Archive for October 2010

Everything is Illuminated

everything-is-illuminated 

Judul: Everything is Illuminated
Penulis: Jonathan Safran Foer
Penerbit: Penguin Books
ISBN: 978-0-14-100825-7
Harga: Rp 150.000,00
Nilai: 2/5

Saya membuka buku ini dengan ekspektasi cukup tinggi, mengingat Extremely Loud and Incredibly Close adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Buku ini adalah novel pertama JSF, berkisah tentang seorang pria muda, yaitu JSF sendiri, yang datang ke Ukraina untuk mancari tau keberadaan seorang wanita yang pernah menyelamatkan kakeknya di masa pendudukan Nazi. Dalam pencarian itu, ia ditemani oleh seorang penerjemah Ukraina bernama Alex dan kakeknya, serta anjing mereka.

Oke, jadi ternyata saya harus kecewa. Memang sih, narasi Alex dalam bahasa Inggris yang agak aneh awalnya terasa menarik. Tapi at some point, kesel juga bacanya. Kalau narasi Alex terasa cukup menyebalkan, itu belum apa-apa dibanding kisah yang ceritanya ditulis JSF tentang leluhurnya. Jadi semacam story within story gitulah. Nah, selain gaya bahasanya aneh, ceritanya juga ga kalah aneh dan membosankan. Coba bayangkan, kisah tentang kakeknya JSF berhubungan dengan 3000 wanita? Wth. Berikut contoh potongan kisahya:

Bitzl Bitzl R was able to recover the wagon a few days later with the help of a group of strong men from Kolki, and his traps saw more action than ever. But sifting through the remains, they didn’t find a body. For the next one hundred fifty years, the shtetl would hold an annual contest to “find” Trachim, although a shtetl proclamation withdrew the reward in 1973 – on Menasha’s counsel that any corpse would begin to break apart after two years in water…

Pertama kali baca, saya kebingungan setelah beberapa bab pertama. Akhirnya saya memutuskan untuk mengulang lagi, berpikir I must be missing something. Sampai di tengah, saya sempat menyerah karena ga suka cerita dan gaya bahasanya. Tapi akhirnya lanjut lagi deh. Setelah perjuangan panjang melawan kebosanan dan kebingungan, akhirnya saya sampai ke halaman terakhir. Masih dalam keadaan ga ngerti.

Totally overrated. Seriously, what’s so brilliant about this book? Am I stupid or something? Because I really don’t see the point. Hehe, mungkin saya yang ga nyambung kali ya, tapi buku ini benar-benar sulit dinikmati. Nilai plusnya adalah, terlepas dari gaya penulisan dan cerita yang busuk, di sini kita tetap bisa melihat bahwa JSF adalah penulis kreatif. Kombinasi narasi Alex, surat-menyurat antara Alex dan JSF, serta cerita bertingkat bolehlah diacungi jempol.

when you have too much Chomsky in a day

Fase penolakan adalah sesuatu yang pasti dialami kalau kita memasuki lingkungan baru. Buat saya, fase penolakan terlama terjadi ketika saya pindah ke Pekanbaru dulu. Saya sebel dengan orang-orangnya, pelajarannya, sekolah, semuanya. Hal yang sama terjadi saat baru masuk Fasilkom dan kerja di KPEI, meskipun periodenya jauh lebih singkat.

Makanya saya heran ketika beberapa minggu pertama di sini, rasanya kok saya ga mengalami fase itu, hehe. Seneng-seneng aja tuh dengan segala hal yang ada di Malta: orang-orangnya baik, cuacanya nyaman, pemandangannya indah… Dalam banyak hal, saya merasa hidup saya mengalami perbaikan.

Dan guess what? Saya baru mengalami fase penolakan itu sekarang, setelah sebulan lebih. Dan bukan penolakan terhadap Malta, melainkan terhadap kuliah-kuliah linguistik, hehe. Oke, saya sadar kok saya mengambil jurusan ini dengan modal nekat doang, karena saya ga punya background linguistik sebelumnya (saya bahkan ga tau corpus itu apa). Namun belajar linguistik dari awal ternyata tidaklah semudah yang saya bayangkan.

Segala hal tentang linguistik terasa membosankan dan tidak menarik. Ga ada formula matematika, ga ada reasoning deduksi atau induksi, ga ada algoritma. Sintaks, semantik, morfologi, phonetics, phonology, semua itu terasa seperti omong kosong. All the time saya berpikir, why should anyone care? Argh.

Lalu si Chomsky! He’s everywhere. Ya ampun, nama itu ribuan kali disebut-sebut dalam setiap kuliah linguistik. Well, kuliah CS juga sih, tapi ga sering-sering amat. Honestly, saya mulai benci banget sama si Chomsky, huhu.

Masalah selanjutnya adalah saya tidak punya buku. Sebenarnya saya punya prinsip: ga ada yang susah kalau kita mau belajar dari buku. Tapi ga seperti di perpustakaan Fasilkom di mana buku kuliah diperjualbelikan, di sini harus mesen dulu di toko buku. Jadi sampai bukunya datang, saya harus berpuas diri dengan ebook dan slide kuliah, benda-benda yang sebelumnya saya anggap ga berguna.

Hopefully ini cuma sebuah fase. Insya Allah akan segera berlalu. Untungnya temen-temen saya bersedia ngajarin (meskipun pikiran seperti “why should I care” masih sering muncul di kepala saya saat diajarin, hehe).

Oke, saatnya mengingatkan diri sendiri:

  • bahwa saya dikasih uang jajan dalam jumlah sangat besar oleh EU untuk mempelajari linguistik
  • bahwa ini pilihan saya dan meskipun saya sering membuat pilihan tanpa pemikiran panjang, tetap saja harus saya jalani dengan penuh passion (beh)
  • bahwa pasti ada trade off antara sinar matahari dan pemandangan indah dengan kesulitan kuliah
  • bahwa saya adalah computer scientist, jadi tidak seharusnya saya benci berada di depan komputer
  • bahwa banyak yang mengharapkan saya sukses dengan studi ini dan segera pula ke kampung halaman
  • bahwa Tuhan Maha Penolong, jadi jangan lupa berdoa

Saatnya nyanyi dulu biar semangat kalo gitu.

From coast to coast, I'll make the most
Of every second I've been giving with this crowd
Without a doubt, you're all I dream about
At night we lie awake
With stories taking us back to the nights we felt alive
The nights we felt alive

I would've married you in Vegas
Had you given me the chance to say "I do"
Could I make it more obvious, could you
Be anymore obvious

(All Time Low - Vegas)

read and watch

I’m regretting the fact that I didn’t bring more of my old books. Because even though bookshops are very near from my apartment, what I need right now is stories that are familiar. Stories in Indonesian words. Stories with no surprises, that tell the tales I already knew, only to be read over again with a fresh perspective.

I changed this blog template yesterday. And to test how it looked, I scrolled through the posts labeled with ‘books’ and found this post. So, reminded of the book, I looked at its Facebook page and found out that Ang Lee would film it in 3D. Well, I never really liked Ang Lee’s movies so far and the idea of 3D is somewhat intimidating.

Most of the time I am very skeptical about turning books into movies. Because there are things that pictures and sounds cannot capture well enough. Of course at times I was wrong. But I remember reading A Beautiful Mind, which was quite a life-changing read for me. And then I see the movie, which was good, too but very different from the book and reality.

That’s when I realized: movies don’t tell you the truth.

Well, not that it’s a big deal. Haven’t we already had enough of reality? That’s why I always choose movies that are relaxing. A few nights ago I watched (for the second time) Into The Wild with my friends here. They loved it, I hated it. Well, what can I say? What they call as ‘deep and philosophical’ seemed like ‘slow and boring’ to me :D

Speaking about movies, the Internet speed is very fast here in my apartment! Now I can watch shallow, romantic movies whenever I want.

Catching Fire (Hunger Games #2)

catching-fire-new

Judul: Cathing Fire (Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: Scholastic
Harga: Rp. 117.000,00
Rating: 1/5

Oke, jadi ini adalah buku kedua dari seri The Hunger Games. Setelah menyelesaikan The Hunger Games, Katniss dan Peeta kembali ke District 12. Namun rupanya permainan belum berakhir di situ. Meskipun Katniss sudah berusaha menutupi aksi pemberontakannya, Capitol tetap tidak tertipu. Mereka malah mengatur sedemikian sehingga Katniss dan Peeta harus ikut serta lagi di Quarter Quell, edisi Hunger Games setiap 25 tahun sekali.

Ya ampun, seandainya bisa, pasti buku ini sudah saya kasih nilai minus (sebenernya siapa juga yang ngelarang? Hehe. Tapi sekedar konvensi saja, di blog ini range nilai dari jelek ke bagus adalah 1-5). This is totally lame, buhuuu.

Masalah utama yang saya temui di sini adalah karakter-karakternya. Di sini, Katniss seperti kehilangan kepribadiannya. Tidak konsisten, egosentris, dan penuh keluh-kesah. Peeta digambarkan masih sama seperti di buku pertama: lebay. Lalu bagaimana dengan Gale, ibunya Katniss, adiknya Katniss? Saya tidak merasa kenal mereka. Sepertinya mereka cuma tokoh numpang lewat saja, kepribadiannya tidak penting.

Masalah kedua adalah ceritanya. Seriously, semua hal tentang I will do anything to keep Peeta alive dan while you live, the revolution lives? Duh. Maaf saja, ceritanya sangat payah. And I thought this was supposed to be a suspense novel? Well, I almost die of boredom.

Masalah selanjutnya, sama seperti masalah di buku pertama, adalah cinta-cintaannya. Err, menikah? Di usia 16-17? Sama-sama dihantui mimpi buruk jadi harus saling menemani? Setelah begitu sering ciuman (seriously, Collins mendeksripsikan ciuman udah kaya bernapas), Katniss masih belum menentukan perasaannya ke Peeta? Duh. Duh. Duh.

Kesimpulannya: buhuuuu, kembalikan uang sayaaaa!

The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian

part-time-indian1

Judul: The Absolutely True Diary of A Part-Time Indian
Penulis: Sherman Alexie
Penerbit: Little, Brown
Harga: Rp 104.000,00
Komentar: 5 dari 5 bintang

Oke, saya kembali me-review buku. Kali ini adalah buku yang saya beli dalam rangka merayakan keberangkatan saya dulu, hehe. Tokoh utamanya adalah seorang anak Indian Spokane berusia 14 tahun, namanya Arnold Junior. Arnold lahir dengan hydrocephalus dan berbagai masalah fisik lainnya, misalnya giginya yang ada 42 buah dan kirinya yang rabun dekat serta mata kanannya yang rabun jauh. Hihi, kocak deh.

Tadinya Arnold hidup tenteram bersama keluarga dan teman-temannya di tempat penampungan Indian Spokane. Suatu hari di luar kebiasaannya, Arnold melempar buku geometrinya ke wajah gurunya, Mr. P. Percakapan dengan Mr. P sesudahnya membuka mata Arnold bahwa ia harus mencari harapan baru di tempat lain. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pindah ke Reardan, tempat anak-anak kulit putih bersekolah.

Tentu saja ini perubahan besar bagi Arnold. Bukan hanya sahabatnya, Rowdy, marah atas keputusannya, Arnold juga menemui kesulitan di Reardan. Mulai dari naksir Penelope, gadis cantik yang bulimia; berteman dengan Gordy yang jenius; bergabung tim basket Reardan dan bertanding melawan teman-teman Indian-nya. Di sini kita bisa melihat bagaimana seorang anak Indian bergabung dengan komunitas kulit putih. A part-time Indian, seperti apel yang merah di luar, putih di dalam, begitu pengandaiannya.

Jarang-jarang kan saya ngasih 5 bintang buat sebuah buku, hehe. Tapi memang buku ini superb banget deh. Sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dengan tidak menggurui. Gaya bercerita Arnold benar-benar kocak. Plus, Arnold juga hobi menggambar, jadi diari ini penuh dengan gambar-gambar lucu. Most of the time, saya ga berhenti ketawa baca buku ini. Kecuali di bagian-bagian yang sangat mengharukan tentu saja :)

Highly recommended.

It’s a weird thing.

Reservations were meant to be prisons, you know? Indians were supposed to move onto reservations and die. We were supposed to disappear.

But somehow or another, Indians have forgotten tht reservations were meant to be death camps.

I wept because I was the only one who was brave and crazy enough to leave the rez. I was the only one with enough arrogance.

hidup sejauh ini

image

Lingkungan sekitar

Lihat peta di atas? Saya tinggal di Msida, tepatnya di bagian yang diberi tanda A warna hijau. Ke kampus deket banget, tinggal nyeberang, ga sampe 5 menit. Tadinya pas awal-awal, sempet takut juga buat nyebrang jalan raya empat jalur penuh mobil-mobil ngebut. Alternatifnya adalah lewat Msida Skate Park. Sesuai namanya, itu adalah skate park yang dilengkapi dengan terowongan yang menghubungkan jalan-jalan di sekitar situ. Jadi, kalau mau ke universitas, ga perlu nyebrang, tinggal lewat terowongan. Tapi setelah diajak nyebrang sama temen saya (dan ternyata lumayan gampang), saya memutuskan ga mau lagi lewat terowongan-terowongan gelap itu.

Memang sih katanya di sini aman banget. Mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan aja banyak yang kacanya ga tertutup. Kalau malem juga jendela-jendela terbuka lebar. Tapi tetep aja saya takut, hehe.

Nah meskipun apartemen saya cukup strategis dilihat dari jaraknya ke universitas, tidak demikian halnya kalau dipandang dari jarak ke supermarket. Ga bakal kelaperan juga sih. Banyak tempat makan di sekitar universitas, termasuk toko kebab halal. Tapi untuk mencapai toko-toko yang lumayan lengkap, harus jalan dulu melewati Cirku Msida. Di deket situ ada tempat setara Alfamart yang berani-berani menamakan diri supermarket. Jalan agak jauhan dikit, baru deh nemu supermarket yang lumayan memadai. Tempatnya di Triq Testaferrata, sudah termasuk wilayah kota Gzira.

Makanan

Kalau bicara tentang daging halal, beda lagi tempatnya. Lokasi terdekat adalah di Sliema, masih harus jalan lagi dari Gzira. Sebenernya sih harusnya ada jalan pintas ke situ, tapi saya ga berani, hihi. Jadinya memilih rute aman jalan kaki di pinggir laut aja deh.

Sejauh ini saya belum pernah makan daging loh. Cuma pernah makan ayam di apartemen temen muslim dan beli kebab ayam. Kebabnya gede banget, tapi ga seenak Doner Kebab di PIM. Sebisa mungkin saya menghindari makan di luar. Soalnya mahal banget, sodara-sodara! Waktu itu makan ikan di Valletta masa seporsinya 15 euro T_T

Hmm, tentang masakan. Tadinya saya pikir di sini bakal banyak ikan/udang/cumi, tapi di dua supermarket yang saya kunjungi, ga ada tuh. Huhu, terpaksa nyayur deh. Saya baru nyoba bikin tumis kangkung (sebenernya saya ga yakin itu kangkung, tapi rasa dan bentuknya mirip)  dan bakwan. Lumayanlah buat dimakan sendiri, hehe.

Transportasi

Kenapa ke mana-mana saya jalan kaki? Karena saya takut naik bis. Hehe, seriusan deh, dari dulu saya emang takut banget naik transportasi umum. Bukannya sombong loh ya. Masalahnya adalah, saya takut nyasar. Saya santai-santai aja naik Transjakarta, soalnya rutenya jelas, setiap haltenya punya nama, berhenti di setiap halte pula. Nah, bis-bis di sini, meskipun ga berenti seenaknya di pinggir jalan seperti di Jakarta, tetap saja ga berhenti di setiap halte. Nah, saya ga selalu tau di halte mana saya harus/akan berhenti, ga terlalu bisa ngenalin lingkungan dari dalam bis, bahkan ga hafal ngerti bisnya. Kalau ga sama temen, mending jalan kaki deh.

Penduduk

Secara umum, warga Malta adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka sangat ramah dan helpful. Kalau saya ketemu ibu-ibu dalam perjalanan ke minimarket Maypole pagi-pagi, pasti pada senyum dan bilang, “good morning”. Kalau lagi nyasar di jalan juga, pasti orang-orang di sini bersedia membantu nunjukin arah. Nah, satu keuntungan lagi, mereka lancar berbahasa Inggris dan mau menggunakannya. Ga kaya di Prancis yang katanya pada sombong dan ga sudi pake bahasa Inggris, hihi.

Cuaca

Satu hal lagi yang jadi nilai plus di Malta adalah cuacanya yang bersahabat. Secara umum di sini lumayan hangat. Terik memang, makanya wajib bawa sunglasses ke mana-mana. Belakangan ini lagi lumayan sering hujan. Asik deh.

Kesimpulan

Kesimpulannya, berdasarkan pengalaman saya tinggal di sini selama 3 minggu ++, Malta is a nice place to live. Saya merasa beruntung sekali tinggal di sini!

The joy of being a Master student

DSC00645

Ok, this post has nothing to do with the title. See my timetable up there? On Monday I have a night class until 8 PM. And on Tuesday, oh Tuesday is full of lectures from 8-16 nonstop, not even a lunch break! But after that looks like I have a very long weekend, hehe.

So this is the summary of all the classes I’ve taken this far.

  1. Machine Learning, Expert System, and Fuzzy Logic. This is extremely good. I take the night class, which has fewer students. A 15-minutes break is usually spent by running to my apartment, do maghrib prayer, and running back to the class. But fortunately I have talked about this to the lecturer and he’s fine with me coming back a bit later.
  2. Languages, Automata, and Compilers. For this semester we will only study formal languages and automata. Lectures on compilers will be held in next semester. Well, this should be pretty easy, but I kind of hate the lecturer and how he makes interesting stuff scary to those bachelor kids by saying “if you can’t do this, you will fail” all the time.
  3. Seminar Presentation. This will be full of reading, writing, and speaking, Duh. I will definitely hate this class.
  4. Semantics for Language Technology. This is rather relaxing. All the philosophical talks about semantics, meanings, and definitions? It is a perfect time to daydream :)
  5. Logic Programming. I’ve learned Prolog before, so hopefully I’m still familiar with this stuff. Today’s class was fun, a lot of jokes.
  6. Corpora and Statistical Methods. This is my last class on Tuesday, which means I’m already exhausted and overwhelmed with too much information. The lecturer is the same from the Semantics for Language Technology class. I think in time I will like it. Today I was only half listening of linguistics stuff. But the probabilistic is fine though.
  7. Concepts of AI. So basically I’m not registered for this course because it will leave me with too much credits. But I came to this class last week and it was pretty interesting, so maybe I will just sit in this class and listen.

There they are. I still have two more courses (Finite State Machinery and Morphology, and Advanced Issues in LCT 1), but they won’t start until November-December, so I don’t have to worry until then.

So far I think this is quite fun. Wish me luck :)

sulit fokus

*post ini adalah salinan dari tulisan tangan karena komputer adalah benda perusak konsentrasi*

Jadi buku merah ini sepertinya berubah fungsi jadi catatan iseng-iseng. Tadinya dimaksudkan untuk menulis hal-hal keren seperti daftar dokumen yang dibutuhkan untuk aplikasi residence permit, janji ketemu seseorang (halah, siapa pula?), dan lain-lain. Tapi ya sudahlah.

Belakangan ini memang sulit rasanya buat nulis blog. Sebentar-sebentar liat Plurk, Facebook, Tumblr, meng-update status, chatting, dan ngutak-ngatik playlist. Bahkan selagi saya nulis di sini, sesekali saya ngelirik hp buat ngecek keberadaan sms atau email baru.

Distractions.

Padahal, studi menunjukkan multitasking hanya membuat manusia lebih sulit mengingat dan lebih buruk kinerjanya. Dan meskipun kita semua sudah tahu itu, tetap saja dilakukan. Yah, dengan media-media seperti itu, mana bisa konsentrasi pada satu hal aja?

Sepagian ini saya online, berniat menulis blog dengan post yang sedikit lebih bermakna, tapi ujung-ujungnya ga selesai karena saya lebih disibukkan dengan aktivitas hiburan lainnya. Akhirnya cuma berujung dengan meng-update status Plurk dan Facebook. Saya rasa itu sebabnya orang-orang lebih suka berkomentar di status daripada blog post. Susah buat fokus pada tulisan panjang.

Seriusan loh, jaman sekarang sepertinya udah jarang banget melakukan satu hal pada satu waktu. Sejak di sini, saya bahkan ga pernah makan tanpa buku atau laptop di hadapan saya, ga pernah baca tanpa hp standby di samping saya.

Itulah sebabnya saya menulis di buku ini dan bukannya langsung di Windows Live Writer seperti biasanya. Semua hal tentang multitasking ini bikin gila. Sedikit di sini, sedikit di sana. Sedikit pula yang nyangkut ke otak. Kerjaan jadi jauh lebih lama selesainya.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Itulah gunanya beribadah bukan? Untuk berkonsentrasi, berfokus pada Allah SWT. Nyatanya, lagi solat pun pikiran suka ke mana-mana. Kalau lagi solat sendiri, sering lupa rakaat. Kalau lagi solat berjamaah, tau-tau udah salam.

Dan pada akhirnya saya lihat dalam waktu yang lumayan singkat ini saya sudah menulis dua halaman di buku ini. Jauh lebih banyak daripada yang saya tulis sepagian di editor (hasilnya bisa dilihat pada post sebelum ini, hihi).

blah

Lagi ga napsu ngapa-ngapain. Kemarin pas banyak kerjaan rasanya pengen banget ngeblog, sekarang pas lowong malah kehilangan kata-kata. Dudududu.

I think all of us are always five years old in the presence and absence of our parents.
- Sherman Alexie

That explains why my father added my friends on Facebook T_T

first semester starts

I should be writing an essay for Seminar course now. Ok, maybe not now, but soon. I really have a bad feeling about this. Well, I know it's just an academic writing. This is of course not my first time of academic writing and many people say they like the way I write (but for this blog, which is of course not academic). And it's not like I completely believe in what they say.

Oh God, please tell me this is just a beginning-of-a-semester nervousness. I can't even think of an interesting topic to write. Honestly, if it's academic, how can it be interesting? T_T

So that's Seminar. Last night I had Machine Learning. It was 2 hours of awesomeness! Ok, he explained things I already know from bachelor studies, but the course was a very good way to refresh my mind. Formal Languages this morning was horrible. But the course is similar to Teori Bahasa dan Automata (in which I once was a teaching assistant), so I hope I won't miss a lot if I frequently skip the class. Besides, two of my friends are in that class too, so I can copy their notes. Hehe.

Apart from those three, the other courses are so-so (halah, sombong). Ok, I really need to think of an academic topic now. Dududu, apa ya? Hehe.

almost two weeks

DSC00493

I’ve been trying to capture the beauty I see here, but somehow photos don’t do their job very well. This is Gzira, fifteen minutes walk from my apartment. People say it’s five minutes, but for me it’s fifteen at my fastest walk. This is not the best view after all. I walked here with my friend in the hottest time of the day and we didn’t have the strength to walk further to get a better view.

It’s almost two weeks. I became familiar with the buildings of yellowish stones, the smell of cattle during my walk to Maypole bakery, the stronger wind as I get closer to the sea, and a bunch of fluffy cats I frequently see on the street. Perhaps what I like most is the way everyone tries to make you feel at home. As my friend said, most people here look happy.

There’s a question about being a muslim too. At first I was worried, because when my landlord promised to pick me up at the airport, he asked, “will you wear traditional costume as in passport photo?”. Yes, traditional costume. That made me wonder if he had ever seen a woman with scarf here. But it turns out to be ok too. I saw a few girls with scarves in the university. And the advantage of being the minority is, it creates a kind of solidarity. They smile at me. A woman I met on a clinic asked me about halal meat shop. A random guy on the street said Assalamualaikum, which I gladly answered. Back in Indonesia, kalau ada pria ga dikenal yang menyapa, konotasinya hampir selalu buat ngegodain.

My apartment is very nice, but I can’t help but envy my friends’ apartment that happens to be in the same building. They have a balcony, and in the night you can see all the beautiful street lamps and feel the strong, cold wind. In my apartment you can only see a piece someone’s garden from the roofless terrace. And if it rains, the terrace gets very dirty. But you can’t have everything in life.

And my friends, they are great too. None of them is Indonesian, but it’s fine. Even with this very limited spoken English, I can still smile and laugh. So, yes I like it here. I miss my family a lot. I miss my home, I miss my books. And at times it’s so hard to have so many things to handle at once: residence permit, study plan, administration, bank account. But then I think that all of my friends hare are facing the same problems too, and at some point this will all be over, so I throw my worries away.