![]() |
| http://farm4.static.flickr.com/3169/3106687515_83be05b75e.jpg |
Tenang, ini bukan undangan pernikahan XP
Belakangan ini keluarga saya agak disibukkan dengan rencana pernikahan salah satu kerabat dekat. Nah sejak saat itu kalau ikut orangtua ke suatu resepsi pernikahan, saya jadi hobi memantau catering (ini sih dari jaman dulu sebenernya), gedung, seragam panitia, dll.
Kalau ditanya beberapa bulan yang lalu mengenai impian pernikahan saya nantinya, mungkin jawabannya bisa ditemui di pernikahan tipikal di Jakarta. Yah tau sendiri lah, pernikahan di aula gedung, dengan catering enak berlimpah, undangan dan suvenir, panitia berseragam, dll.
Tapi... Saat menghadiri suatu resepsi pernikahan di auditorium PTIK beberapa saat yang lalu, suatu pemikiran datang ke kepala saya.
I could not help but notice how big the hall was and wonder if I have enough friends to come and fill it.
Sejak saat itu saya jadi banyak mikir dan berubah pikiran tentang pesta pernikahan dengan segala aspeknya.
Yang Diundang
Tidak bermaksud menyedihkan, tapi saya rasa teman saya tidak sebanyak itu. Anggaplah saya mengundang teman-teman SMA/kuliah/kerja lewat Facebook atau milis. Penuh sih penuh. Namun dari semua yang diundang itu, berapa banyak sih yang cukup peduli untuk kenal calon suami saya atau benar-benar tulus mendoakan rumah tangga yang sakinah, alih-alih cuma salaman dan bilang "selamat ya"? Sebagian besar bahkan ga saya kenal dengan baik, cuma teman sekelas waktu SMA yang ngobrol sesekali dan ga pernah saya temui lagi selama bertahun-tahun.Tempat
Okelah ga masalah sewa aula gedung kalau tamunya berlimpah, sekaligus nyediain tempat ngantri buat salaman. Tapi ditilik dari pembahasan di atas, seandainya saya memang berniat memotong jumlah undangan, tidakkah aula gedung terasa berlebihan? Sewanya mahal loh.Undangan dan suvenir
Dua hal ini biasanya memakan biaya cukup besar (terutama karena jumlah tamunya juga besar) tapi lalu terlupakan oleh si penerima. Yap, undangan bagus-bagus yang dirancang susah payah pada akhirnya tersingkirkan setelah menghafalkan peta lokasi. Setidaknya itulah yang terjadi di rumah saya, hehe. Paling cuma menghabiskan beberapa detik buat komentar, "Wah undangannya bagus nih" atau "Ini undangan jelek amat sih" tapi selain itu ya sudah ga dipedulikan lagi.Suvenir juga sering bernasib sama. Sering kali saya mendapatkan suvenir yang tipikal (kipas, mug dkk) atau malah ga memiliki fungsionalitas (misalnya pajangan, ih bete deh). Pada akhirnya benda-benda seperti itu malah terlupakan.
Foto pre-wedding
Nah saya sensi nih kalau ngomongin foto pre-wedding. Kalau ga salah dulu sempat beredar fatwa bahwa foto pre-wedding itu haram ya? Hehe, bukan itu sih alasan saya berantipati terhadap trend foto pre-wedding. Alasannya? Satu, mahal. Dua, ga ngerti maksudnya. Idenya mau mengabadikan momen romantis gitu kali ya. Tapi kenyataannya, momen romantis itulah yang berusaha diciptakan oleh si fotografer (dan biasanya ga dapet, keliatan kaya dua orang berpose agar tampak romantis), bukan karena memang momen itu ada dari sananya. Entah ya, mungkin karena belakangan ini saya beranggapan orang Indonesia kebanyakan berpose (efek-efek sensi ama anak gaul dan kamera DSLR, hihi). Dan para tamu yang ngeliat? Yaelah, paling ngelirik dikit, komentar dikit, terus lupa.Catering
Kalau untuk yang ini, saya ga punya keberatan terhadap trend pernikahan di Jakarta. Catering wajib enak dan beragam, hehe.Seragam Panitia
Nah, seragam panitia pihak pria dan wanita biasanya dibedain sedikit warnanya. Intinya sih, dikasih bahan kebaya lalu disuruh jahit sesuai selera masing-masing. Untuk beberapa keperluan mungkin ada yang sewa kebaya juga. Er, ini intinya cuma buat nunjukin yang mana keluarga pria, yang mana keluarga wanita, begitu bukan? Entahlah, buat saya kok rasanya agak berlebihan ya. Mulai dari milih bahannya, nentuin warna, nawar harga. Lalu untuk pihak yang dikasih: mikirin modelnya, ongkos jahit, nyari jilbabnya, dll.Kado buat mempelai a.k.a amplop duit
Kalau yang ini dari tamu untuk kedua mempelai. Kalau dilihat lagi, bukannya tujuan awal dari menyelenggarakan suatu pesta pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan? Kalau begitu masa sih orang yang diundang untuk turut berbahagia malah harus membayar? Fyi, jaman sekarang kalo dateng tanpa amplop mending pulang lagi.Kesimpulannya
Bukan berarti saya anti terhadap tipe pesta pernikahan seperti itu loh ya (kecuali mungkin foto pre-wedding XP). Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah:- Seandainya saya punya cukup uang, saya tidak ingin menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
- Seandainya orangtua saya/calon suami saya punya cukup uang, saya tidak ingin mereka menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
Sekali lagi, bukan berarti saya ga mau pernikahan saya diselenggarakan dengan cara seperti itu. Misalnya ada pihak yang berbaik hati mau ngasih duit, dan duitnya harus - ga boleh engga - digunakan untuk pesta pernikahan yang ramai dan meriah, ya saya mah oke-oke ajah, hehe (tapi nawar deh, ga pake foto pre-wedding).
Yang saya inginkan
Kalau bukan yang ramai dan meriah, lalu tipe pernikahan dong apa yang saya inginkan? Jujur ga tau, haha. Waktu lagi ngomongin rencana pernikahan kerabat saya pagi ini, saya bilang ke nyokap, "kalau saya nikah nanti, ga mau repot-repot kaya gini ah. Di KUA aja juga ga papah."Nyokap cuma ketawa.
Yang pasti sih kalau untuk saat ini, saya ga menginginkan pernikahan seperti itu. Kalau harus sekedar nikah di KUA, so be it. Tapi karena sebaiknya kita berbagi kebahagiaan, tetap perlu ada perayaannya dong. Pengennya hanya ngundang orang-orang terdekat aja, mereka yang benar-benar peduli untuk mengenal calon suami saya, yang masih akan menelepon untuk mengabari kalau mereka punya anak, yang masih akan menelepon untuk tahu kabar keluarga saya, dll. Ga perlu ada seragam panitia, ga perlu ada foto pre-wedding. Suvenir boleh tapi yang benar-benar berguna. Tamu dateng ga usah bayar. Hihi, apa sih.



























