Archive for July 2010

Bicara Tentang Pernikahan

http://farm4.static.flickr.com/3169/3106687515_83be05b75e.jpg

Tenang, ini bukan undangan pernikahan XP

Belakangan ini keluarga saya agak disibukkan dengan rencana pernikahan salah satu kerabat dekat. Nah sejak saat itu kalau ikut orangtua ke suatu resepsi pernikahan, saya jadi hobi memantau catering (ini sih dari jaman dulu sebenernya), gedung, seragam panitia, dll.

Kalau ditanya beberapa bulan yang lalu mengenai impian pernikahan saya nantinya, mungkin jawabannya bisa ditemui di pernikahan tipikal di Jakarta. Yah tau sendiri lah, pernikahan di aula gedung, dengan catering enak berlimpah, undangan dan suvenir, panitia berseragam, dll.

Tapi... Saat menghadiri suatu resepsi pernikahan di auditorium PTIK beberapa saat yang lalu, suatu pemikiran datang ke kepala saya.

I could not help but notice how big the hall was and wonder if I have enough friends to come and fill it.

Sejak saat itu saya jadi banyak mikir dan berubah pikiran tentang pesta pernikahan dengan segala  aspeknya.

Yang Diundang

Tidak bermaksud menyedihkan, tapi saya rasa teman saya tidak sebanyak itu. Anggaplah saya  mengundang teman-teman SMA/kuliah/kerja lewat Facebook atau milis. Penuh sih penuh. Namun dari semua yang diundang itu, berapa banyak sih yang cukup peduli untuk kenal calon suami saya atau benar-benar tulus mendoakan rumah tangga yang sakinah, alih-alih cuma salaman dan bilang "selamat ya"? Sebagian besar bahkan ga saya kenal dengan baik, cuma teman sekelas waktu SMA yang ngobrol sesekali dan ga pernah saya temui lagi selama bertahun-tahun.

Tempat

Okelah ga masalah sewa aula gedung kalau tamunya berlimpah, sekaligus nyediain tempat ngantri buat salaman. Tapi ditilik dari pembahasan di atas, seandainya saya memang berniat memotong jumlah undangan, tidakkah aula gedung terasa berlebihan? Sewanya mahal loh.

Undangan dan suvenir

Dua hal ini biasanya memakan biaya cukup besar (terutama karena jumlah tamunya juga besar) tapi lalu terlupakan oleh si penerima. Yap, undangan bagus-bagus yang dirancang susah payah pada akhirnya tersingkirkan setelah menghafalkan peta lokasi. Setidaknya itulah yang terjadi di rumah  saya, hehe. Paling cuma menghabiskan beberapa detik buat komentar, "Wah undangannya bagus nih"  atau "Ini undangan jelek amat sih" tapi selain itu ya sudah ga dipedulikan lagi.

Suvenir juga sering bernasib sama. Sering kali saya mendapatkan suvenir yang tipikal (kipas, mug dkk) atau malah ga memiliki fungsionalitas (misalnya pajangan, ih bete deh). Pada akhirnya benda-benda seperti itu malah terlupakan.

Foto pre-wedding

Nah saya sensi nih kalau ngomongin foto pre-wedding. Kalau ga salah dulu sempat beredar fatwa bahwa foto pre-wedding itu haram ya? Hehe, bukan itu sih alasan saya berantipati terhadap trend foto pre-wedding. Alasannya? Satu, mahal. Dua, ga ngerti maksudnya. Idenya mau mengabadikan momen romantis gitu kali ya. Tapi kenyataannya, momen romantis itulah yang berusaha diciptakan oleh si fotografer (dan biasanya ga dapet, keliatan kaya dua orang berpose agar tampak romantis), bukan karena memang momen itu ada dari sananya. Entah ya, mungkin karena belakangan ini saya beranggapan orang Indonesia kebanyakan berpose (efek-efek sensi ama anak gaul dan kamera DSLR, hihi). Dan para tamu yang ngeliat? Yaelah, paling ngelirik dikit, komentar dikit, terus lupa.

Catering

Kalau untuk yang ini, saya ga punya keberatan terhadap trend pernikahan di Jakarta. Catering wajib enak dan beragam, hehe.

Seragam Panitia

Nah, seragam panitia pihak pria dan wanita biasanya dibedain sedikit warnanya. Intinya sih, dikasih bahan kebaya lalu disuruh jahit sesuai selera masing-masing. Untuk beberapa keperluan mungkin ada yang sewa kebaya juga. Er, ini intinya cuma buat nunjukin yang mana keluarga pria, yang mana keluarga wanita, begitu bukan? Entahlah, buat saya kok rasanya agak berlebihan ya. Mulai dari milih bahannya, nentuin warna, nawar harga. Lalu untuk pihak yang dikasih: mikirin modelnya, ongkos jahit, nyari jilbabnya, dll.

Kado buat mempelai a.k.a amplop duit

Kalau yang ini dari tamu untuk kedua mempelai. Kalau dilihat lagi, bukannya tujuan awal dari menyelenggarakan suatu pesta pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan? Kalau begitu masa sih orang yang diundang untuk turut berbahagia malah harus membayar? Fyi, jaman sekarang kalo dateng tanpa amplop mending pulang lagi.

Kesimpulannya

Bukan berarti saya anti terhadap tipe pesta pernikahan seperti itu loh ya (kecuali mungkin foto pre-wedding XP). Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah:
  1. Seandainya saya punya cukup uang, saya tidak ingin menghabiskannya untuk hal-hal seperti di  atas.
  2. Seandainya orangtua saya/calon suami saya punya cukup uang, saya tidak ingin mereka  menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
Intinya sih hanya karena semua itu terlihat seperti pemborosan buat saya, dilihat dari segi waktu, tenaga, dan terutama biaya. Mending duitnya dipake buat nambahin beli rumah atau impian bulan madu ke Maldives, wekekek.

Sekali lagi, bukan berarti saya ga mau pernikahan saya diselenggarakan dengan cara seperti itu. Misalnya ada pihak yang berbaik hati mau ngasih duit, dan duitnya harus - ga boleh engga - digunakan untuk pesta pernikahan yang ramai dan meriah, ya saya mah oke-oke ajah, hehe (tapi nawar deh, ga pake foto pre-wedding).

Yang saya inginkan

Kalau bukan yang ramai dan meriah, lalu tipe pernikahan dong apa yang saya inginkan? Jujur ga tau, haha. Waktu lagi ngomongin rencana pernikahan kerabat saya pagi ini, saya bilang ke nyokap, "kalau saya nikah nanti, ga mau repot-repot kaya gini ah. Di KUA aja juga ga papah."
Nyokap cuma ketawa.
Apakah mungkin karena saya belum dilamar dan belum merasakan euphoria menjadi calon istri seseorang, makanya saya merasa semua itu hanya pemborosan?
Hehe, ga tau juga.

Yang pasti sih kalau untuk saat ini, saya ga menginginkan pernikahan seperti itu. Kalau harus sekedar nikah di KUA, so be it. Tapi karena sebaiknya kita berbagi kebahagiaan, tetap perlu ada perayaannya dong. Pengennya hanya ngundang orang-orang terdekat aja, mereka yang benar-benar peduli untuk mengenal calon suami saya, yang masih akan menelepon untuk mengabari kalau mereka punya anak, yang masih akan menelepon untuk tahu kabar keluarga saya, dll. Ga perlu ada seragam panitia, ga perlu ada foto pre-wedding. Suvenir boleh tapi yang benar-benar berguna. Tamu dateng ga usah bayar. Hihi, apa sih.

latar belakangnya



I have been meaning to write this a long time ago, but there's always something that stops me and makes me wonder if this is really happening to me.

When I decided to apply for a Master's course, I said to myself: I will write this in my blog later, if I get accepted at the course.
But when I received the email informing that I was in the main list of the Master's program, I told myself again: later, if they tell me that I get the scholarship too.
When I did receive the official acceptance email: later, when I get the official acceptance letter.
When the letter arrived at my door (actually, my father had to pick it at the South Jakarta post office, because Pos Indonesia were really unreliable): later, if I manage to get my visa done.
But now my visa is done (YEY! I will write a separate post about it), I guess I do not have other reason to procrastinate.

I have mentioned here several times that I become one of Erasmus Mundus awardee 2010. While others congratulated me and asked so many things about the program, the scholarship, the preparation for applying, study sites, how I plan to do long distance relationship (duh) and so on, I myself still could not fully believe that I would actually leave, until I receive my passport today, with a visa in it.

Starting from beginning. I guess I'm not a person who used to dream of studying abroad. I live my life one day at a time. All those years nothing motivates me to study abroad. Maybe because the idea sounds too high and unfamiliar to me. In the EM pre-departure briefing yesterday we heard the representative of awardees gave a speech of how her grandfather motivated her (and the name of B.J Habibie was mentioned twice in two different speeches XP). Well, don't expect me to have a similar story.

If you ask me now, I still don't know what really encourages me to apply for the Master's course in Europe (I mean, it's Europe, who does not want to go there?). The first time I heard about Erasmus Mundus was during my internship at IBM. My supervisor there was an EMCL student. You can see her video here. CL stands for Computational Logic, which is one of the few fields I like in computer science. But back then, I still thought it was too high of a goal for me.

So I lived my days as usual, I read books and attended classes. I wrote my Bachelor thesis and graduated. And the next thing I knew, I said to everyone I would look for a scholarship, hehe.

Well,
perhaps all those years I thought I was so ignorant about my future plans, it's not really that way.
Perhaps every little thing I heard in the class: my lecturer's experience abroad, my passion for math and logic, every adventure I read in fantasy and children books, brought me closer to wanting this.
Perhaps it does not come like a sudden resolution,
but it crept quietly to you, until came a time when you realized that you had it all those times.

But there had to be a change in plan. EMCL this year is not funded by Erasmus Mundus scholarship, so I began to look at other programs. At the same time, my lecturer, which was also my employer that time, gave me this book and told me to do a related research. During that short time, I decided that I like natural language processing and then applied for the LCT Master's Course.

We can apply for 3 EMMC, but I was not so sure if there was any other program I like more than EMCL (except LCT, and I intended to try EMCL with other scholarship), so I only apply for LCT. And Thank God, I got accepted.

Now I am 2 months from my departure.

Thanks to Dani, Rizki, Mia, Bembi, Hari, Lia, Ario, Aqin, Fithri, Yudha, Karima, Desti, Pak Ruli, Pak Stef, Bu Bela, Pak Rahmat. Thanks to my parents and brothers. Thanks to Yoyo, and to other friends whose names I do not mention here. Thanks for helping me to be here and now.

Thank God, for giving us the chance to live such a miraculous life.

Buku-buku jelek

Secara fisik loh ya.
Beberapa hari yang lalu saya mengatur ulang buku-buku saya. Nah, keremu lagi deh sama buku-buku jaman dulu banget. Kloter awal pembelian buku deh pokoknya, hehe.

Salah satu yang kondisinya menyedihkan adalah Goosebumps #27: Semalam di Menara Teror. Covernya udah copot, baik yang depan maupun belakang. Beginilah penampakannya.

Tampak Depan


Tampak Belakang

Hihi, di lembar belakang ada kupon buat dapetin poster menyala dalam gelap. Kalau saya kirim sekarang masih ada di GPU ga ya posternya? Hehe.


Kalau yang ini salah satu buku kesayangan saya: Semester Pertama di Malory Towers. Bahkan, buku inilah yang pertama kali bikin saya hobi banget baca.


Penampakannya jadi lebih baik setelah diberi sampul plastik, tapi bekas-bekas perjuangannya masih ada. Ada lembar-lembar yang nyaris terlepas dari jilidnya. Ada halaman-halaman yang diisolasi juga kaena udah robek. Saya bahkan ga inget kapan diisolasinya.



Yang satu ini juga termasuk buku kesayangan: Superfudge.


Ini buku lanjutan Kisah Anak Kelas Empat. Buat yang ga tau, kedua buku itu highly recommended. Ceritanya tentang Peter dan adiknya yang gila, Fudge. Lucu banget, seriusan. Kalo masih bisa nemu di toko buku, mending langsung beli deh. Nah buku Superfudge ini bukan hanya kehilangan cover belakang, tapi juga bab terakhirnya


Yah, maklum, dulu masih anak kecil, hehe.

what you see != what you sketch != what you capture

Beginilah kalau kelamaan menganggur XP.

Kemarin berencana mau pergi. Udah siap-siap pake baju rapi, taunya ada penundaan hingga waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya saya ganti baju rumahan lagi, baju rapi yang tadi ditumpuk di tempat tidur. Berhubung bingung mau ngapain, saya pun menggambar pemandangan yang sedang terlihat dari kursi belajar saya waktu itu.

Jeng jeng, inilah dia. Tumpukan pakaiannya ga jelas banget ya, hehe.


Nah, kalau dibandingkan dengan pemandangan yang ditangkap oleh benda canggih, beginilah keadaannya:


Tapi sesungguhnya, gambar di atas juga tidak serupa dengan keadaan yang saya lihat waktu itu. Tirai putihnya misalnya. Itu karena silau, jadi ga keliatan ada daun jendela.

Ga penting ah.

Predeparture Briefing

We had an Erasmus Mundus predeparture briefing and alumni gathering yesterday, where "Where will you go to study?" or "Where have you been?" were the most frequently asked questions.

And while we frequently heard France, Spain, Austrian, Germany, Norway, Portugal, Italy, Belgian, or Netherlands as the answer,
no one mentioned Malta.

Well, that makes me feel like I'm kind of,
exceptional.
:)

trouble sleeping

It's 1 in the morning and I still don't see my brother's motorcycle, which means he's still at work. Oh, how I hate how those people of big companies enslave us.

Well, I'm not in my best state now. I worry too much about my visa application, which haven't even started until now. I don't want to talk about it.

And lately I keep falling asleep so early. My boyfriend called and texted and I didn't even hear anything. An hour later, I'm fully awake and unable to sleep until 3 hours later, which is now. And here I am, feeling guilty, finishing my cup of Milo and listening to Lifehouse.

I feel better now, though. Night praying can be so hard to do sometimes, even though you know that would make you feel better. Tumblr-walking also helps, I really like this one. This is why I like Tumblr: people post nice vintage photos, inspiring quotes, and you don't have to see crappy comments like in Facebook. Except, too much of reading quotes will make them sound cliche, especially love quotes. Duh, you have no idea how often people post that we should say I-love-you's and so on to the one we love.

Well, I can't say I agree, somehow I feel skeptical about love and relationships lately, even though mine is alright. Seeing all those promises and those 3 words are said so easily these days, well it's bugging me. It's like seeing how photography becomes too popular and everyone rushes to pose themselves with a DSLR camera covering their faces as their Facebook profile picture. Owning those big cameras is not so special now that everyone has them. I know it's none of my business, they have all the money they need to keep updated with the latest life style trend. And at some points it's just the same with relationships. They can say anything they want in public, it's still none of my business. But at times I just think that, being said too easily, those words had become less special.

Enough with this stuff, I shouldn't bother anyway. I just finished reading A Catcher in The Rye. I bought it 3 years ago. It's funny how I need such a long time to start, but finish it in only one day. I don't usually like a story with alcohol, sex, and cigarettes, but this one is an enjoyable read.

I'm still listening to Lifehouse, they're like my favorite band now. All this time I knew they make good songs with good lyrics, but only after listening to the bittersweet song From Where You Are, I started to listen to all their previous albums also. I especially like this one now:

Well maybe I'm blind, just throwing darts in the dark.
I didn't get what I want, I got what I need.
Man it hurts like hell down here on my knees.
Is this where I end, or is this where we begin?

My pulse is racing, I can't catch my breath.
This near-life experience scared me to death.
Is this where I end, or is this where we begin? 

Enough for tonight, it's 2 am already. Maybe I'm just missing him too much. Maybe I'm just longing for weekends when we would go to boring malls and watch boring movies and it won't be boring at all.

sejujurnya

gw takut ga jadi berangkat gara2 visa ga kelar2

pencarian hiburan

Setelah jeda yang cukup lama, akhirnya kemarin saya jalan-jalan ke mol sendirian lagi dengan niat beli benda-benda penghibur hati. Berhubung males jauh-jauh, saya ke daerah Depok doang.

Heran deh kenapa orang-orang suka ke TM Bookstore. Memang sih harganya lebih murah karena selalu diskon (meskipun harga awalnya juga lebih mahal), tapi tapi tapi... Hal-hal yang tidak saya sukai dari TM Bookstore:

  1. Kalau mau masuk harus nitipin tas. Yaelah paling males deh, bahkan tas normal yang biasa dibawa-bawa wanita juga harus dititipin. Bah.
  2. Susunan bukunya berantakan. Nah pusing deh ngeliatnya, 3000 buku dengan sampul berbeda ditempatin berdempetan di rak yang sama. Kalau udah tau judul buku yang mau dibeli sih mending. Kadang-kadang kan belum tau mau beli buku apa, tapi keburu pusing ngeliat pilihan yang ada.
  3. Musik hingar-bingar. Selama di toko buku, diputarlah lagu-lagu awam (Indonesia top 40 biasanya) dengan volume gede. Duh. Beda banget sama Aksara yang nyetel musik jazz sendu (saya juga ga suka, haha). Hm, paling enak kalo di toko buku ya suasananya sunyi senyap.
Daaan, akhirnya kemarin saya pulang dengan tangan hampa dari TM Bookstore. Padahal hampir sejam di sana, tapi ga nemu buku yang pas. Yah, karena saya kecewa dengan TM Bookstore, mungkin ada yang berpikir saya lebih suka Gramedia. Ga juga. Di Gramedia, lokasi buku di rak ga selalu sama dengan yang ditunjukkan di sistem informasinya. Jangan pula berharap banyak deh dengan nanyain pegawai-pegawainya.

Jadi akhirnya kemarin saya beli baju. Oh bukan berarti saya puas dengan pelayanan di Centro. Paling sebel deh kalo lagi milih-milih terus ditongkrongin ama mbak-mbaknya. Biasanya saya langsung kabur kalo kaya gitu, males nanggepinnya.

Ah, entah kenapa jalan-jalan ke mol sekarang ga menyenangkan deh, haha. Asikan ke Tanah Abang, bisa beli dvd serial Korea.

Cough and other related things

Cough may be my biggest health problem. It never goes away easily and the doctors had to give me codeine frequently. My medical records for the last few years show that my complaints were just for coughs, coughs, and coughs. So when this last two weeks I had it again and had seen the doctors twice and had swallowed up a bottle of Codipront and it still didn't stop, I refused to have more drugs. For a few days I drank jamu beras kencur and red ginger, but no improvement. So my parents forced me to see the doctor again.

It turned out my concha (part of the nose) is swollen that it blocked my breathing passages. The doctor said it has been going on for at least 2 years because of dust allergy. Well, it's alright now. I get my treatment today and breathing never feels this superb. And the cough? Gone.

What concerns me is the fact that it happens to a lot of people in Jakarta from breathing the polluted air, even my brother. It blocks your breathing flow, causing your body to not get enough oxygen. You find it hard to concentrate, get sleepy and tired easily, at times stop breathing for a few seconds, and for my case, I unconsciously breathed from my mouth, causing my lungs to get dirty air, which leads to cough.


So I guess that's why people need caffeine to boost up their ability to concentrate. That's why people in Jakarta prefer watching movies to reading books, because the former does not require your brain to work as hard as the latter. That happened to me too. I only finished half of the books I bought and watched television instead, even though I know we're much too smart for those television programs.

Being lucky enough to have a car and very rarely use public transportation, I guess I can try to avoid Jakarta pollution. But there are people on the sidewalks who wait for the bus and are exposed to the dirty air. We all realize that Jakarta streets are not made for people. Well, they're not even made for cars, considering the traffic jams. They are made for the president, other people have to give way for him to pass.

But if you see what I mean, I guess we all long for parks with trees instead of malls, where people can just sit and relax and breathe fresh air without having to pay. For the sidewalks where people can actually walk comfortably, without having to cover their nose from breathing the polluted air. Legs are made for walking, but you can't walk on Jakarta streets. And how could we consider doing "bike to work" program? I used to go to work at 6 in the morning and even at that time I could not roll down the car window without having to consume dirty air from Metro Mini.

The Higher Power of Lucky


Title: The Higher Power of Lucky
Author: Susan Patron
Publisher: Aladdin Paperbacks

Lucky is a 10 years old girl in Hard Pan, California. She has lived with her guardian, Brigitte (Lucky's father's first wife) for 2 years since her mother (Lucky's father's second wife) died. When one day she found Brigitte's passport and other convincing proofs that Brigitte is planning to return to France, Lucky runs away from home with her dog HMS beagle and a backpack of survival kit.

At first this book seems rather dark and gloomy. It has alcoholics, smokers, gamblers, a mother in jail for selling drugs, scrotum, which lead to controversy of whether this is a suitable read for kids. I even gave up this book on first try, as it was rather boring and I wondered how this book won a Newbery. But when I tried again, I could not put this down. So, apart from the question if this is suitable for kids, I think The Higher Power of Lucky is a nice read.

Rating: 4/5.

Wizards: Kumpulan Kisah Magis dari Pakar-Pakar Fantasi Modern



Judul: Wizards: Kumpulan Kisah Magis dari Pakar-Pakar Fantasi Modern
Penulis: banyak
Penerbit: Matahati

Yup, kumpulan kisah fantasi. Biasanya saya ga suka baca buku kumpulan kisah pendek begini. Fragile Things-nya Neil Gaiman aja ga berhasil saya tamatin. Nah di buku ini doi ikut berkontribusi juga, beserta beberapa nama lain yang terdengar familiar buat saya: Patricia McKillip, Eoin Colfer, dan Garth Nix. Sisanya orang asing semua (bagi saya).

Ada 18 cerita di buku ini, beberapa bagus, beberapa busuk. Untuk lebih jelasnya, mari dibahas satu per satu sebelum saya lupa ceritanya.
  1. Neil Gaiman - Batu Nisan Sang Penyihir (The Witch's Headstone)
    Awalnya saya agak kecewa begitu baca cerita ini. Kenapa? Karena cerita ini diambil dari salah satu bab The Graveyard Book, yang artinya saya udah pernah baca. Tapi baca lagi deh. Meskipun dicopot dari bab-bab The Graveyard Book, kisah ini masih sangat asik dibaca loh.
  2. Mary Rosenblum - Penglihatan Berwarna
    Ceritanya tentang Melanie yang bisa mendengar warna, misalnya dia dapat mendengar kata-kata keluar yang dari mulut seseorang dalam suatu warna tertentu. Ga jelas, masuk kategori busuk.
  3. Patricia A. McKillip - Hari Penamaan
    Di Hari Penamaan, Averil harus memilih nama rahasia yang akan digunakan untuk melanjutkan pendidikan sihirnya. Namun ternyata nama itu datang padanya dalam suatu rangkaian peristiwa tak terduga. Kisah yang sederhana tapi manis. Meskipun tipikal teenlit, saya suka cerita ini.
  4. Nancy Kress - Penguasa Batu
    Kisah yang biasa-biasa saja dan mudah dilupakan, hoho. Sebentar saya ingat-ingat dulu ceritanya. Oh, tentang Jared yang suatu hari menemukan bahwa dirinya adalah penyihir yang mampu mengendalikan batu. Jadi ada semacam perkumpulan gitu, setiap orang bisa menguasai hal yang berbeda. Standar.
  5. Jeffrey Ford - Mantra Manticore
    Err, ada manticore mati, ada yang mempelajari manticore yang mati itu, dan ada yang kebingungan membaca cerita tentang pelajaran mengenai manticore tersebut (yaitu saya, kalau-kalau ada yang ga nyambung). Hehe, seriusan deh, saya ga ngerti maksud cerita ini.
  6. Terry Bisson - Billy dan Sang Penyihir
    Cerita ini juga cukup asik, meskipun saya ga begitu ngerti apa yang sebenarnya mau disampaikan si penulis, hehe.
  7. Terry Dowling - Magikker
    Hihi, mudah terlupakan juga. Kayanya sih standar-standar aja.
  8. Gene Wolfe - Binatang Ajaib
    Oh kalau cerita yang ini saya ingat betul. Karena busuk, sodara-sodara. Aduh seriusan deh, namatinnya mati-matian (meskipun ga sampe 40 halaman), tapi sampai akhir pun ceritanya ga membaik.
  9. Orson Scott Card - Stonefather
    Baguuuuuuuus! Salah satu cerita terbagus di buku ini.
  10. Garth Nix - Holly dan Besi
    Ini juga lumayan bagus, meskipun membuat saya agak bertanya-tanya, "begitu doang akhirnya?"
  11. Kage Barker - Permata Tak Terbandingkan
    Ah, ini juga bagus! Suka deh.
  12. Eoin Colfer - Kisah Unggas
    Hanya 7 halaman, tapi hanya sebanyak itu yang dibutuhkan Eoin Colfer untuk menulis cerita yang lucu dan menghibur. Masuk kategori bagus.
  13. Jane Yolen - Meluncur Menembus Keabadian
    Bah! Busuk.
  14. Tad Williams - Tangan-tangan Asing
    Penyihir paling jahat yang berubah menjadi pembawa mukjizat. Mantap!
  15. Elizabeth Hand - Istri Winter
    Awalnya asik. Belakangan jadi standar.
  16. Andy Duncan - Diorama Neraka, atau Pertanyaan Iblis yang Kesembilan
    Ini apa siiiiih. Aneh deh.
  17. Peter S. Beagle - Tarian Tanah Tandus
    Hanya narasi tanpa percakapan. Hoahm. Ga berhasil namatin, keburu bosen.
  18. Tanith Lee - Zinder
    Ada anak buruk rupa yang berubah jadi malaikat tampan penebar kebaikan saat malam tiba. Ga nangkep inti ceritanya.
Itu dia ulasan singkat seluruh cerita yang ada di buku ini. Secara keseluruhan, saya kasih nilai 3/5 deh.

Pulau Tidung

Saya baru kembali dari Pulau Tidung, yey!
Sebenernya sepanjang minggu itu, Senin-Jumat, saya lagi sakit, tapi Sabtu-nya tetep nekat berangkat, hehe. Bersama 21 orang teman saya ambil paket murah 280.000 per orang, dapet penginapan AC, makan 4 kali, sewa sepeda, sewa peralatan snorkelling, sewa kapal.. Hm, apa lagi yah? Kurang lebih begitu deh.

Perjalanan dimulai dari rumah saya (untuk saya tentunya, yang lain sih dari rumah masing-masing) ke Muara Angke. Beh, malesin banget sodara-sodara. Jalanannya kotor, becek, dan bau. Belum lagi ada bagian yang tergenang air kotor sampai atas mata kaki. Untungnya ada becak-becak beredar yang siap menyeberangkan. Mending bayar 4 ribu deh daripada nyelupin kaki, hehe.

Setelah derita di jalanan Muara Angke, kami pun naik ke kapal rombongan. Saya milih duduk di bagian atas kapal yang terbuka, yang terbukti menjadi spot paling sempurna di kapal. Ga perlu sumpek desek-desekan sama orang, dapet angin dan pemandangan bagus (setidaknya begitu sudah menjauh dari Muara Angke terkutuk itu).

Setelah 2-3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai ke dermaga Pulau Tidung. Er, ternyata RAME BANGET! Di mana-mana orang, huhu. Melihat perairan sekitar pulau, saya kurang terkesan. Memang sih jernih, tapi banyak sampah. Tapi ya sudah, kami pun menuju penginapan yang ga jauh dari dermaga. Tempatnya lumayan oke, terutama karena sudah ada makan siang dan rujak menanti. Bumbu rujaknya enak deh.


Setelah puas ngerujak, kami pun jalan-jalan. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki. Saya mah jalan kaki aja, hehe. Nah yang perlu saya tekankan adalah, di sana itu bener-bener RAME BANGET, bah. Sebelumnya saya agak kepengen lompat dari jembatan (they call it Jembatan Cinta, tapi nyebutnya aja saya males), tapi begitu ngeliat ramenya alay-alay, keinginan saya langsung menguap. Akhirnya hanya menyusuri jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. Beginilah kurang lebih penampakan jembatannya (agak mirip jembatan Ancol. Maafkan pose modelnya).


Dari jembatan itu, bisa ngeliat laut yang jernih dengan karang-karang bertebaran. Dan sampah yang juga bertebaran, huh. Sesampainya di Pulau Tidung Kecil, pinggiran pantai dipenuhi turis-turis, jadi kami pun main bete.


Nah sore itu rasanya Tidung kurang memuaskan, karena banyak turis dan sampah dan garis pantainya pendek banget. Saya kembali ke penginapan dengan hati agak kecewa. Ga menyaksikan sunset dan sunrise karena ngantuk akibat obat batuk.

Nah besok paginya kami pun snorkelling. Menuju tempat snorkelling dengan perahu goyang. Nah di sini barulah kelihatan lumayan. Terlihat terumbu karang, meskipun masih jauh kalah bagus dengan yang di Ujung Kulon. Sayangnya, beberapa detik setelah mencelupkan tubuh ke laut, terasa sengatan di kulit. Kalau kata abang-abang kapalnya, itu karena ada ubur-ubur di perairan situ. Akhirnya kami pun pindah tempat, hehe. Tempat snorkellingnya terhitung sangat dangkal, jadi saya agak takut karangnya bakal rusak keinjek-injek, juga takut kaki luka kepentok karang. Kalau dilihat dari pengalaman snorkellignya sih, jauh kurang asik dibanding waktu di Pulau Peucang.

Setelah snorkelling, kami balik lagi ke Pulau Tidung Kecil buat main-main di perairannya. Dan kali ini, pantainya bersih sodara-sodara. Katanya sih, kemarin itu kotor karena banyak sampah yang terbawa oleh arus. Lumayan juga jadinya.

(foto diambil dari facebook-nya Jenggo)

Siangnya, kami pun bersiap kembali ke Jakarta. tidak lupa berfoto dulu.


Naik kapal lagi, saya pun memilih tempat sempurna yang sama di kapal. Asik buat melihat pemandangan, nyaman buat tidur. Sampai akhirnya laut mulai menghitam dan kami pun berlabuh di dermaga Muara Angke. Alhamdulillah, kembali ke Pulau Jawa dengan selamat.

Kesimpulan

Hm, jangan salah, saya bergembira loh di Pulau Tidung. Udah lama ga ketemu teman-teman kuliah, jadi begitu berkumpul jelas terasa sangat menyenangkan. Tapiiii...

Menurut saya Pulau Tidung tidaklah indah. Mungkin karena belum lama ini saya ke Ujung Kulon yang jauh lebih bagus kali yaa.. Pemandangan kurang bagus, snorkelling kurang nyaman. Selain itu, ramenya juga malesin banget.

Jadi, kalau Anda mengharapkan liburan tenang dengan suasana alam yang indah dan jauh dari keramaian, Pulau Tidung bukanlah tempatnya. Di sisi lain, kalau Anda sekedar ingin mencari suasana berbeda dari sekedar ngemol mulu dengan biaya murah, Pulau Tidung bisa menjadi pilihan.

Dan apakah saya sendiri ingin kembali ke sana?
Errr, pikir-pikir sebentar...
Definitely no.
Sekali lagi, mending ngemol deh.

Nilai: 2/5

Pulau Peucang

Akhirnya saya memutuskan untuk mengulas liburan ke Pulau Peucang. Setelah ini baru akan mengulas liburan ke Pulau Tidung.

Jadi semua bermula dari keinginan bokap untuk bernostalgia dengan Pulau Peucang setelah kunjungannya ke sana semasa muda dulu. Perjalanan ke Pulau Peucang sendiri terhitung cukup lama. Saya dan keluarga harus menempuh 6 jam perjalanan naik mobil menuju desa Sumur, selanjutnya baru bisa menyeberang ke Pulau Peucang. Dari dermaga naik perahu dulu sekitar 50 meter, lalu baru deh sambung naik kapal.

Setelah 2-3 jam perjalanan, akhirnya sampailah kami ke Pulau Peucang. Dan ternyata sodara-sodara, pantainya sangatlah bersih. Airnya bening dan mengandung banyak ikan, hehe.



 
 Setelah itu, menuju ke penginapan yang terletak di depan pantainya. Di sekitar situ ada rusa dan babi hutan berkeliaran yang sangat bersahabat untuk difoto, hehe.



Selanjutnya, muter-muter sekitar pulau. Hm, memang indah dilihat, tapi pantainya sendiri cenderung curam dan minim ombak, jadi kurang asik. Paginya saya jalan sedikit buat melihat sunrise:


Setelah itu saya dan keluarga menyeberang sebentar untuk ke Taman Nasional Ujung Kulon. Sebenernya ga tau ada apa di sana, tapi ikut-ikutan aja deh. Dari papan selamat datang Taman nasional Ujung Kulon, jalan kaki sekitar 30-45 menit. Tanahnya becek dan berlumpur, bah. Dan sesampainya di sana, jeng jeng..

Ga ada apa-apa.

Ada mercu suar sih, tapi udah ditutup karena ada bagian yang runtuh. Selebihnya, hanya ada rerumputan dan pekarangan (dalam artian banyak karang) menuju laut. Begini fotonya:



Oh bukannya tidak bagus. Jelas bagus kok pemandangannya, tapi ya di sana cuma bisa foto-foto. Sebentar juga bosen. Jadi, acara selanjutnya adalah snorkelling. Naik kapal lagi sebentar menuju tempat snorkelling. Daaan, ternyata sangat menyenangkan, sodara-sodara. Cukup dangkal untuk bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan, juga cukup dalam sehingga ga perlu mengkhawatirkan kaki kepentok karang. Begini fotonya (dengan Abang sebagai model):



Diambilin bintang laut sama abang-abang kapalnya.


Snorkelling selesai dengan sangat memuaskan.Kami pun siap kembali ke Jakarta.

Kesimpulan

Dilihat dari sisi pemandangan, Pulau Peucang memang memuaskan. Pantai bagus dan berpasir putih, air jernih, banyak ikan. Belum lagi spot snorkelling yang indah luar biasa. Sunset dan sunrise sangat menarik untuk dilihat.

Tapi cukup sudah muji-mujinya.

Akomodasi di sana jelas kurang memadai. Penginapan gelap dan suram, bocor kalau hujan. Belum lagi listrik yang mati tiap beberapa jam, menyebabkan akses air juga sulit. Untuk air minum, kami sudah diberitahu bahwa air minum di sana harganya mahal. Dan meskipun sudah membawa cukup banyak air, tetap saja persediaan habis. Ternyata masalah tentang air minum bukanlah harganya yang mahal, melainkan yang jual pun pada kehabisan.

Untuk cuaca, panasnya luar biasa. Kalau di pantai biasanya banyak angin, di sana engga. Menjelang malam baru terasa ada angin.

Jadi kalau ada yang memutuskan untuk berlibur ke Pulau Peucang, Ujung Kulon, pastikan Anda membawa sunglasses, sunblock, air minum yang banyak, dan makanan pokok yang banyak juga. Saya mah ogah ke sana lagi, mending ke mol XP.

Nilai: 3/5.

Moon River

~numpang sendu dulu malem-malem.


Moon river, wider than a mile
I'm crossing you in style some day
Oh, dream maker, you heart breaker
Wherever you're going, I'm going your way

Two drifters, off to see the world
There's such a lot of world to see
We're after the same rainbow's end, waiting 'round the bend
My huckleberry friend, moon river, and me

(moon river, wider than a mile)
(I'm crossing you in style some day)
Oh, dream maker, you heart breaker
Wherever you're going, I'm going your way

Two drifters, off to see the world
There's such a lot of world to see
We're after that same rainbow's end, waiting 'round the bend
My huckleberry friend, moon river, and me


beres-beres lemari

Kemarin saya beres-beres lemari pakaian. Misah-misahin baju yang sudah ga terpakai lagi. Dan ternyata...
Jeng jeng jeng.

Beberapa celana harus keluar lemari, sodara-sodara! Hoho. Untungnya kemeja ga ada yang harus keluar, ukuran 6 tetap muat tanpa ada tambahan ketidaknyamanan sedikitpun. Dan sebenarnya ukuran celana pun ga berubah, tetap 28. Jadi celana-celana yang harus keluar adalah kepemilikan saya 4 tahun lalu, saat saya sedang kurus-kurusnya. Sejujurnya celana-celana tersebut sudah lama kesempitan, tapi selama ini tetap saya simpan dengan harapan saya akan bisa kembali ke ukuran tersebut.

Harapan palsu. Huh. Kalau dipikir-pikir, berat saya sekarang sudah bertambah 8 kilo dibanding 4 tahun lalu, wokwokwok. Tapi rasanya ga masalah tuh, hihi. Sepertinya belum ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali kalau nanti ukuran baju saya berubah.

Frozen Yoghurt

Selain kamera DSLR, hal lain yang sedang trendi adalah frozen yoghurt. Bedanya, kali ini saya doyan. Mari di-review!

  1. Red Mango. Nyobain yang rasa stroberi, menurut saya sih terlalu manis.
  2. Sour Sally. Hmm, sepertinya antusiasme orang-orang terhadap Sour Sally berlebihan deh. Saya nyoba yang twist. Yang ijo-nya tuh rasa apa ya? hehe. Kurang enak menurut saya, cepet lumer pula.
  3. J. Cool. Nah, dibandingkan froyo sejenis, yang ini harganya lebih murah, tapi rasanya lumayan oke.
  4. Tutti Frutti. Ini favorit saya. Sayangnya jatuhnya sering kali lumayan mahal karena harga dihitung berdasarkan berat yoghurt yang diambil. Jadi ga boleh kalap ngambilnya.
  5. Lite n Sassy. Nemu di Citos, rasa biasa aja, cepet lumer.
Baru nyoba itu doang sih.

officially unemployed

I just ended my working days at KPEI yesterday. Well, what can I say that you, my blog readers, haven't already known? I wrote my daily complaints here :-P

So, I started that job as a depressed, lonely girl. I didn't expect too much, except to find a new place where I can distract my mind from my own tiring thoughts. But since my first day, everyone has begun to treat me very well. They asked things about me, invited me to join communities named Community of Practice (CoP), and most importantly they made me laugh a lot.

Sometimes it seemed to me 8 to 5 could last forever, 24 hours were never enough that I had to work multitaskingly. I got used to handle more things at a time, but was also less focused in each of them. And most of the time I was afraid if I couldn't get anything done, or if they were done but not as good as they should be.

My days at KPEI were the days where I had to code with .NET framework, which I haven't ever touched before and which I was not so excited to learn about. But the coding was just a little part of my job. Most of the time I was involved in a system developed by vendors, so my real job was to talk and to bridge the communication between them and the users. Which I hate XP. I was (and am) not good with people, even with good people. But I had this Senior Officer written as the job title in my name card, so I had to start acting like one. Luckily, the vendors were quite nice too, and if they knew I didn't understand a thing, they didn't show it. But slowly I turned from a half-hearted worker who knew nothing about the system into someone who had enough knowledge to transfer to her colleagues (but sometimes still working half-heartedly).


So, my days at KPEI were the days where I tried squash for the first time (and maybe for the last time), where I joined CoP in photography just for fun (I didn't even know what ISO was), and where I gained a few more kilos and learned that even though there were a lot of food in variety and amount, it didn't mean you have to try all of them. Those were the days where I had to sacrifice my reading and sleep hours and got dark circles below my eyes.

And before I realized, I stopped being depressed and lonely.


So, I guess it all comes down to one thing: life lesson (halah XP). In my 22 years of life, somehow my expectations on people had become so low that I started taking them for granted. But you know you should not take anything for granted. Everyone took my resignation quite well, but I knew it was not easy for them to find me and it won't be easy to start over to find someone to fill the position and teach him/her how the systems work there. I have to do better next time, 4 months are really too short XP.

And there ended my last day. I sent my last email, a goodbye email, to all of the employees using my email address before it is blocked. I sent the latest progress report to my boss and went around shaking hands with people who wish me good luck. I took home my pump/peep-toe/high heels and other personal stuff from my cubicle. And in the basement that day, I had to ask the security guard to let me out of the building because I had returned my ID card.

Now, I have all the time I need to write an awful lot of blog posts I've been meaning to write. And I miss reading very much. I want to sit in a couch and just read, just a book in my hands. No multitasking this time, no cell phone or food in the other hand, no listening to music. This time, just one task at a time.

nyari template yang pas itu sulit sodara-sodara

Lagi-lagi merasa kurang sreg dengan template pink berbunga-bunga, pengen nyari yang agak terang. Akhirnya ya balik lagi ke nuansa putih abu-abu kaya anak SMA, meskipun kali ini ada birunya. Dan ada bunga ga penting juga.

Habis gimana, saya orangnya ga mau repot-repot (baca: ga bisa) ngurusin kode css dkk sih. Jadi saya lihat template ini kayanya lumayan. Putihnya terang, abu-abunya ga gelap. Halah. Oke, ga penting. Sebenernya saya pengen nulis sebuah postingan serius malem ini, tapi sayangnya tertunda karena keasikan nyari template. jadi setidaknya saya akan mematikan komputer ini lalu pindah ke laptop. Supaya bisa nulis sambil tiduran.

Atau tidur sekalian kayanya menarik.