Seperti janji saya sebelumnya, saya akan menulis tentang prosedur pembuatan visa Malta.
Sesuai dengan requirement yaitu keperluan studi selama setahun, yang saya butuhkan adalah visa Schengen tipe D. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai Schengen Area, bisa dilihat di sini. Sebagai informasi tambahan saja, visa untuk masa tinggal kurang dari 90 hari adalah visa Schengen tipe C.
Untuk proses pembuatan visa Malta, saya melewati dua fase, yaitu percobaan aplikasi melalui Austrian Embassy di Jakarta dan aplikasi melalui Kedubes Malta di Beijing. Bagi yang membutuhkan informasi segera mengenai cara apply visa D ke Malta, saya sarankan langsung loncat ke bagian Kedubes Malta di Beijing saja. Bagian Austrian Embassy sebagian besar cuma curhat kok.
Austrian Embassy di Jakarta
Berhubung Malta tidak memiliki kedubes di Indonesia, keberadaannya diwakili oleh Austrian Embassy. Informasi prosedur aplikasi visa di Austrian Embassy bisa dilihat di
sini.
Sebelum aplikasi
Nah waktu itu, sebelum mempersiapkan berkas-berkas aplikasi yang dibutuhkan, saya menghubungi pihak Austrian Embassy untuk menanyakan bagaimana aplikasi visa Malta untuk kasus saya. Sayangnya, jawaban yang saya dapat simpang-siur.
- Tanya via telepon: oh, bisa kok apply visa D ke Malta
- Tanya via email:
- Orang pertama menjawab bisa apply visa D Malta, ketentuan sama dengan visa Austria
- (saya masih ga yakin, tanya lagi) Orang kedua bilang Austrian Embassy cuma berhak menerbitkan visa C Malta dan menyarankan saya apply ke Kedubes Malta di Beijing. Jawaban inilah yang membuat saya cukup panik dan selanjutnya menuju langkah ketiga (fyi, saat itu saya juga sempat email ke Kedubes Malta di Beijing tapi ga dapet balasan).
- Samperin langsung: di sini saya menanyakan berkali-kali: jadinya bisa ga sih apply visa D Malta di situ, lalu kenapa ada yang bilang ga bisa dsb. Mas-mas yang melayani saya meyakinkan bahwa aplikasi visa D Malta bisa dilakukan di situ.
Ya sudah teryakinkan dong saya, mulai deh mempersiapkan berkas-berkas. Daftar berkas yang dibutuhkan bisa dilihat di
sini, jadi ga usah saya jelaskan lagi ya. Nah setelah mengeluarkan biaya dan waktu cukup banyak untuk:
- Legalisasi akta kelahiran. Berhubung kutipan akta kelahiran saya dikeluarkan di Perkanbaru tahun 1988, spesimen tanda tangan petugas di kutipan akta tersebut belum terdaftar di Depkumham. Harus minta surat dulu dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pekanbaru yang menyatakan bahwa petugas yang menandatangani kutipan akta saya memang pernah bertugas di situ. Selanjutnya, legalisasi sudah bisa dilakukan di Depkumham dan Deplu. Untuk prosedurnya, saya ga begitu tahu soalnya nitip bokap. Fyi, saya sempat meng-google dengan keyword 'legalisasi akta kelahiran', hasilnya kurang memuaskan. Lalu saya coba lagi dengan keyword tidak baku 'legalisir akte kelahiran', baru deh dapet. Dasar orang Indonesia.
- Legalisasi SKCK, ini juga ke Depkumham dan Deplu.
- Penerjemahan akta kelahiran dan SKCK ke bahasa Jerman.
- Jasa pengisian form residence permit dalam bahasa Jerman (kalo di Austria minta residence permit-nya langsung di Jakarta)
Mengajukan aplikasi
Akhirnya dengan berkas aplikasi lengkap, saya datangi lagi Austrian Embassy. Ternyata yang melayani di konter bukan mas-mas yang kemarin, melainkan seorang bule. Daaan, guess what? Jawaban yang diberikan adalah saya ga bisa apply visa D Malta di situ, disuruh ke Beijing. Saya sempet ngomel-ngomel kenapa dulu ada petugas yang bilang bisa dsb, tapi si bule bilang doi-lah yang berwenang. Ya sudah deh, akhirnya daripada ngomel, saya minta solusi aja.
Saya: but it is very impractical if I have to go to Beijing. Is there any other way?
Si bule: maybe we can try to ask for permission to issue the D visa for your case. Just send us an email explaining your situation, I will forward it and give you the answer soon.
Akhirnya saya kasih nama dan alamat email saya, lalu segera mengirim email sesampainya di rumah. Pada saat itu, ekspektasi saya terhadap Austrian Embassy di Jakarta udah menurun drastis (dan ternyata bener ga dikabarin lagi), jadinya saya email juga
Malta Central Visa Unit minta solusi. Untungnya mereka sangat responsif dan segera menjawab bahwa saya bisa daftar visa C saja dulu di Austrian Embassy.
Akhirnya saya datangi lagi Austrian Embassy untuk apply visa C. Kali ini yang melayani mas-mas pertama yang memberikan informasi yang salah (namanya Agus kalo ga salah denger, hehe). Berkas saya diperiksa dan dinyatakan lengkap, lalu disuruh tunggu sebentar (yang ternyata lama). Masalah belum berhenti di situ sodara-sodara. Aplikasi visa C saya ditolak karena berkas-berkas saya (surat penerimaan dari universitas, bukti dana, dll) menunjukkan bahwa yang saya butuhkan adalah visa D. Kalaupun mau apply visa C, ya apply sebagai turis, yang berarti saya harus mempersiapkan dokumen yang beda lagi dan pake bayar.
Menahan kesabaran, saya menunjukkan printout jawaban dari Malta Central Visa Unit yang menyatakan bahwa untuk kasus saya, seharusnya saya bisa apply visa C di situ. Akhirnya berkas saya diterima lagi oleh Austrian Embassy dan katanya akan dikabari secepatnya mengenai status bisa tidaknya aplikasi diterima.
Menyerah
Berhubung saya udah ga percaya lagi ama Austrian Embassy, untuk ketiga kalinya saya email Kedubes Malta di Beijing. Untungnya kali ini segera dapat jawaban, sodara-sodara. Kabar bagus: aplikasi bisa dilakukan lewat pos. Besoknya, saya segera menarik kembali berkas aplikasi saya dari Austrian Embassy (3 hari ga berkabar sih) dan mempersiapkan aplikasi ke Beijing.
Menurut saya sih, pelayanan Austrian Embassy untuk kasus saya bener-bener FAIL! Kalau memang ga bisa apply visa D di situ, bilang dari awal dong, jangan sampai ada jawaban ga konsisten. Tuyul.
Kedubes Malta di Beijing
Aplikasi visa melalui
Kedubes Malta di Beijing sangat mudah dan cepat.
Berkas-berkas yang dibutuhkan adalah:
- Application form seperti yang ada di sini (yang bahasa Cina)
- 2 foto paspor (3.5 x 4.5) dengan background putih
- Medical insurance selama masa tinggal di sana
- Reservasi tiket pesawat
- Bukti akomodasi
- Bukti keuangan, untuk kasus saya surat penerimaan beasiswa
- Surat penerimaan resmi dari institusi pendidikan, lengkap dengan rincian kuliah, stempel, dan tanda tangan dari pihak institusi pendidikan.
- Bukti bahwa uang sekolah sudah dibayar (untuk saya tercakup dalam surat penerimaan)
- Fotokopi ijazah yang disahkan notaris (saya ngirim yang legalisasi universitas)
- Fotokopi SKCK yang disahkan notaris. Prosedur pembuatan SKCK bisa dilihat di blog teman saya Nur, sepertinya cukup lengkap. Saya bikinnya di Mabes Polri, di mana SKCK sudah bilingual dan masa berlakunya 6 bulan (dengan bantuan bokap tentu saja).
- Fotokopi KTP
- Paspor asli dan fotokopi
- Bukti pembayaran, yang mencakup biaya pembuatan visa 60 Euro dan biaya pengiriman balik dari Beijing. Setahu saya teman-teman lain yang apply visa di Indonesia ga perlu bayar biaya pembuatan visa. Hm, waktu itu sih karena butuh cepat, saya ga mempertanyakan lagi mengenai biaya pembuatan visa ini ke Beijing.
Jadi biaya yang harus dipenuhi adalah:
- Kepada Kedubes Malta di Beijing via bank transfer
- biaya pembuatan visa 60 Euro
- biaya pengiriman balik dari Beijing ke Jakarta (info DHL bulan Juli 20 Euro, ada kemungkinan perubahan tiap bulan)
- Ongkos transfer ke bank biar jumlah yang ditransfer ga kepotong. Melalui bank Mandiri, biayanya 30 USD + Rp 35.000,00
- Ongkos kirim berkas aplikasi dari Jakarta ke Beijing. Dengan DHL kalau ga salah ga sampe Rp 250.000,00.
Meskipun kelihatannya cukup mahal, menurut saya ga beda jauh juga dengan ongkos aplikasi visa di Austrian Embassy. Plus ongkos bensin dan macet ke Kuningan, kayanya resource yang harus diluangkan sama ajah.
Proses
Jangan lupa, sebelum mentransfer uang atau mengirim berkas apapun, kontak Embassy-nya untuk meyakinkan diri. Setelah yakin, baru deh transfer uangnya, lalu kirim berkas aplikasi beserta bukti transfer ke
alamat Embassy of Malta di Beijing. Setelah dikirim, informasikan pada mereka bahwa uang sudah ditransfer dan berkas sudah dikirim. Tunggu balasan. Kalau lancar, dalam sehari saja visa sudah jadi. Hari Senin saya diberitahu bahwa aplikasi saya sudah bisa diproses. Hari Selasa selesai dan dikirim balik. Hari Kamis DHL sudah mengantarkan paspor plus visa ke depan rumah. Sederhana dan mudah bukan?
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi visa.beijing@gov.mt