Archive for August 2010

Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia

IMG_0023

Judul: Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia
Penulis/Ilustrator: Yim Sook Young/Kim I Rang
Penerbit: BIP
Harga: Rp 75.000,00
Rating: 4.5/5

Sebelumnya saya sudah pernah membaca review buku yang penuh hal-hal jorok ini. Jadi ketika melihatnya di toko buku, saya cukup tertarik untuk membelinya. Harganya lumayan mahal: Rp 75.000,00. Huhu, lagi ga punya duit begini (tapi kok tetep beli?). Tapiii, begitu plastiknya dibuka, rasanya harga segitu cukup pantas kok untuk buku ini.

Bahas dari isinya dulu yah. Sesuai judulnya, buku ini berisi pengetahuan umum mengenai hal-hal yang kita anggap jorok: kecoa, plak, upil, muntahan, air seni, dan lain-lain. Di sini dibahas mulai dari fakta-fakta umum, juga sejarah dan tips apa yang harus atau tidak boleh dilakukan dengan hal-hal jorok tersebut. Dan ternyataaaa… sepatu hak tinggi dibuat karena kota penuh tinja. Di China, otak monyet adalah masakan andalan (monyetnya direbus hidup-hidup! Dih). Selain itu, dibahas juga cara cebok di berbagai belahan dunia. Menarik bukan? Hehe

Dan kalau semua itu terasa masih kurang, coba lihat ilustrasinya. Ilustrasi buku ini sangat bagus. Setiap halaman full color. Kalau pembahasannya sudah jorok, ilustrasinya lebih jorok lagi. Seriusan deh, jangan pernah membaca buku ini sambil makan! Coba lihat gambar berikut.

IMG_0018

Nah, saya benar-benar ga bisa membayangkan pacar saya baca buku ini (sejujurnya, saya ga bisa membayangkan dia baca buku apapun, tapi yang ini beneran deh pasti ga sanggup). Saya sendiri, meskipun rada geli, cukup menyukai buku ini. Pembahasannya menarik banget dan memberikan banyak info. Dengan mengetahui hal-hal jorok itu, kita bisa jadi lebih menjaga kebersihan (atau memang saya suka yang jorok-jorok, huhu).

Tokoh Bijak Terbaik

Di buku cerita, biasanya ada tokoh yang senantiasa memberi nasihat bijak pada si tokoh utama. Ya, bayangkan saja Albus Dumbledore. Berikut ini adalah daftar saya untuk lima tokoh bijaksana terbaik di buku cerita.

  1. Atticus Finch (To Kill A Mockingbird)
    Seperti yang sudah diketahui seluruh dunia, Atticus Finch adalah pengacara yang berani membela seorang Negro melawan kulit putih di persidangan. Tapi bukan hanya itu saja. Sebagai ayah Jem dan Scout, Atticus Finch adalah panutan saya. Misalnya saat Mrs Dubose tua meninggal, Atticus berkata pada Jem:
    I wanted you to see something about her – I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you know you’re licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do.
  2. Menaures (Surat Untuk Raja)
    Menaures adalah gambaran tokoh bijak yang biasa muncul dalam benak kita: pertapa tua di pegunungan dengan rambut dan janggut putih panjang. Kalau benar-benar meghayati Surat Untuk Raja, begitu Tiuri sampai ke gubuk Menaures dalam perjalannya yang penuh bahaya, rasanya benar-benar adem dan damai.

  3. Martin Penderwick (The Penderwicks)
    Sama seperti Atticus Finch, Mr. Penderwick adalah single parent. Namun anaknya ada empat, perempuan semua. Mr. Penderwick adalah profesor botani yang sedikit linglung. Quidquid agas prudenter agas et respice finem, begitu nasihatnya pada Skye. Tentu saja, menurut saya The Penderwicks adalah buku yang sempurna, jadi saya suka segala hal tentang buku ini. Tapi bagian favorit saya yang melibatkan Mr Penderwick adalah saat dia menghibur Jane yang kecewa karena bukunya dihina Mr. Dupree.

  4. Dr Dorian (Charlotte’s Web)
    Dr Dorian cuma muncul sekali (kalau ga salah) di buku ini, tapi kemunculannya benar-benar istimewa. Beginilah percakapan ibunya Fern dan Dr Dorian.

    Mrs. Arable: Fern says that animals talk to each other. Dr Dorian, do you believe that animals talk?
    Dr Dorian: I never heard one says anything. But that proves nothing. It is quite possible that an animal has spoken civilly to me and that I didn’t catch the remark because I wasn’t paying attention. Children pay better attention than grown-ups. If Fern says that the animals in Zuckerman’s barn talk, I’m quite ready to believe her. Perhaps if people talked less, animals would talk more. People are incessant talkers – I can give you my word on that.


  5. Mrs March (Little Women)
    Satu-satunya wanita di daftar ini, hehe. Mrs March adalah ibu dari Meg, Jo, Beth, dan Amy.  Mrs March benar-benar wanita kedua yang menjadi panutan saya (yang pertama tentu saja ibu saya).
    Your father, Jo. He never loses patience – never doubts or complains – but always hopes and works and waits so cheerfully that one is ashamed to do otherwise before him. He helped and comforted me, and showed me that I must try to practise all the virtues I would have my little girls possess, for I was their example. It was easier to try for your sakes than for my own, a startled or surprised look from one of you, when I spoke sharply, rebuked me more than any words could have done; and the love, respect, and confidence of my own children was the sweetest reward I could receive for my efforts to be the woman I would have them copy.
Selesai! Tokoh kacangan macam Morrie di Tuesdays with Morrie tentu saja ga masuk hitungan. Kenapa Albus Dumbledore yang saya sebut-sebut di awal malah ga masuk hitungan? Sebenarnya saya suka Dumbledore, sampai di buku kelima doi mulai jadi orang tua lebay yang menyalahkan diri sendiri. Males deh.

a few things that happened lately

Ya, saya malas sekali ngupdate blog ini selama bulan puasa. Pasalnya beberapa hari yang lalu saya sakit gigi, jadinya pusing dan males ngapa-ngapain, hehe. Jadi, hal-hal yang terjadi belakangan ini, apa saja ya…

  1. Saya akhirnya ganti sajadah. Sejak SMP saya selalu memakai sajadah ijo yang usianya lebih 30 tahun, sampai akhirnya orangtua saya nyuruh ganti dengan alasan sajadahnya sudah jelek. Yah, menurut saya sih kondisinya masih baik-baik saja. Tua tapi ga usang. Tapi saya ganti juga akhirnya dengan sajadah lebar tebal berwarna oranye bergambar masjid. Ternyata saya ga betah, sodara-sodara. Motif dan warnanya bikin pusing dan ga konsen. Akhirnya saya ganti lagi dengan sajadah lebar tebal polos berwarna biru keabu-abuan. Lumayan, meskipun rasanya ga senyaman sajadah ijo.
  2. Hadiah perpisahan buat nyokap akhirnya selesai, hore. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya bikin video slideshow foto aja deh (ga punya duit soalnya). Bongkar-bongkar album foto mulai dari bayi sampe lulus, lalu discan. Sekarang tinggal diburn ke dvd.
  3. Keberangkatan tinggal 3 minggu lagi. Udah ah, males ngomonginnya. Makin deket kok malah makin males mikirin ya, hehe.
  4. Saya menemui kesulitan memilih buku cerita yang akan dibawa. Satu, ga bisa memutuskan sebanyak apa yang akan dibawa. Dua, ga tau apa aja yang harus dibawa. Ya, memang sih saya punya 500an buku, tapi sejujurnya saya udah bosen sama semuanya. Pengen buku baru, tapi ga ada yang kelihatan cukup menarik (ga ada duit juga). Kandidat buku lama sejauh ini adalah Keluarga Penderwick, To Kill A Mockingbird, dan Surat Untuk Raja. Pengennya bawa buku Bahasa Indonesia aja. Kalo Bahasa Inggris mending beli baru di sana, hehe.
  5. I really need to start writing in English again. Let’s see, these days I barely listen, write (except short emails), or speak English anymore. Bah, mesti latihan membiasakan diri nih.

Apa lagi ya? Haduh memang ga banyak yang terjadi di kehidupan saya belakangan ini. Cuma menikmati hari dengan baca, tidur, dan buka puasa.

upacara bendera

Nonton upacara peringatan detik-detik proklamasi pagi ini, jadi keinget masa-masa upacara bendera semasa sekolah dulu. Yah, kayanya yang serius cuma semasa SD. Pas SMP dan SMA kebanyakan pada ngobrol sih pas upacara. Saya biasanya ga ikutan ngobrol, tapi jadinya ga konsen ke upacara juga, palingan bengong.

Biasanya yang jadi petugas upacara digilir per kelas. Inget banget dulu pas SD, Abang pernah jadi komandan upacara. Saya dari barisan peserta upacara dengan bangganya bilang ke temen-temen, "eh itu abang gua loh". Saya sendiri paling mentok jadi pembaca Janji Siswa. Pernah juga baca Dasa Darma Pramuka pas lagi upacara pramuka, wekeke.

Yang pasti saya ga pernah jadi pengerek bendera (eh, sebutannya itu bukan sih?). Dulu pernah disuruh latihan, tapi selalu bingung milih ujung-ujung bendera yang terlipat. Pas ditarik, benderanya jadi melintir. Ditambah lagi, berjalan kaki kanan tangan kiri - kaki kiri tangan kanan adalah tugas luar biasa sulit buat saya. Setelah beberapa langkah pasti jadinya kaki kanan tangan kanan - kaki kiri tangan kiri.

Belum lagi kalau lupa bawa topi pas hari Senin. Langsung deh sibuk nyari pinjeman. Atau kalau benderanya keburu sampai puncak tiang sebelum lagunya selesai. Hehe, kayanya seumur hidup ga bakal merasakan upacara bendera lagi nih.

gambar untuk ibu

Halah, judulnya malesin, hehe. Jadiii, saya sedang berpikir untuk memberikan sesuatu (paling video slideshow foto dari kecil sampe gede aja sih) kepada nyokap sebagai tanda perpisahan (sementara). Nah, karena dari jaman dulu nyokap paling seneng ngeliat saya menggambar, akhirnya saya memutuskan untuk meng-embed beberapa gambar saya.

Yang pertama adalah (ceritanya) gambar tangan lagi nulis. Arsiran tangannya masih kurang rapi nih.

1

Yang kedua juga niru, karena saya nemu gambar siluet bunga bagus. Sayangnya ketika digambar ulang jadi ga terlihat terlalu bagus. Batangnya ketebelan.
2

Kalau gambar ketiga terinspirasi dari cover To Kill A Mockingbird 50th Anniversary Edition (yaaa, saya beli, padahal udah punya terjemahannya, dan padahal duit udah hampir abis).
3

Yang ini juga hasil mencari inspirasi (baca, gambar ulang) dari beberapa gambar yang saya temukan, hehe.
4

Gambar yang ini, ampun deh, susah betul menggambar orang lagi mendongak.
5

Lampu jalan adalah salah satu benda yang paling saya sukai di bumi ini. Sayangnya gambar lautnya fail berat. Dan berhubung gambarnya pake pulpen, ga bisa di-undo. Males gambar ulang, hehe.
6

Nah kalau ada yang baca postingan ini, mohon komentarnya. Saya ngerasa gambar dan tulisannya masih kurang nyambung. Soalnya saya lebih dulu mutusin tulisannya, terus baru deh maksain disambung-sambungin sama gambar bagus yang saya temuin, hehe.

perihal lengan baju

Mau komentar sedikit, hehe. Berdasarkan pengamatan saya, kok sepertinya semakin banyak wanita berjilbab yang memakai baju dengan lengan semakin pendek ya?

Awalnya, baju dengan lengan 3/4. Entahlah, mungkin karena dianggap tanggung, toh sudah mendekati lengan panjang, jadi ga usah pake manset lengan deh. Tapi lama kelamaan kebiasaan ini berlanjut untuk baju dengan lengan yang lebih pendek. Jaman sekarang wanita berjilbab dengan lengan baju cuma sampai siku sudah jadi pemandangan awam.

Hehe, emang ga biasanya yah saya komentar beginian. Sebagian karena saya sadar sebagai muslimah, cara berpakaian saya masih jauh dari sempurna. Tapi tapi tapi. Di jaman yang edan ini, bukankah dengan menggunakan jilbab berarti setidaknya kita sudah membuat awal yang baik? Lalu apa susahnya sih menyambung lengan baju sedikit supaya bisa menutup aurat dengan sempurna?

Buat saya sendiri, rasanya ga nyaman kalau memakai baju dengan lengan ga penuh (contohnya batik Tanah Abang langganan orangtua) tanpa memakai manset lengan lagi. Alasannya karena 1) ga rapi, 2) malu. Coba bayangkan, dari atas sudah tertutup, bawahnya juga, tapi lengannya terbuka. Ga rapi kan? Di samping itu, rasanya malu mempertontonkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup.

Mungkin hal ini sepintas terlihat sederhana, tapi bagaimanapun, lengan kita kan termasuk aurat yang perlu ditutup. Manset lengan bisa didapat dengan harga sangat murah dan warna sangat beragam kok. Jadi, mari menutup lengan! *wekeke, apasih*

~hanya pendapat seseorang yang sedang berusaha menjadi muslimah sejati.

my brother in his childhood

I was looking for some photos today and found a bunch of *very* old photos of this adorable kid. Unfortunately, he's not so adorable anymore. He's 24 now and quite annoying sometimes. I rarely see him because he works like a house-elf.



 
It's a shame how kids have to grow up XP.

another Ramadhan coming

Office hours are shorter,
bands are playing religious songs,
supermarkets are displaying stacks of nata de coco,
theaters are nearly empty from visitors,
weekends are reserved for buka puasa with friends.
Yey!

I myself see this Ramadhan a little differently. Somehow I get back all the enthusiasm and excitement. I'm in the beginning of several projects like finishing Quran and memorizing some longer surahs and of course trying to lose weight, too. Not very long after this holy month ends, I will leave home so I'm currently working on a secret project, too, hehe.

In Ramadhan we gain back that piece of togetherness that once was lost. We rush to the mosque to do shalat tarawih, we smile at each other and keep our temper low, we give to those who aren't as lucky. Happy fasting!

a few sketches

Back to the old school days, where color pencils are your best friends and pens are made for drawing. That is exactly how I spend these last few days.

And this is a picture of two people growing old together, in a typical Sunday afternoon with rays of sunshine and frames of memories.


And once in a while, they would go to the park and spend an evening there.


This one came when I reread the book Surat Untuk Raja, the part where Tuiri and Piak rode in Perbukitan Rembulan. Actually, I did not picture it like this. I imagined there would be hills with rocks and bushes of flowers and the moon would shine brightly. But it's so hard to color them all in a night shade, so I simplified the image like the picture below.

Since I was not familiar with horse, I had to look for a reference here. But you can see the rider is much too big for the horse. And the badly-shaped moon looks like a yellow cookie.


Some books have very good illustrations. I remember those in the beginning of each chapter in Harry Potter series (not in Bloomsbury editions though). I used to redraw Rita Skeeter, Durmstrang Ship, and the Hog's Head. I found this one from the book the Miraculous Journey of Edward Tulane (a very highly recommended book, if you're into touching stories and awesome illustrations). This is my sketch:


The shading was unbelievably hard! For the comparison, this one is the photo of the original illustration from the book.


Despite the results, I think I really enjoy drawing now.

Visa Malta

Seperti janji saya sebelumnya, saya akan menulis tentang prosedur pembuatan visa Malta.
Sesuai dengan requirement yaitu keperluan studi selama setahun, yang saya butuhkan adalah visa Schengen tipe D. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai Schengen Area, bisa dilihat di sini. Sebagai informasi tambahan saja, visa untuk masa tinggal kurang dari 90 hari adalah visa Schengen tipe C.

Untuk proses pembuatan visa Malta, saya melewati dua fase, yaitu percobaan aplikasi melalui Austrian Embassy di Jakarta dan aplikasi melalui Kedubes Malta di Beijing. Bagi yang membutuhkan informasi segera mengenai cara apply visa D ke Malta, saya sarankan langsung loncat ke bagian Kedubes Malta di Beijing saja. Bagian Austrian Embassy sebagian besar cuma curhat kok.

Austrian Embassy di Jakarta

Berhubung Malta tidak memiliki kedubes di Indonesia, keberadaannya diwakili oleh Austrian Embassy. Informasi prosedur aplikasi visa di Austrian Embassy bisa dilihat di sini.

Sebelum aplikasi
Nah waktu itu, sebelum mempersiapkan berkas-berkas aplikasi yang dibutuhkan, saya menghubungi pihak Austrian Embassy untuk menanyakan bagaimana aplikasi visa Malta untuk kasus saya. Sayangnya, jawaban yang saya dapat simpang-siur.
  1. Tanya via telepon: oh, bisa kok apply visa D ke Malta
  2. Tanya via email:

    • Orang pertama menjawab bisa apply visa D Malta, ketentuan sama dengan visa Austria
    • (saya masih ga yakin, tanya lagi) Orang kedua bilang Austrian Embassy cuma berhak menerbitkan visa C Malta dan menyarankan saya apply ke Kedubes Malta di Beijing. Jawaban inilah yang membuat saya cukup panik dan selanjutnya menuju langkah ketiga (fyi, saat itu saya juga sempat email ke Kedubes Malta di Beijing tapi ga dapet balasan).
  3. Samperin langsung: di sini saya menanyakan berkali-kali: jadinya bisa ga sih apply visa D Malta di situ, lalu kenapa ada yang bilang ga bisa dsb. Mas-mas yang melayani saya meyakinkan bahwa aplikasi visa D Malta bisa dilakukan di situ.
Ya sudah teryakinkan dong saya, mulai deh mempersiapkan berkas-berkas. Daftar berkas yang dibutuhkan bisa dilihat di sini, jadi ga usah saya jelaskan lagi ya. Nah setelah mengeluarkan biaya dan waktu cukup banyak untuk:
  • Legalisasi akta kelahiran. Berhubung kutipan akta kelahiran saya dikeluarkan di Perkanbaru tahun 1988, spesimen tanda tangan petugas di kutipan akta tersebut belum terdaftar di Depkumham. Harus minta surat dulu dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pekanbaru yang menyatakan bahwa petugas yang menandatangani kutipan akta saya memang pernah bertugas di situ. Selanjutnya, legalisasi sudah bisa dilakukan di Depkumham dan Deplu. Untuk prosedurnya, saya ga begitu tahu soalnya nitip bokap. Fyi, saya sempat meng-google dengan keyword 'legalisasi akta kelahiran', hasilnya kurang memuaskan. Lalu saya coba lagi dengan keyword tidak baku 'legalisir akte kelahiran', baru deh dapet. Dasar orang Indonesia.
  • Legalisasi SKCK, ini juga ke Depkumham dan Deplu.
  • Penerjemahan akta kelahiran dan SKCK ke bahasa Jerman.
  • Jasa pengisian form residence permit dalam bahasa Jerman (kalo di Austria minta residence permit-nya langsung di Jakarta)

Mengajukan aplikasi
Akhirnya dengan berkas aplikasi lengkap, saya datangi lagi Austrian Embassy. Ternyata yang melayani di konter bukan mas-mas yang kemarin, melainkan seorang bule. Daaan, guess what? Jawaban yang diberikan adalah saya ga bisa apply visa D Malta di situ, disuruh ke Beijing. Saya sempet ngomel-ngomel kenapa dulu ada petugas yang bilang bisa dsb, tapi si bule bilang doi-lah yang berwenang. Ya sudah deh, akhirnya daripada ngomel, saya minta solusi aja.
Saya: but it is very impractical if I have to go to Beijing. Is there any other way?
Si bule: maybe we can try to ask for permission to issue the D visa for your case. Just send us an email explaining your situation, I will forward it and give you the answer soon.

Akhirnya saya kasih nama dan alamat email saya, lalu segera mengirim email sesampainya di rumah. Pada saat itu, ekspektasi saya terhadap Austrian Embassy di Jakarta udah menurun drastis (dan ternyata bener ga dikabarin lagi), jadinya saya email juga Malta Central Visa Unit minta solusi. Untungnya mereka sangat responsif dan segera menjawab bahwa saya bisa daftar visa C saja dulu di Austrian Embassy.

Akhirnya saya datangi lagi Austrian Embassy untuk apply visa C. Kali ini yang melayani mas-mas pertama yang memberikan informasi yang salah (namanya Agus kalo ga salah denger, hehe). Berkas saya diperiksa dan dinyatakan lengkap, lalu disuruh tunggu sebentar (yang ternyata lama). Masalah belum berhenti di situ sodara-sodara. Aplikasi visa C saya ditolak karena berkas-berkas saya (surat penerimaan dari universitas, bukti dana, dll) menunjukkan bahwa yang saya butuhkan adalah visa D. Kalaupun mau apply visa C, ya apply sebagai turis, yang berarti saya harus mempersiapkan dokumen yang beda lagi dan pake bayar.

Menahan kesabaran, saya menunjukkan printout jawaban dari Malta Central Visa Unit yang menyatakan bahwa untuk kasus saya, seharusnya saya bisa apply visa C di situ. Akhirnya berkas saya diterima lagi oleh Austrian Embassy dan katanya akan dikabari secepatnya mengenai status bisa tidaknya aplikasi diterima.

Menyerah
Berhubung saya udah ga percaya lagi ama Austrian Embassy, untuk ketiga kalinya saya email Kedubes Malta di Beijing. Untungnya kali ini segera dapat jawaban, sodara-sodara. Kabar bagus: aplikasi bisa dilakukan lewat pos. Besoknya, saya segera menarik kembali berkas aplikasi saya dari Austrian Embassy (3 hari ga berkabar sih) dan mempersiapkan aplikasi ke Beijing.

Menurut saya sih, pelayanan Austrian Embassy untuk kasus saya bener-bener FAIL! Kalau memang ga bisa apply visa D di situ, bilang dari awal dong, jangan sampai ada jawaban ga konsisten. Tuyul.

Kedubes Malta di Beijing

Aplikasi visa melalui Kedubes Malta di Beijing sangat mudah dan cepat.

Berkas-berkas yang dibutuhkan adalah:
  1. Application form seperti yang ada di sini (yang bahasa Cina)
  2. 2 foto paspor (3.5 x 4.5) dengan background putih
  3. Medical insurance selama masa tinggal di sana
  4. Reservasi tiket pesawat
  5. Bukti akomodasi
  6. Bukti keuangan, untuk kasus saya surat penerimaan beasiswa
  7. Surat penerimaan resmi dari institusi pendidikan, lengkap dengan rincian kuliah, stempel, dan tanda tangan dari pihak institusi pendidikan.
  8. Bukti bahwa uang sekolah sudah dibayar (untuk saya tercakup dalam surat penerimaan)
  9. Fotokopi ijazah yang disahkan notaris (saya ngirim yang legalisasi universitas)
  10. Fotokopi SKCK yang disahkan notaris. Prosedur pembuatan SKCK bisa dilihat di blog teman saya Nur, sepertinya cukup lengkap. Saya bikinnya di Mabes Polri, di mana SKCK sudah bilingual dan masa berlakunya 6 bulan (dengan bantuan bokap tentu saja).
  11. Fotokopi KTP
  12. Paspor asli dan fotokopi
  13. Bukti pembayaran, yang mencakup biaya pembuatan visa 60 Euro dan biaya pengiriman balik dari Beijing. Setahu saya teman-teman lain yang apply visa di Indonesia ga perlu bayar biaya pembuatan visa. Hm, waktu itu sih karena butuh cepat, saya ga mempertanyakan lagi mengenai biaya pembuatan visa ini ke Beijing.

Jadi biaya yang harus dipenuhi adalah:
  • Kepada Kedubes Malta di Beijing via bank transfer

    • biaya pembuatan visa 60 Euro
    • biaya pengiriman balik dari Beijing ke Jakarta (info DHL bulan Juli 20 Euro, ada kemungkinan perubahan tiap bulan)
  • Ongkos transfer ke bank biar jumlah yang ditransfer ga kepotong. Melalui bank Mandiri, biayanya 30 USD + Rp 35.000,00
  • Ongkos kirim berkas aplikasi dari Jakarta ke Beijing. Dengan DHL kalau ga salah ga sampe Rp 250.000,00.
Meskipun kelihatannya cukup mahal, menurut saya ga beda jauh juga dengan ongkos aplikasi visa di Austrian Embassy. Plus ongkos bensin dan macet ke Kuningan, kayanya resource yang harus diluangkan sama ajah.

Proses
Jangan lupa, sebelum mentransfer uang atau mengirim berkas apapun, kontak Embassy-nya untuk meyakinkan diri. Setelah yakin, baru deh transfer uangnya, lalu kirim berkas aplikasi beserta bukti transfer ke alamat Embassy of Malta di Beijing. Setelah dikirim, informasikan pada mereka bahwa uang sudah ditransfer dan berkas sudah dikirim. Tunggu balasan. Kalau lancar, dalam sehari saja visa sudah jadi. Hari Senin saya diberitahu bahwa aplikasi saya sudah bisa diproses. Hari Selasa selesai dan dikirim balik. Hari Kamis DHL sudah mengantarkan paspor plus visa ke depan rumah. Sederhana dan mudah bukan?

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi visa.beijing@gov.mt