Archive for September 2010

jalan-jalan ke Sliema

Oke, saatnya membuat tulisan yang lebih terorganisasi (terorganisir ga baku kan ya?). Belakangan ini saya memang malas sekali nulis blog. Waktu di depan laptop lebih banyak dihabiskan dengan chatting, skyping, dan memantau situs-situs jejaring sosial, hehe. Kalaupun nulis, palingan nulis keluhan-keluhan di buku merah.

Jadi, Malta sedang menyambut “musim dingin”. Alih-alih salju seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, di sini cuma dapet hujan pas musim dingin. Bagus deh, hehe. Nah, tentunya saya kan pengen ikutan bersiap-siap menyambut musim dingin, alias sedia payung sebelum hujan. Masalahnya, ga ada yang jual payung di kota tempat saya tingga, Msida. Di salah satu toko yang saya jelajahi, penjualnya bilang, “we don’t have umbrella here. You have to go to Valletta, Sliema, or Gzira”. Er, oke.

Kebetulan sore kemarin saya diajak jalan-jalan ke Sliema oleh teman saya. Jalan-jalan di sini artinya jalan kaki, hehe. Daaan, jalan kaki sore-sore di Malta sangatlah menyegarkan, sodara-sodara. Berangkat dari Msida, melalui Gzira, terus sampe deh ke Sliema. Berhubung temen saya nyari-nyari jalan alternatif ke sana, jadinya lebih jauh dan lebih lama dari seharusnya T_T.

Ok, I know a picture paints a thousand words, tapi kemarin udah terlalu gelap untuk ngambil foto. Jadi saya jelaskan dalam seribu kata aja ya, hehe. Kalau Msida begitu tenang (cenderung seperti kota mati), Sliema jauh lebih menarik. Mendekati Sliema, anginnya udah terasa beda. Lebih kenceng dan beraroma laut. Pemandangan menuju laut di sana sangatlah indah sodara-sodara. Pas saya sampe udah gelap, jadi banyak lampu-lampu gedung di pinggir laut. Orang-orang juga berkumpul di luar. Sepanjang jalan di pinggir laut, ada yang olahraga, ada yang duduk-duduk di bangku kayu, ada yang makan di restoran-restoran kecil.

Nah banyak tempat belanja juga di Sliema. Akhirnya nemu supermarket yang bisa saingan sama Carrefour, hehe. Tapi di situ pun ga jual payung. Saya nemu payung di kios pinggir jalan, deket tukang jualan kartu pos. Kapan-kapan beli kartu pos ah. Pokoknya saya suka sekali Sliema!

Hari ini saya balik lagi kok ke Sliema buat medical ckeckup, hihi. Aduh kalo mikirin urusan administrasi, residence permit, dll, rasanya pusing banget deh. Huhu. Mudah-mudahan semua bisa segera selesai biar saya tenang jalan-jalannya, hehe.

postingan pengisi waktu

Jadi sudah hampir seminggu saya di Malta. Sejauh ini, hmm, gimana ya. Begini kira-kira.

Saya biasa bangun sekitar jam 2-4 pagi selama di sini, meskipun subuhnya masih sekitar jam setengah 6. Udah ga bisa tidur lagi sih. Dan seperti di lagu, bangun tidur saya langsung nyalain modem dan online, hehe. Biasalah, ngecek email, chatting dikit, browsing dikit. Setelah itu bersih-bersih apartemen. Diusahakan sih nyapu dan ngepel tiap hari. Terutama kalau habis hujan. Berhubung teras saya terbuka tanpa atap, kalau habis hujan pasti agak kotor.

Satu hal yang paling menyenangkan di pagi hari adalah saat membuka pintu kaca menuju teras. Seger. Di sini juga banyak bintang, ga kaya di Jakarta. Beberapa hari sekali saya jalan pagi-pagi ke minimarket Maypole buat beli makanan. Untuk urusan makanan, sejujurnya sampai saat ini saya belum repot-repot. Cukup roti gandum dengan coklat/mentega/keju/telur. Sebagian karena saya belum nemu supermarket atau toko daging halal di sekitar sini, sebagian karena emang saya doyan banget Nutella. Bahkan, kalau ga khawatir dengan asupan protein, saya rasa saya bisa makan roti gandum isi Nutella setiap hari selama setahun ini. Saya juga ga rindu nasi, meskipun udah beli beras. Roti gandum terasa lebih praktis, enak, dan mengenyangkan. Makan nasinya ntar aja deh kalo udah menemukan lauk yang sepadan, hehe.

Saya belum banyak keluar dari Msida, kota tempat saya tinggal. Kemarin main ke Valletta. Males cerita ah. Kalau pengen tau liat album foto di fb aja yah, hehe. Intinya sih, ga mungkin pergi ke manapun di sini tanpa nyasar. Kemarin juga nyasar sampe jauuuuh banget. Sekarang masih pegel, jadi seharian ini rencananya ngaso aja di apartemen sambil chatting sama pacar, hehe.

No. 3, Maracana Court

Dulu, saya sempat dibuat pusing dengan urusan akomodasi. Pasalnya, pihak universitas ga menyediakan akomodasi. Memang sih ada yang namanya University Residence, tapi banyak pihak yang ga menyarankan tinggal di situ (bahkan termasuk universitasnya sendiri :D). Selain itu, di situ juga bentuknya shared flat yang terdiri atas 6 kamar. Yah males dong.

Akhirnya saya sok akrab memperkenalkan diri ke beberapa (sebenarnya cuma 2) senior dan minta rekomendasi tempat tinggal. Mereka bilang penawaran terbaik bisa dilihat di koran lokal. Salah satunya menyarankan saya tinggal di hotel dulu baru cari apartemen setelah sampai. Karena hal terakhir yang saya inginkan setelah sampai di Malta adalah direpotkan urusan akomodasi, tentu saja usul ini tidak applicable. Untungnya, saya dikasih link situs iklan-iklan apartemen juga.

Jadi saya mulai nyari-nyari iklan apartemen. Ternyata nyari apartemen single di Malta susah juga sodara-sodara. Selain jarang, mahal pula. Yang sering disewakan kebanyakan bentuknya shared apartments. Jadi, waktu itu pilihan saya sangat sedikit, ditambah lagi harus diburu-buru bukti akomodasi untuk urusan visa. Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa apartemen yang keliatan paling bagus dari seseorang yang kita sebut saja namanya JC. Hoho. Sewanya 350 euro sebulan, tapi belum termasuk ongkos listrik dan air, huhu.

Si JC ini lumayan baik orangnya (terlalu baik malah). Banyak mempromosikan Malta dan menawarkan diri menjemput di airport secara cuma-cuma. Nah, 2 hari yang lalu sampailah saya ke apartemen yang dimaksud (dengan memanfaatkan tawaran tumpangan gratis). Beginilah penampakannya, apartemen nomor 3 di Maracana Court.

DSC00370

Begitu masuk, beginilah pemandangannya. Seperti yang terlihat, ada dua single bed, yang saya gabung jadi satu biar tidurnya lega. Lalu ada tv (why would I need it?), AC, dan lemari. Lebih jauh dikit, ada tirai yang menutupi pintu kaca dan kawat nyamuk menuju teras (kebetulan pas foto ini diambil, saya lagi ngejemur :D).

DSC00368

Kalau dilihat dari sisi sebaliknya, begini keadaannya. Ada dapur dan meja makan. Jeleknya, di sini ga ada meja belajar, jadi meja riasnya saya pake buat belajar (atau tepatnya meletakkan laptop, karena saya kan belum mulai belajar). Nah lalu ada juga sofa buat nonton kulkas. Hehe seriusan, abis letaknya te[at di depan kulkas sih. Kalau mau nonton tivi (yang, ngomong-ngomong, belum pernah saya nyalain) mah enakan dari tempat tidur.

DSC00365

Suasana meja di sisi tempat tidur.

DSC00353

Begini keadaan dapurnya. Lumayan lengkap dan asik pokoknya. Waktu gambarnya diambil, kulkasnya masih kosong. Sekarang udah ada telur, susu, dan jus, hehe.

DSC00347

DSC00350

DSC00357

Selanjutnya, kamar mandi. Lumayan oke juga.

DSC00361

Ada mesin cuci juga.

DSC00362

Nah satu lagi. Berhubung pintu apartemennya auto-lock, saya tempelin kertas berikut di bagian dalam pintu.

DSC00359

Demikianlah apartemen saya. Sewa 350 EUR wajarlah ya, kalau udah mencakup ongkos listrik dan air, huhu. Sayangnya pada kenyataannya ga gitu. Kata si JC sih kalau hati-hati menggunakan AC dan water heater, ga perlu khawatir soal tagihan. Bukan masalah sebenernya. Saya ga bisa membayangkan orang sinting mana yang mau mandi air hangat di Malta. Lalu AC-nya juga sama aja kaya snack, alias angin doang, hehe. Sejauh ini bisa tidur dengan sangat nyaman tanpa AC.

Selesai. What do you think?

Perjalanan

Here comes the long-awaited post. Hoho. Hm, maap yah kalo minim foto, saya males ngeluarin kamera sih. Tapi saya bawa buku notes merah, jadi ceritanya diambil dari catatan berantakan di sana aja yah.

DSC00343

19 September 2010, 19.30 WIB s/d waktu yang disebutkan selanjutnya.

Pamit ama sodara dan tetangga. Berangkat dari rumah saya menuju CGK.

19 September 2010, 20.45 WIB s/d waktu yang disebutkan selanjutnya.

Sesi foto terakhir di Jakarta.

DSC00327

19 September 2010 21.20 WIB s/d waktu yang disebutkan selanjutnya.

Ngantri check in, ngurus bebas fiskal, dadah-dadah terakhir kali, ngelewatin imigrasi, lalu duduk di ruang tunggu.

Selanjutnya saya ambil dari apa yang tercatat di notes merah aja ya :D

-----Mulai-----

19 September 2010, 22.55 WIB
Bandara Soekarno-Hatta, ruang tunggu E1

Berhubung saya sedang menuju tempat berbahasa non-Indonesia, jadi saya akan menulis dengan Bahasa Indonesia saja, hehe.

---sensor (alias ga penting)---

Aduh, lama amat yak nunggu boarding. Pengen tiduur.

20 September 2010, 03.30 WIB
Samudera Hindia (atau begitulah kata tv)

Mau tidur rasanya susah amat. Tidur sebentar-sebentar. Rasanya udah lama banget tapi ternyata cuma setengah jam. Perut mulai terasa laper. Tadi dikasih roti sama kueh ga jelas. Saya memang ga mengharapkan makanan enak di pesawat sih, tapi tentunya bukan roti alot yang keras juga. Untung bawa Breadtalk, hehe.

Kebanyakan penduduk pesawat lagi tidur. Saya ga bisa tidur lagi, huhu. Males nonton juga. Kabar baiknya adalah mata saya udah ga bengkak lagi, udah ga terlalu sakit sekarang.

Di luar gelap gulita. Kecuali bulan yang bulat penuh, saya ga bisa liat apa-apa lagi. Baiknya coba tidur lagi deh, masih ngantuk.

20 September 2010, 06.40 WIB
Laut Arab.

Sebentar lagi sampe Dubai. Masih sekitar sejam lagi sih. Barusan dari kamar mandi sekalian ngaca. Ternyata tampang saya kacau juga.

----Selesai----

20 September 2010, lupa jam berapa, harusnya sekitar 05.30 waktu Dubai.

Sampai di Dubai. Bandara gede banget yah, hehe. Suasananya kaya mol. Liat-liat papan info penerbangan. EK 107 di gate 127. Jalan lumayan jauh juga buat nyari gate-nya.

DSC00333

Setelah ketemu, muter-muter nyari minuman.

DSC00341

Beli smoothies seharga 7 USD. Enak juga, langsung kenyang. Habis itu duduk-duduk aja nunggu gate-nya dibuka sambil smsan.

20 September 2010, lupa jam berapa, harusnya sekitar 08.35 waktu Dubai

Masuk ke pesawat, menuju Larnaca, Siprus.

20 September 2010, sekitar 15.00 WIB

Sampai di Larnaca. Sebagian besar penumpang turun, saya tetap tinggal di pesawat. Datanglah pasangan tua yang duduknya terpisah koridor. Kakek-kakeknya duduk di sebelah saya. Saya ajak nenek-neneknya tukeran aja biar mereka bisa bersama, huhu.

Nyontek dari notes merah lagi.

-----Mulai-----

20 September 2010 17.40 WIB, 12.40 waktu Malta

Lagi di atas Laut Mediterania. Cape luar biasa. Harusnya ga sampe sejam lagi sampe. Tapi pegel banget, duh. Lelah. Perut mual gara-gara Greek salad, bah. Hm, ga sabar pengen keluar dari pesawat, huhu. Capenyaaa.

----Selesai----

20 September 2010, 13.30 waktu Malta

Akhirnya sampai. Turun dari pesawat, diangkut pake bis shuttle menuju pintu non-EU arrival. Ngisi form kedatangan, antri imgrasi, ambil bagasi. Semua selesai dengan cepat. Nunggu jemputannya si John agak lama. Akhirnya ketemu juga ama si John. Ternyata udah tua. Setelah itu dianter ke apartemen.

Udah dulu ceritanya. Belom mandi. Belom nyetrika juga, duh.

Six Feet Under The Stars

Ok, it turns out I still have the time to write another blog post. I think my feelings now are quite different from this morning: a little scared and sad, and a lot nervous and sleepy. It's like when Harry had to face the Hungarian Horntail for the First Task in Triwizard Turnament. Remember when he had to wait for like, forever, in the tent because he got the last turn after Cedric, Fleur, and Krum?

That's exactly how I feel.

I was still feeling calm when we (me and my boyfriend) went to Pejaten Village this afternoon and had spaghetti/waffle/pancake. So here's the story. I had to wait a very long time for my waffle, so when his spaghetti came first, I ate half (or more) of it, which left him still feeling hungry, so he ordered a pancake. Then my waffle came and I finished it in a second. Then his pancake came and turned out he was not that hungry, so I ate half of it too. I really need to control my appetite.

So with my stomach full and my bags packed, I tried to sleep, but of course failed, otherwise I wouldn't be sitting here. I've packed my cabin bag with Al Matsurat (in case I get sad), the book Catching Fire (in case I get bored), and a notebook and a pen (in case Catching Fire is boring). I really hope that everything goes well, that I won't leave any important documents at home, that I won't miss my flight or get lost in Dubai airport. Or suddenly forget how to speak English.

I can promise that this is the last blog post from Indonesia. I'm saying goodbye (or see you, whatever) to all the things I've known my entire life, and preparing myself to whatever comes soon. And I'm singing along with Alex Gaskarth on the last song on my playlist:

Meet me on Thames Street
I'll take you out, though I'm hardly worth your time
In the cold you look so fierce but I'm warm enough
Because the tension's like a fire
We'll hit
South Broadway in a matter of minutes
And like a bad movie, I'll drop a line
Fall in the grave I've been digging myself,
But there's room for two
Six feet under the stars
(All Time Low - Six Feet Under The Stars)

Because in a couple of hours I will be six feet under the stars.

Hari Keberangkatan

Here it comes at last. Huhu. It still feels like a dream, I wish someone would slap my face. Tadi pagi sempet senewen dikit, terus tidur lagi dan hilanglah perasaan itu. Sekarang rasanya seperti berangkatnya masih lama.

Belum ada perasaan sedih atau apa sehubungan dengan keharusan meninggalkan semua ini. Kecuali mungkin terhadap kamar saya. Rasanya sulit membayangkan harus berpisah dengan ruangan ini. Orang-orang rumah masih biasa-biasa aja. Ga ada suasana mengharu-biru, karena emang ga ada perasaan seperti itu sih, hehe. Jangan-jangan memang bener saya ga punya perasaan, hihi.

Kemarin ada acara kumpul keluarga besar melepas kepergian saya. Definitely not my idea of spending the last day in Jakarta. If it was up to me, I would rather go the mall and drink smoothies. Dan terbukti, sekarang badan saya terasa remuk dan mata saya bengkak akibat kecapean di acara kemarin. Bah.

Ada kisah. Jadi beberapa waktu yang lalu sepupu kecil saya minta buku. Saya kasih The Miraculous Journey of Edward Tulane. Rasanya beraaaaaat banget berpisah sama buku itu, terutama mungkin karena saya merasa buku itu untuk orang dewasa yang sudah lupa nilai-nilai penting kehidupan (dan karena saya pelit). Tapi berhubung sepupu kecil itu suka buku tersebut dan saya lagi berusaha mengurangi sifat medit saya, akhirnya saya relakan juga. Who knows, maybe by the time she grows up, she will realize just how good the story is. And yesterday, she came to me and gave me Detective Conan #59 sebagai kenang-kenangan. Isn't that sweet? Hehe, sesungguhnya saya merasa cerita misteri pembunuhan sudah cukup seram tanpa harus ditambah gambar mayat. Tapi berhasil saya tamatin kok pagi ini, hehe.

Yah ini mungkin akan menjadi post terakhir saya dari Jakarta untuk tahun ini. Sebenarnya ingin membuat postingan yang mengharukan, tapi sayang lagi ga mood, hehe. Mungkin nanti siang nulis lagi. But in case ga ada waktu lagi, saya ucapkan perpisahan di sini. Mohon doanya! Sampai jumpa di postingan berikutnya dari Malta!

H-4

I’m in my room, listening to All Time Low and Automatic Loveletter on my foobar playlist, and writing posts for two of my blogs. This could be another typical night from months ago, when in fact it’s only four days before my departure.

There’s not much change in my bedroom, except for an extra large suitcase beside the book shelves. It is already 3/4 full. I planned to bring two of my old books to keep me from being lonely, but turns out I only packed one old book: The Penderwicks. And bought four new books. Yes, four! I knew, considering the thickness, they would take up too much space and were quite heavy, but still. So here they are:

untitled

  1. Catching Fire (The Hunger Games #2) – Suzanne Collins. I bought the paperback edition, as the price was almost half the hardcover edition. I doubt this book will make me feel like home, but at least this will keep me busy during the flight.
  2. Everything Is Illuminated – Jonathan Safran Foer. Um, since Extremely Loud and Incredibly Close is extremely awesome, I was curious to read another book by Jonathan Safran Foer.
  3. The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian – Sherman Alexie. I really don’t know what this book is about. I bought it just because it has a good title and cover.
  4. Every Soul A Star – Wendy Mass. I don’t know anything about this YA novel either, except that the cover gives a heartwarming feeling.

One more thing about books. Several nights ago I arranged some of my books into a writing. I wanted to form a long sentence like “Home is where your books are” or anything. But since there was not enough space in my bedroom floor and I had no idea how I could take photo of that many letters, I only wrote: READ. Here it is, I printed and made it a bookmark (if you look closely enough, the bottom of E was made from Twilight :p):

Copy of DSC00259

That’s it about books, I must have bored you. Clothes, shoes, travel documents, instant noodles, they are all packed. I really hope everything will be ok. See, I’m a bit nervous because I’m not nervous, huhu.

Seeing my bedroom now feels kind of weird. Everything still looks the same. A queen-sized bed covered in broken white sheet, with books on the left side for night readings. A tv that is barely ever switched on. Some shelves made colorful by the spines of books. My room has always been the brightest room in the house. That’s because I want extra bright light to read. At 3 am, the light is already turned on, and you can hear the computer playing emo songs.

But in a couple of weeks, those shelves will be all dusty, there won’t be any books in the bed. There won’t be any books anywhere but on the shelves. No vague sounds of Quietdrive or The Used. It’s funny, because I feel sad not for myself for being away from home, but for the people here to see my empty room. I mean, I barely ever leave this room. And imagining them seeing those untouched books, this silent computer, somehow makes me feel so sad.

The Hunger Games (Hunger Games #1)

hunger_games(1)

Judul: The Hunger Games (Hunger Games #1)
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: Scholastic Press
Rating: 3.5/5

Sebelum menulis tinjauannya, mau curhat dikit. Saya baru tau ternyata buku ini sudah ada terjemahannya. Grh, tau gitu beli terjemahannya aja.

Baiklah, Hunger Games ini adalah seri yang sedang naik daun. The Hunger Games adalah buku pertamanya. Ceritanya tentang sebuah negara bernama Panem, yang terdiri atas Capitol sebagai pusatnya, serta tiga belas distrik lainnya yang jauh lebih miskin. Jumlah distrik ini pun berkurang setelah District 13 memberontak dan dihancurkan oleh Capitol. Untuk memperingatkan kedua belas distrik lainnya akan kekuasaan Capitol, dibuatlah suatu permainan bernama The Hunger Games.

The Hunger Games adalah permainan di suatu arena yang menuntut pesertanya untuk membunuh peserta lain untuk bisa bertahan hidup. Membunuh atau dibunuh, begitulah peraturannya. Pesertanya ada 24 orang: seorang pria dan seorang wanita dari masing-masing distrik, dengan kisaran usia 12-18 tahun. Permainan ini direkam melalui kamera yang ditempatkan di mana-mana dan disiarkan kepada penonton.

Katniss Everdeen, tokoh utama buku ini, adalah peserta dari District 12. Sejak awal permainan, ia memperhitungkan sikap dan perilakunya untuk menarik simpati penonton dan sponsor. Para sponsor inilah yang nantinya akan mengirimkan “hadiah” yang dapat membantu peserta untuk bertahan hidup di arena.

Komentar

Di bagian awal, buku ini terlihat menjanjikan. Di sinopsisnya tertulis: But if she is to win, she will have to start making choices that weigh survival against humanity and life against love. Bikin merinding bukan bacanya? Hihi.

Tapi nyatanya, Katniss tetap harus membunuh. Agak kecewa bacanya, tadinya saya kira ia akan menentang aturan biadab the Hunger Games. Memang ada pemberontakan yang dilakukan Katniss, tapi itupun sangat implisit dan segera disamarkan. Mungkin karena baru buku pertama kali ya? Hehe.

Satu hal yang membuat saya menurunkan penilaian saya sebanyak 0.5 poin adalah: romansa (halah) dengan Peeta Mellark. Peeta adalah peserta dari District 12 yang menyatakan perasaannya kepada Katniss di hadapan publik. Mengira ini adalah strategi Peeta untuk mendapatkan simpati penonton, Katniss pun berpura-pura membalas perasaan Peeta, tentunya untuk mendapatkan sponsor juga.

Nah bagian cinta-cintaan inilah yang terasa mengganggu. Sejak dulu saya ga pernah setuju dengan pertunjukan cinta di hadapan publik. Dan menurut saya, pria yang menunjukkan perasaannya kepada seluruh dunia baiknya langsung ditolak saja. Tapi, mau ga mau saya harus setuju bahwa itulah selera publik. Memuakkan memang, tapi saya bisa menerima bahwa itu cara yang ampuh mendapatkan simpati publik.

Overall buku ini lumayan seru. Ide awalnya bagus, karakternya menarik, gaya berceritanya juga ga bikin bosen. Bolehlah beli lanjutannya kalau ada duit.

Ramadhan comes to an end

Here comes the last day. This Ramadhan has been much better than the one last year, but I can’t say I’m satisfied with my accomplishments either. I take this month like something of a refuge. Everytime I have this uneasy feeling in my stomach about the departure, I would curl under my blanket and think, “it’s still a long time to go, you don’t have to worry about that now”. But once Ramadhan ends, I think I should face the fact that it’s only a week before heading to a huge change of my life.

Anyway, let’s not worry about those things now. Lanjut pake Bahasa Indonesia aja ah, hehe.

Beberapa hari ini saya dan ibu saya membuat kue-kue Lebaran. Setiap tahun jenisnya selalu sama: kaastengel, nastar, dan chocolate chip cookies. Daaan, saya sangat hobi dengan yang terakhir.

Jadi kemarin adalah hari membuat chocolate chip cookies. Beginilah penampakan adonannya.

DSC00154

Dan setelah mateng, wangi sekali sodara-sodara. Berhubung saya lagi ga puasa, langsung nyicipin tiga buah, hehe. Tidak lama kemudian, datanglah sepupu-sepupu kecil dari rumah sebelah. Katanya wangi kuenya menyebar ke mana-mana, hihi. Mereka jadi pengen buka buat nyobain (yang tentunya langsung dilarang oleh saya dan ibu). Memang buat anak kecil, cookies cokelat yang baru matang sangatlah menggoda. Setelah diusir dan ga nurut, akhirnya mereka harus berpuas diri hanya dengan memandangi dan menghirup aroma kuenya.

DSC00165

Nah, berhubung cookies cokelat ini biasanya paling laku, ibu saya tadinya berencana membuat dalam empat adonan. Ternyata cokelat chipnya ga cukup, jadi minta tolong tetangga buat beliin tambahan cokelat di pasar. Sayangnya ga ada merk yang diinginkan, jadi ya sudahlah beli merk lain aja.

Ternyata di tengah jalan, terjadi percakapan yang mengubah segalanya.
Ibu (I): Ti, bikinnya tiga apa empat (adonan) nih jadinya?
Saya (S): (udah kecapean) tiga aja deh, kayanya udah banyak jadinya.
I: iya deh, Mama juga cape. Tapi cokelat chip dan kacang medenya jadi berlebih nih.
S: gabungin aja di adonan terakhir, kan makin banyak cokelat chip-nya jadi makin enak.

Akhirnya adonan terakhir penuh dengan cokelat chip dan kacang mede. Daaan, ternyata segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, sodara-sodara, hehe. Pertama, cokelat-merk-ga-jelas itu gampang banget lumer. Kedua, karena kabanyakan cokelat, kuenya jadi ga padu dan warnanya gelap banget. Hasilnya? Look at this:

DSC00167

Hihi, karena cokelat chip-nyanya lumer dan adonannya sendiri kurang mendominasi, kuenya jadi gepeng dan lunak. Eits, tapi itu ga gosong loh. Emang warnanya begitu gara-gara kebanyakan cokelat, hehe. Rasanya? it’s surprisingly good! Ternyata bener: makin banyak cokelat chip, makin enak.

Tapi yah, berhubung bentuknya ga memadai, jadinya cuma boleh dimakan sama keluarga aja. Buat tamu, penampakannya lebih bagus.

DSC00159

Overall dapet tujuh toples. Lumayanlah. Setelah cookies cokelat, lanjut ngisi ketupat. Sore itu diakhiri dengan mengisi kurang sedikit dari seratus kulit ketupat (belinya seratus, tapi ada beberapa yang kondisinya ga begitu bagus jadi ga dipake).

DSC00170 Hore!

Nothing comes close to a perfect day but making cookies with your mother and listening to family old stories.

Today’s Books

I went to Ak.sa.’ra bookstore today. After traversing shelves by shelves and failed to find most books on my wish list, here are the books that made me take a second look:

13473_gaiman_stories
Stories: All New Tales Edited by Neil Gaiman, Al Sarrantonio was in the New Arrival section. I was interested with the name of Neil Gaiman of course, but then I realized I never really liked collection of short stories. So I decided this one was not worth buying.

n228414

Despite my boredom of fantasy and dragonese series, Here, There Be Dragons  (Chronicles of the Imaginarium Geographica #1) looked somewhat fascinating. I almost took this one to the cashier, but I changed my mind at the sight of some other book. Oh, no problem actually. I plan to buy this on my next visit.

51eewx05r6l

First of all, Midnight for Charlie Bone  (The Children of the Red King #1) has a nice cover. From the back cover, the story is about a boy who can hear thoughts of people in photographs. But when I took a second look, I thought the boy in the cover looked too much like Harry Potter. Also, the series seemed quite long, I saw book #8. I put this one back in its shelf too.

kane_chronicles_red_pyramid_rick_riordan

I’ve read Percy Jackson and the Lightning Thief before, so I knew Rick Riordan’s books are quite fun to read. This one looked promising, but let’s just say when I picked it I was not really into Egypt.

So, I did not buy any of the books mentioned above, so if anyone cares to give me a farewell gift, feel free to look for those in nearest bookstores Big Grin. Well, I bought these instead:

DSC00144

The Hunger Games is a popular series. I have seen the review on Goodreads and impressed with such high rating. Lucky for me to hear about it first, because when I saw the book, I did not recognize it. The cover is so dull and unattractive. And such boring color! But until I write this review, I have read 6 chapters and it’s not boring at all. Feels like a mixture of bitterness and adventures. if I like it, I can buy the second book to read at the long journey to Malta. Unfortunately, this costs quite a lot.

Johannes Cabal the Necromancer was the one that made me put Here, There Be Dragons back to its shelf. The cover was awesome! I looked it up on Goodreads and it seemed ok, so I trusted my instinct and bought this.

Well, I will write the reviews when I finish. When it comes to choosing books to buy, I’ve stopped fully trusting my own judgments. I also look at the rating and reviews on Goodreads. Imported books nowadays come with too high prices. I’ve always been fine looking for books with only me and Goodreads, but sometimes I wish I had someone who would stand by me through those shelves and give comments like “you’re going to love this” or “that looks boring”, even if it’s wrong.

Double Fudge

DoubleFudge
Title: Double Fudge
Author: Judy Blume
Publisher: Macmillan
Year: 2002
Rating: 4/5

Look what I  found at Times Bookstore: another book of Fudge series!

Fudge Hatcher is now 5 and obsessed with money. This is driving Peter nuts and his parents worried. So Grandma suggests to take him to the Bureau of Printing and Engraving to see how money is made. But the trip does not go as they expected. Not only Fudge become more obsessed with money, they also coincidentally meet Mr. Hatcher’s long lost (and really annoying) Cousin Howie and his family.

Like every other Fudge books, this is hilarious. I’m so lucky to ever find another book from this series!

Studi Ghibli days

I never really like watching movies or tv series. I didn't get all the excitement about Inception or Avatar. Most movies are not as good as the book. And every time we watch movies on weekends, my boyfriend always says I look bored.

The irony is, I spend too much time doing something I don't like. I've had enough of action and romantic comedy and their predictable endings, so I decided to watch more of Studio Ghibli's. So here's a list of movies from Studio Ghibli I have watched:

  1. Spirited Away. It's been a while since I watched this. Love the picture and the story, but it's rather too long. I fell asleep in the middle.
  2. Howl's Moving Castle. Well, the book was a torture. The movie is more serious and romantic, but still a torture.
  3. Kiki's Delivery Service. Ah, taken from one of my favorite book! The movie is not bad, but not as good as the book either.
  4. My Neighbour Totoro. A simple yet touching story, wisdom in its best shape. Love it.
  5. Princess Mononoke. Best movie from Studio Ghibli I've seen so far. This reminds us of how we human can be so greedy sometimes.
  6. Ponyo on The Cliff by The Sea. I like this too.
  7. My Neighbour The Yamadas. Er, I only watched this for 10 minutes maybe. Boring.