Archive for May 2010

the cats in the card

Last week I said to my boyfriend, I want to buy colored pencils.
He asked, why would you need colored pencils?
(Well, he did not actually say that, because we spoke in Bahasa Indonesia. But let's just say I want to write this post in English)
So I replied, I want to draw.
He asked again skeptically, draw what? I don't know you like to draw.
I said, oh, I love drawing. That's one of my hobbies (which would be true if this was 1993 and I was 5 years old).
He laughed and asked me to give him my drawings.

So I drew some pictures for myself and threw them away (because I have no intention of keeping them from the first place and no space for them in my room). Then I drew cats for my boyfriend (which he loves and I hate): a cat in my opinion and a cat in his. But after finishing those pictures, I thought it would be really boring if I just give them away like that.

Then an idea came to me. When I was browsing at home last Thursday (I was too sick to go to work, but not sick enough to stay in bed all day, hehe), I ran into a blog post about pop-up cards and I thought it would be nice if I put those cats in a pop-up card. So with a piece of glossy blue paper, white paper, scissors, and super glue (I couldn't find paper glue so I used a tube labeled "Lem Super" instead), I made this card.


The black and white strips are not part of the card, they are motives of my bed cover. The card has the cat-in-my-opinion in the center (yes, that's a picture of a cat, in case you're wondering), like a guard prevents you to see what's inside.

But if you open it, you'll see a popped-up, nice, fat cat saying a popped-up happy birthday. The milk cup (yes, that's a milk cup) is an accident. I spilled some glue in the white part, so I covered it with the crappy milk cup picture.

It is still too plain, maybe. I was thinking of drawing a colorful background but then I realized it would be (if not already) too girlie, hehe. So I stopped there. I mean, who am I kidding? That card will last at most 2 weeks in my room before it ends up in a trash can (because I hate keeping things that have no practical use). If I give it to my boyfriend, most likely he would keep it and forget it soon but at least those two cats are safe.

Which reminds me, I have not looked for an actual birthday present.

out of words

I have been trying to write here for a while now, only to type a paragraph, reread and erase it. And it's not like I'm trying to write something informative that needs perfection here and there. Just a typical post about daily life, but lately I'm running out of words.


I worry about too many things.

Remember Me



Hm, Robbert Pattinson. Wekeke. Saya bukan salah satu dari orang-orang yang terpesona dengan kemunculan Robert Pattinson di Twilight. Mungkin pengaruh make up vampir? Hehe. Tapi melihat trailer film doi yang ini, sejujurnya saya tertarik.

Akhirnya nontonlah saya dan pacar. Dan ternyata sodara-sodara, ini adalah film bagus. Saya ga akan membahas rinciannya di sini. Ini adalah film tentang Tyler Hawkins dan hubungannya dengan orang-orang yang dicintainya, dan bagaimana dia berusaha membuat hidupnya berarti. Berikut adalah kata-kata Tyler di akhir film yang saya sangat suka:

Whatever you do in life will be insignificant. But it is very important that you do it because, you can't know. You can't ever really know the meaning of your life. And you don't need to. Just know that your life has a meaning. Every life has a meaning. Whether it lasts one hundred years or one hundred seconds. Every life, and every death changes the world in its own way.

Ghandi knew this. He knew his life would mean something to someone, somewhere, somehow. And he knew with as much certainty that he could never know that meaning. He understood that enjoying life should be of much greater concern than understanding it.
And so do I.

You can't know. So don't take it for granted. But don't take it too seriously. Don't postpone what you want. Don't leave anything misunderstood. Make sure the people you care about know. Make sure they know how you really feel.
Because just like that,
it could end.

tua di jalan

Saya baru menjalani 2,5 jam yang sangat melelahkan. Oh, mungkin 13 jam yang melelahkan sebenarnya (10,5 jam diantaranya adalah jam kantor, hehe). Yah, tapi yang berasa kejam banget adalah perjalanan pulang kantor sore ini. That M word.

Macet!

Najis. Mari kita telaah sebab-musabab terjadinya kemacetan. Huhu, udah jelas sih sebenenarnya. Banyak orang yang terlalu betah tinggal di Jakarta, sementara kotanya sendiri segitu-segitu aja, ga bisa meluas. Tapi mari saya ambil studi kasus beberapa titik macet yang saya lalui di perjalanan pergi dan pulang kantor yang sangat menarik.

Macet di Pasar Lenteng
Penyebab: orang-orang nyeberang jalan.
Solusi: bikin jembatan penyeberangan? Yeah, like it's gonna change a thing. Satu, orang-orang biasanya terlalu malas buat naik turun tangga. Dua, kebanyakan jembatan penyeberangan yang sudah ada sejauh ini gelap, sepi, dan rawan tindakan kriminal.


Macet di perempatan Ragunan
Penyebab: jumlah kendaraan bermotor terlalu besar untuk kondisi jalan.
Solusi: pindahin sebagian penduduk Jakarta (beserta kendaraan bermotor pribadi mereka) ke suatu tempat yang masih lega. Di Kalimantan misalnya, huhu.

Macet di Kemang
Penyebab: (kalo malem) banyak orang ngegaul sehingga banyak mobil keluar masuk tempat gaul.
Solusi: kurangi jumlah anak gaul. Atau setidaknya anak gaulnya ga usah bawa mobil.


Macet di Ampera (jalan pulang)
Penyebab: banyak angkot ngetem!
Solusi: semua orang hanya boleh memberhentikan angkot di halte dan angkot juga hanya boleh berhenti di halte. Ah, tapi kebanyakan orang sekarang males jalan. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan udara panas dan kotor, siapa yang ga males?

Hmm, rasanya ada yang salah dengan semua ini. Dari mobil-mobil pribadi yang saya lihat di jalan, mayoritas hanya diisi satu orang (seperti saya). And it feels like a huge waste of space. But we have no other choice, karena kendaraan umum juga tidak memadai. Kereta penuh dan ga sesuai jadwal. Bus kota sama penuhnya. Transjakarta lumayan nyaman, tapi tetep sumpek di jam pulang kantor. Dan ga ada yang bebas macet.

numpang ngomel

DASAR TUYUUUUULLLLLLLLLL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Thirteen Reasons Why


Judul: Thirteen Reasons Why
Penulis: Jay Asher

Sebelum saya menulis terlalu panjang dan Anda membaca terlalu jauh, ada baiknya saya katakan langsung bahwa buku ini busuk banget (review kaya gini nih yang bikin orang males baca kelanjutannya, hehe).

Jadi, perkenalkan Clay Jensen, anak SMA yang pada suatu hari menerima sebuah paket. Ternyata isi paket itu adalah kaset-kaset rekaman suara Hannah Baker, temannya di sekolah yang belum lama ini tewas bunuh diri. Paket itu dikirimkan secara bergilir kepada tiga belas orang yang dianggap Hannah berperan dalam kematiannya.

Jadi singkatnya, dari tiga belas alasan itu, kita bisa tahu Hannah digosipkan, dilecehkan secara seksual, dikuntit dan difoto, dimanfaatkan, melihat temannya diperkosa, melihat temannya menyebabkan kecelakaan, dan lain-lain.

Alasan-alasan kenapa cerita ini ga masuk akal (tujuh aja, tiga belas berlebihan):
  1. Hubungan Hannah dengan tiga belas orang itu terasa renggang. Contoh: waktu Hannah sadar bahwa ada yang menguntit dan mengambil fotonya diam-diam, dia malah menceritakan hal itu pada orang yang hampir ga dikenalnya sama sekali. Dan setelah itu, keduanya terlalu cepat akrab, ga jelas prosesnya gimana.
  2. Satu kisah terlalu cepat dilupakan. Oke, jadi di satu kisah si Hannah dijahatin sama orang. Lalu di kisah selanjutnya doi seakan lupa, langsung aja dijahatin sama tokoh lain.
  3. Hubungan antarkisah renggang. Lompat-lompat ga jelas.
  4. Sulit rasanya membayangkan semua itu terjadi pada seorang anak SMA dalam waktu yang relatif singkat.
  5. Hmm, orangtuanya Hannah ke mana ya? Si Hannah mengalami semua kejahatan itu dan ngerasa sendirian padahal orangtuanya ada. Satu-satunya cerita tentang orangtuanya hanyalah mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.
  6. Hmm, akhir ceritanya ga jelas banget. jadi si Clay ini punya teman bernama Skye, yang sikapnya agak aneh dan tertutup. Si Skye ini cuma diceritain secuil di tengah. Tapi buku ini malah diakhiri dengan Clay manggil Skye (manggil doang, terus abis, ga jelas itu manggil buat ngapain). Yah, saya ngerti sih maksudnya. Sikap Skye ini mirip dengan sikap Hannah dulu. Dan karena merasa bersalah ga bisa menyelamatkan Hannah, jadinya Clay berusaha untuk menyelamatkan Skye. Still, it does not make any sense.
  7. Most importantly, kalaupun semua itu memang terjadi, tetep ajah harusnya ga dijadikan alasan buat bunuh diri. Iya ga? Apalagi pake mengirim kaset berisi rekaman suara mengerikan.
Anehnya, buku ini mendapat rating cukup tinggi di Goodreads. Yah, masalah selera sih. Covernya juga lumayan oke.

Bahan kekhawatiran

1. UAT plan Sistem X
2. Dokumen alpha test Sistem Y
3. The fact that surat dari Eropa sudah sampe ke Bogor tapi ga ke Lenteng

Itu aja kayanya. Tapi masing-masing poin bobotnya cukup besar. Huhu.

same dress, same bag, same style

Different me (halah, bakal jadi postingan ga penting nih).
I know the blog aggregator is already dominated with my posts, forgive me, I can't help myself. My mind is hyperactive these days, I can't concentrate on any books, so writing is the next best thing I can do.

Um, last night I went to wedding invitation, wearing the same dress and bag I wore on my prom night. Different hijab but same colour and style. Well I hope that instead of, "duh that's at least 5 years out of fashion", you will think, "wow she still fits in her clothes from 5 years ago".

Anyway.

So I could not help but thinking of how I was 5 years ago.
Graduated from my high school, got accepted at Fasilkom UI, spent most of my holiday time playing Need For Speed. I had a crush on a genius who did not notice me. I remember my best friend Karima looked so beautiful that night. And most of the girls wore black because we wanted to look thinner.

I remember I did not really care about what I was going to do with my life, maybe I would just spend the next 4 years studying computer science and look for a job after.
I remember I used to think that I would be a career woman by default. I used to think that it's cool to work on weekends, or when someone calls you beyond office hours to ask a really complicated thing about work and you have to answer it.

Which is totally not who I am now.

Um, let's see. I don't play Need For Speed anymore. Nobody does, I think. I rarely meet Karima because she is now married and has her own business but I think she is still beautiful. I haven't heard anything about that genius in a very long time, but I have a boyfriend now, who might not be a genius but is surely smart and cares about me.

It's almost been a year since I graduated from my university. I tried two jobs, both I don't really like.The latter maybe matches best with my idea of a career woman.
Except I don't work on weekends. Honestly, if someone from the office calls me outside office hours, I will just pretend I don't hear it. And I don't work until late either. When it's 5 pm, I already got my computer shut down. And I'm also the only one in my division who leaves the office before dark.
Yeah, it's that unbearable.

The point is, things changed. I'm still not sure about what I want, but at least I know of one thing I don't want (being a career woman). I love Fasilkom more than I thought I would. I have more dreams than I did 5 years ago, I have a different point of view on several things in life. It's funny how people changed.

a thing about coffee


I like the smell of coffee.
I even like the taste of it sometimes.
But I definitely don't like the way it keeps me awake until now, even though I took it 6,5 hours ago. And the way it makes my heart beat really fast and leaves me with nausea and stomachache.
Nothing wrong with the coffee. I always become like this every time I drink anything that has coffee in it (it's a shame I still drink it anyway). I should try google it and find out why.
Most of all, I hate the way the coffee keeps me awake until now and I have to work tomorrow.

Note: if you are wondering why I use Java logo, I have no particular reason. I'm not even a big fan of Java.

sudahkah Anda makan malam ini?


Wanita cenderung merasa terlalu gemuk? Sudah biasa memang. Tapi jujur deh, saya agak heran. Belakangan ini saya sering sekali mendengar pertanyaan berikut:
"Kamu langsing ya. Makan malem ga?"
"Eh, lo kalo malem makan ga?"
"Lo kalo pulangnya udah malem begitu, tetep makan ga?"
yang selalu saya jawab dengan, "ya makan lah. Masa engga, laper dong ntar", saat saya sebenarnya berpikir, "apa-apaan?"

Gagasan tentang melewatkan makan malam adalah sesuatu yang asing buat saya. Selain saya tahu bahwa itu bukan cara efektif menurunkan berat badan, saya juga khawatir kebutuhan kalori tubuh ga terpenuhi dengan cara itu. Saya tahu, kebanyakan wanita selalu ingin menurunkan berat badan, di saat sebenarnya ga ada yang salah dengan kondisi tubuh mereka. Saya juga sempat begitu, ga merasa gemuk tapi ga keberatan menjadi lebih kurus sedikit lagi.

Yang membuat saya heran adalah, kenapa sih mereka ga mencari tahu cara yang benar dan aman untuk menurunkan berat badan? Kebanyakan hanya ikut-ikutan dari apa yang mereka dengar setengah-setengah. Sering loh saya temui wanita yang ga makan malem, ga mengonsumsi karbohidrat, dan banyak cara ajaib lainnya. Dan kalau boleh memberikan pendapat, menurut saya sih cara seperti itu ga terlalu efektif. Kalaupun berat badan turun, paling cuma untuk beberapa saat sebelum akhirnya naik lagi.

Like they suffer for nothing.


Saya pernah loh nyoba low-carb diet, tapi langsung berhenti setelah mencari, mendapatkan, mempercayai informasi tentang, dan merasakan sendiri efek sampingnya. Bukan berarti saya tahu cara paling manjur buat menurunkan berat badan loh ya. Tapi yaa, untuk para wanita di luar sana, at least cari informasi dululah sebelum mulai diet sembarangan. Jangan kemakan iklan dan omongan orang. Kasihan tubuh kita dong.

random words

Don't promise you'll wait for me. And I won't promise I'll come back here for you. Because even if you do want to wait for me and I do want to come back for you, God knows what will happen and life is short and no one needs to break any promises.
Don't tell me you love me. Because we're not those people who say those words too easily and I don't even need to hear them.
Don't promise me you'll be there for me whenever I need you. Because even if you mean it and I might believe you do, I don't believe you can.

Instead,
promise me you will take me to the airport, and you will wave to me and smile to me until I'm out of sight.
Promise me you will remind me of how lucky I am whenever I tell you this life is unbearable.
Promise me you will not forget to pray and love yourself.

Those words came to me a while ago, when I was thinking about goodbye. They seemed so true then, but now they're just like empty words. Like a typical love quote, which I, more often than not, think is bullshit.

rencana pengangguran tanpa nganggur

Lagi puyeng mending ngeblog.
Menunggu-nunggu saat di mana saya akan menambah jumlah penganggur di Jakarta, hoho. Pada saatnya nanti, saya mungkin akan lupa menikmati kebebasan, jadi ada baiknya sekarang saya buat daftar hal-hal yang harus saya lakukan sebelum berangkat ke Malta.

  1. Belajar masak. Ini sungguh mendesak, bakal repot bertahan di negeri orang kalo ga bisa masak.
  2. Nonton serial kolosal Korea.
  3. Memotret setiap sudut Jakarta, hopefully saat itu sudah punya kamera sendiri yang cukup memadai. Kalaupun belum, yah tinggal pinjem SLR bokap.
  4. Beli Quickly sama nyokap. Jadi nyokap udah lama banget kepengen Quickly, tapi berhubung di hari kerja saya ga bisa nganter dan di weekend nyokap punya acara sendiri, akhirnya sampe sekarang belum juga kesampaian.
  5. Membersihkan, menghitung, dan mendata buku-buku saya. Yah 2 tahun bakal ditinggal nih.
  6. Main-main di Waterbom PIK atau Snowbay atau tempat-tempat sejenis.
  7. Jalan-jalan ke luar Jakarta, ke Pulau Tidung atau ke mana deh.
  8. Menghabiskan waktu sepuasnya bersama keluarga dan teman-teman.
  9. Menghabiskan waktu sepuasnya jalan-jalan di mol sendirian.
  10. Mencicipi jajanan Jakarta.
  11. Mulai belajar-belajar sendiri buat kuliah.

Kalau dilanjutin ga bakal abis. Segitu dulu deh.

BLAHHHHH

lagi pengen marah-marah.

bacaan semasa muda

Lagi pengen ngerasa muda lagi, wekeke. Jaman dulu, saya sering baca seri buku tentang cewe-cewe abg gitu, halah. Yah kalo sekarang mungkin istilahnya teenlit kali ye. Menilik rak buku, berikut adalah seri-seri yang saya baca semasa SD dulu. Tiap buku bergiliran cerita tentang tokoh yang beda. Semuanya terjemahan, soalnya dulu belum jago bahasa Inggris (kaya sekarang jago aja).

1. Girl Talk
Girl Talk ini berkisah tentang persahabatan 4 orang anak SMP di Acorn Falls: Sabrina, Katie, Randy, dan Allison. Si Sabrina hobi ngegosip dan hampir di setiap buku selalu naksir cowo, wekeke. Katie adalah anak alim yang kemudian memberontak kabur dari pasukan pembawa bendera dan bergabung di tim hoki cowo. Randy yang suka bergaya aneh adalah pendatang baru dari New York. Terakhir, ada Allison yang paling kalem, keturunan Indian yang menjajaki karir sebagai model juga.



Koleksi saya untuk seri ini kayanya ada 26 buku. Sebenernya ga penting sih ceritanya, berkisar di situ-situ aja, sering ga masuk akal dan sering ga konsisten. Belum lagi terjemahannya busuk luar biasa. Tapi jaman dulu mah asik-asik aja tuh.

2. Sweet Valley Series
Yang ini berkisah tentang anak kembar: Jessica dan Elizabeth. Dari segi penampakan, keduanya sangat mirip satu sama lain, tapi kepribadiannya bertolak belakang. Elizabeth yang lebih tua 4 menit daripada Jessica lebih serius dan bertanggung jawab. Sementara itu, Jessica lebih suka berhura-hura.



Nah seri ini BUANYAK banget subserinya (kosa kata baru). Ada Sweet Valley Kids, saat si kembar masih kecil banget, kelas 1 SD kalo ga salah. Lalu Sweet Valley Twins, saat udah di SMP kalo ga salah. Sweet Valley High saat mereka di SMA. Terakhir Sweet Valley University. Lalu untuk tiap subseri, ada lagi kelompok-kelompoknya. Ada Super Thriller, Super Chiller, banyak deh.



Favorit saya adalah Sweet Valley Twins, tapi saya cuma punya sampe nomor 18 (berdasarkan Wikipedia, ada 118 T_T). Pokoknya 18 buku yang saya baca itu oke berat deh. Sweet Valley High udah mulai malesin, apa lagi covernya, wokwokwok.

3. Baby Sitters Club
Dari judul serinya, sudah bisa ketebak, ceritanya tentang anak SMP yang mendirikan klub baby sitter. Awalnya ada Kristy, sang pencetus ide; Mary-Ann, sahabat Kristy yang pemalu luar biasa; Claudia, seniman keturunan Jepang; dan Stacy, anak cantik dari New York. Menyusul, bergabunglah Dawn. Baby Sitters Club ini lumayan sering juga mengalami perubahan susunan organisasi. Waktu Stacy pindah lagi ke New York, masuklah Mallory dan Jessi. Ada baby sitter cowo juga loh: Logan dan Shannon.



Kalau seri ini saya cuma punya sedikit, cuma 6 atau 7 kalo ga salah. Dulu sempet minjem beberapa dari Bu Mia. Tapi dari semua yang pernah saya baca itu, oke-oke semua deh ceritanya.

4. Ford Supermodels of The World
Kalau yang ini tokoh-tokohnya udah lebih gede sedikit. Umur 15-17an. Dari judulnya juga udah ketebak, semuanya supermodel, wokwokwok. Ada Paige, Cassandra, Naira, Kerri, Katarina, dan Pia. Semuanya punya latar belakang yang beda-beda. Saya ga tau ada berapa buku di seri ini, saya cuma punya 6.




Nah dari semua seri yang saya sebutkan di atas, kayanya ga satupun diantaranya yang pernah saya lihat deh di toko-toko buku lokal terdekat. Sayang sekali menurut saya, solanya Sweet Valley Twins dan The Baby Sitters Club itu asik punya, hehe. Jaman sekarang apa ya bacaan sejenis?