadi itu tentang Machine Translation. Sisa weekend ini harusnya saya habiskan dengan mencoba memahami apa yang sudah diajarkan di kelas. Seharian ini belum sempet (atau males) nyentuh materinya karena banyak PR lain yang menumpuk. Pagi ini saya mengerjakan PR Concepts of AI, yaitu menerapkan neural network backpropagation. Sebenarnya saya ga terdaftar di kelas Concepts of AI, cuma iseng-iseng doang masuk ke kelasnya. Kalau kata Kemal (yang ga pernah ngapdet blog lagi, apdet woy!), masuk ke kelasnya sih wajar, tapi kalo sampe ikut ngerjain tugasnya, itu kerajinan namanya. Yah gimana dong. Semasa di Fasilkom dulu, saya dua kali mendaftar di kelas Neural Network, dua kali pula saya drop. Masa dari jaman dulu sampe sekarang ga ngerti backprop?

Anyway, tugas Concepts of AI (saya anggap) sudah kelar. Selanjutnya masih ada tugas Machine Learning. Yang ini cukup asik sebenernya. Saya mau aja sih menghabiskan weekend ini demi menyelesaikan tugas ini, tapi itu berarti Senin depan saya jadi orang terbodoh lagi di kelas Machine Translation. Jadi besok saya harus bekerja keras memilih-milah IBM1, IBM2, IBM3, HMM. Beh.

Oke, bagi sebagian orang, mungkin dari tadi saya bicara hal-hal gaib. Hihi, abis setres sih, boleh dong ditumpahkan di sini. Suasana hati saya tadi begitu gelap sehingga saya memutuskan untuk mengganti template blog dengan warna-warna yang agak terang. Mungkin saatnya saya tidur sekarang. Besok adalah hari penuh perjuangan. Hmpf.

this is exactly why I love children movies

Untitled

Untitled2

Unt3itled

Untitl4ed

Unt45itled

Plus, I’m in love with Klaus.

let us hope that Mr. Potter will always be around to save the day

Saya kepengen banget nonton Harry Potter. Sayangnya teman-teman saya malah lebih memilih festival film Jerman, zzzz. Mendingan tidur di rumah deh.

Hari ini menandakan tepat 2 bulan saya tinggal di sini. Untuk merayakannya, saya belanja besar di Sliema. Hoho, ga gitu juga sih, emang karena kebutuhan sudah mendesak. Jadi, udara Malta belakangan ini sudah agak mendingin. Tadinya saya tidur hanya dengan satu lapis selimut. Kira-kira sebulan yang lalu jadi dua lapis. Tadi malam saya resmi menambahkan selimut ketiga di tempat tidur saya. Mana belum punya heater pula. Kemarin saat mengurus transaksi sewa apartemen, si JC alias my landlord bilang mau bawain heater buat apartemen saya. Sayangnya, saat transaksi bulan lalu pun dia menjanjikan hal yang sama, tapi rupanya hanya kata-kata manis saja.

Oke, kembali ke acara belanja. Jadi hari ini saya ke Sliema buat beli jaket winter. Ternyata susah juga milihnya. Setelah menghabiskan waktu lumayan lama di toko pakaian, saya pun menuju toko buku langganan. Tapi karena udah agak cape and bawaannya pengen cepet-cepet pulang, jadi ga konsen milihnya. Akhirnya pilihan saya jatuh pada buku-buku berikut:

  • J. D. Salinger: For Esme – With Love and Squalor (a.k.a Nine Stories)
  • J. D. Salinger: The Catcher in the Rye. Sebenarnya udah punya edisi terjemahannya di rumah, tapi berhubung terjemahannya busuk banget, jadi pengen punya yang asli.
  • Judy Blume: Otherwise Known As Sheila The Great.

Ironisnya, di jalan pulang dari acara belanja jaket winter (dan buku), cuaca malah menjadi luar biasa panas. Sampe rumah, saya udah kecapean dan kepanasan. Yang menjadi alasan kenapa saya terkapar di tempat tidur sekarang, instead of nonton film Jerman. Kapan nonton Harry Potter-nyaaaaaa…..

Yah, sebenernya masih pengen nulis, sodara-sodara, tapi kepala saya sudah menuntut istirahat. Semoga besok merasa baikan (metally and physically, huhu).

*dan semua ini membuat saya bertanya-tanya kenapa saya suka sekali menulis judul yang ga nyambung dengan konten post*

kutipan

Belakangan ini saya merasa sangat busuk dalam bersosialisasi. Bukannya tadinya hobi juga sih, hihi, tapi seminggu terakhir ini rasanya ga nyaman banget berada di tengah perkumpulan manusia. Entahlah, lagi ga nyambung rasanya, pikiran melantur kemana-mana. Semalam, saat berjalan pulang dari apartemen teman (yang berarti cuma turun tangga doang) dalam totalitas kesenduan, tiba-tiba saya teringat petikan kata-kata dari Extremely Loud and Incredibly Close yang bikin saya merinding.

What about a teakettle? What if the spout opened and closed when the steam came out, so it would become a mouth, and it could whistle pretty melodies, or do Shakespeare, or just crack up with me?

Yah, ga sepanjang itu juga sih yang keinget, hehe. It’s like hearing your favorite song played on the radio, like having a line of that song stuck in your head for days. Yang sebenarnya bisa membuat suasana hati jadi cukup berantakan. Seriusan deh, padahal saya ga begitu ngerti korelasi antara petikan kalimat di buku tersebut dengan kondisi kehidupan saya saat ini.

It still amazes me, you know, how words can be so beautifully combined and change your life, well maybe not forever, but at least for a few days. Saya masih sering teringat kalimat-kalimat di penghujung Life of Pi:

For example, I wonder, could you tell my jumbled story in exactly one hundred chapters, not one more, not one less? I’ll tell you, that’s one thing I hate about my nickname, the way that number runs on forever. It’s important in life to conclude things properly. Only then you can let go. Otherwise you are left with words you should have said but never did, and your heart is heavy with remorse.

Oke, yang di atas itu saya nyontek dulu dari bukunya, karena yang terngiang-ngiang di kepala saya hanyalah intinya, bukan kata per kata. Lalu ada lagi kutipan mahadahsyat dari Jalan Cinta Para Pejuang:

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan terkibas-kibas

Do you see now why I love books so much? I can’t put it into words. I just know that, they come inside you in a quiet and peaceful way that after reading a book, you’re never the same person you were. As for my case, I become a little weirder. But I can live through a bad day that is full of depressing and embarrassing moments, knowing that it will end with me reading a good book before sleeping.

Kalau ada satu hal yang saya takutkan, itu adalah kalau-kalau saya kehilangan minat membaca. Bahkan sekarang pun, waktu saya untuk membaca sudah semakin sedikit. Salahkan teknologi dan tugas kuliah, hehe.

Oke, hal-hal yang meresahkan hati tertuliskan sudah (huhu, yang mana?). Saatnya menjemput malam dalam balutan selimut.

*tugas kuliah apa kabarnya ya? huhu*

Embarrassing as hell

So that was a total stupidity.

Sometimes I really hate myself *sigh*.

Argh!!!!

bahhhh

Saya sedang bersuasana hati buruk. Mungkin paling buruk sejak menginjakkan kaki di Malta.

Pengen ngomongin orang deh. Ga boleh ya, huhu. Bikin to do list buat besok aja kalo gitu:

  1. Ke bank
  2. Beli telur susu dll di Maypole
  3. Tutorial Corpora dan kelas Grammar Model
  4. Beli bumbu dapur dan ayam
  5. Salin resep
  6. Tanyain John tentang kunci baru
  7. Bikin rangkuman bekprop
  8. Tanya Milos tentang tugas Concepts of AI
  9. Mempersiapkan mental untuk tugas Machine Learning
  10. Memikirkan alasan untuk membatalkan janji, huhu
  11. Memikirkan alasan untuk membuat janji yang baru, huhu

Aduh banyak juga ya. Bodo amat ah, lagi pengen ngeluh.

Sok akrab banget sih. Dih.

Berkuda yuhu

Oke, akhirnya kemaren saya merasakan yang namanya berkuda di perbukitan, hehe. Tadinya sempat terancam batal karena cuaca mendung. Namun berhubung ga ujan-ujan, akhirnya jadiin aja deh.

Janjian berkumpul di halte universitas jam 13.45. Saya sampe jam 13.50, keterlambatan yang wajar. Namun salah seorang teman rupanya baru bangun tidur, jadi nunggu dia dandan dulu. Setelah tuyulnya sampe, rombongan pun bergerak menuju halte yang diperkiran tempat berhentinya bus. Udah lari-lari ngejar bus, taunya salah nunggu. Harus pindah lagi ke halte yang ternyata sangat dekat dari apartemen saya.

Bus yang ditunggu baru datang jam 14.30. Berkendara selama 15 menit, lalu turun di salah satu gereja di Mosta.

DSC00819

Nah berhubung dari situ ke tempat berkudanya ga ada transport umum, jadinya dijemput sama pihak perkudaannya, hehe. Beberapa menit kemudian sudah sampai di istal. Supirnya ngebut gila. Nah ketika sampai itu saya agak kaget ngeliat kuda-kudanya, kok gede banget ya? Hehe, ga kaya kuda-kuda yang di Puncak.

Setelah memilih-milih helm, akhirnya setiap tuyul dipasangkan dengan kuda. Kebetulan saya disuruh naik kuda cokelat bernama Flash. Tapi nyatanya jalannya ga ada cepet-cepetnya. Rupanya si Flash dkk ini sudah hafal rute perjalanannya sodara-sodara, jadi ga perlu disuruh belok udah belok, ga perlu disuruh berenti udah berenti. Huhu.

DSC00821

Kesimpulannya? Lumayan menyenangkan kok duduk di atas kuda di tengah bukit-bukit. tapi kurang menantang, haha. Seusai perjalanan, numpang foto dulu sama Zorro, kuda paling ganteng di situ.

hand-made photo frames

DSC00817

Beginilah jadinya kalau terlalu pelit ngirit. Sebenernya sudah agak lama pengen beli bingkai foto, tapi nunggu gajian dulu. Nah minggu lalu akhirnya saya nerima gaji, mulailah liat-liat bingkai foto. Namun, ternyata harganya lebih mahal daripada dugaan saya. Yang ga ngalay paling murahnya 13 euro. Nah saya ga tau deh untuk ukuran bingkai foto, itu mahal apa engga (berhubung sebelum ini ga pernah beli), tapi satu hal yang pasti: 13 euro terlalu mahal untuk benda yang fungsinya buat pajangan doang. Hihi, memang pelit ya.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk bikin bingkai foto sendiri. Berikut perbekalannya:

  • kardus sereal Nesquik
  • kertas buffalo
  • gunting
  • cutter
  • lem
  • selotip
  • penggaris
  • pensil

Oh tidak, saya ga akan menunjukkan cara membuatnya kok. Kayanya dengan ngeliat aja udah keliatan gimana cara bikinnya, hehe. Intinya adalah, dengan peralatan seperti itu, saya sudah bisa menghasilkan dua buah bingkai foto yang lumayan oke (haha, ngaku-ngaku). Memang sih, saya harus beli benda-benda seperti cutter, kertas buffalo, dll, tapi kan ga sampe 13 euro juga. Duit segitu mah mending buat beli dada ayam, bisa buat makan seminggu, hihi.

Nah, salah satu foto yang dipajang adalah foto dari Lia: pas jadi panitia wisuda semester ganjil. Inget dekorasi laut, inget bikin undangan prisma segitiga merah diiket pita emas, inget sang dek*n nyampah jeruk di mobil. Ah, good memories.

rindu Indonesia

Tidak, saya tidak sedang rindu rumah. Saya sedang rindu Indonesia. Mengerti kan, biasanya (yah ga biasanya juga sih, jarang-jarang, hehe) saya rindu kamar saya, buku-buku saya, keluarga, dan teman-teman, ngemol, masakan Mamah. Tapi belakangan ini, saya jadi berpikir lebih banyak tentang negeri saya secara keseluruhan, alih-alih bagian kecilnya yang saya kenal sebagai dunia saya.

Minggu lalu saya ke Dingli, salah satu kota di Malta. Ada tebing berbatu-batu yang menghadap langsung ke laut. Indah, subhanallah. Tapi saat pemandu hikingnya menyebutkan bahwa itu adalah titik tertinggi di atas permukaan laut di Malta, saat dia menunjuk kumpulan pohon yang paling banyak jumlahnya hanya 100 sebagai “hutan” paling lebat di Malta, saat teman saya bilang bahwa ini adalah kesempatannya untuk ber-scuba diving karena Serbia ga punya laut, saya jadi berpikir sendiri. Selama bertahun-tahun buku pelajaran di sekolah menyebutkan bahwa Indonesia sangat kaya, we took it for granted. Jujur, saya baru sadar sekarang bahwa Indonesia punya segalanya. Gunung, hutan, laut, pantai berpasir, pantai berbatu. Tahukah kalian, Malta harus mengimpor pasir karena semua pantainya adalah pantai batu. Semua ini membuat saya sangat rindu pada Indonesia.

Berada di sini, meskipun damai dan menyenangkan, ternyata bisa bikin lupa diri. Di sini yang saya lihat adalah orang-orang yang berbahagia dan berkecukupan. Berita tentang tsunami dan letusan Merapi ga terdengar kecuali kalau memang saya cari, dan dengan mudah bisa terbaca lalu terlupakan di tengah rutinitas saya yang baru. Sementara saya resah menunggu uang beasiswa sampai ke rekening karena ingin membeli baju dan sepatu baru, ada orang-orang di negeri saya yang sedang berduka kehilangan rumah dan keluarga.

Saya rindu melihat kepala-kepala berkerudung, batik di hari Jumat, suara adzan, masakan Padang, lagu band Indonesia, salat berjamaah. Saya rindu solidaritas yang langsung terjalin setiap kali terjadi bencana, penggalangan dana dan kotak sumbangan yang diedarkan. Dan sebentar lagi, saya akan rindu melihat kambing dan sapi dijual di pinggir jalan menjelang Idul Adha. Ya, saya sedang rindu Indonesia.

I really wish I could be more like a Master student

Like, feeling more interested in word frequency or grammar models, stop thinking that the doomsday will come before Semantic Web can be applied, or stop getting distracted every second by a book or Tumblr. So, what I learned yesterday is that I can’t have Corpora and Statistical Methods sheets and sketch book at the same table, at the same time. Otherwise I would end up with these pictures.

This is a typical house in Malta. You know, with a balcony in upper level, yellowish stones, and bushes of flowers. Actually you can see my apartment building beside this house, but I removed it from this picture. This house is located at the corner where Triq It-Torri and Triq Dun Karm meet. That’s why I write my address as Triq It-Torri and my friends, who live at the same building, write it as Triq Dun Karm.

DSC00705


This one is just a random thought. I don’t really know what this means. A lonely, mysterious man spotted a short, mysterious woman passing by his small, mysterious house. Wth.

DSC00726


Don’t worry, the picture below is not dedicated to anyone, hehe. Just a line of a song: All Time Low’s Painting Flowers. I just think it’s just a very good song, you know, even though taken from Alice in Wonderland movie soundtrack.

DSC00740

Ok, need to stop now. Happy November!