Tidak, saya tidak sedang rindu rumah. Saya sedang rindu Indonesia. Mengerti kan, biasanya (yah ga biasanya juga sih, jarang-jarang, hehe) saya rindu kamar saya, buku-buku saya, keluarga, dan teman-teman, ngemol, masakan Mamah. Tapi belakangan ini, saya jadi berpikir lebih banyak tentang negeri saya secara keseluruhan, alih-alih bagian kecilnya yang saya kenal sebagai dunia saya.
Minggu lalu saya ke Dingli, salah satu kota di Malta. Ada tebing berbatu-batu yang menghadap langsung ke laut. Indah, subhanallah. Tapi saat pemandu hikingnya menyebutkan bahwa itu adalah titik tertinggi di atas permukaan laut di Malta, saat dia menunjuk kumpulan pohon yang paling banyak jumlahnya hanya 100 sebagai “hutan” paling lebat di Malta, saat teman saya bilang bahwa ini adalah kesempatannya untuk ber-scuba diving karena Serbia ga punya laut, saya jadi berpikir sendiri. Selama bertahun-tahun buku pelajaran di sekolah menyebutkan bahwa Indonesia sangat kaya, we took it for granted. Jujur, saya baru sadar sekarang bahwa Indonesia punya segalanya. Gunung, hutan, laut, pantai berpasir, pantai berbatu. Tahukah kalian, Malta harus mengimpor pasir karena semua pantainya adalah pantai batu. Semua ini membuat saya sangat rindu pada Indonesia.
Berada di sini, meskipun damai dan menyenangkan, ternyata bisa bikin lupa diri. Di sini yang saya lihat adalah orang-orang yang berbahagia dan berkecukupan. Berita tentang tsunami dan letusan Merapi ga terdengar kecuali kalau memang saya cari, dan dengan mudah bisa terbaca lalu terlupakan di tengah rutinitas saya yang baru. Sementara saya resah menunggu uang beasiswa sampai ke rekening karena ingin membeli baju dan sepatu baru, ada orang-orang di negeri saya yang sedang berduka kehilangan rumah dan keluarga.
Saya rindu melihat kepala-kepala berkerudung, batik di hari Jumat, suara adzan, masakan Padang, lagu band Indonesia, salat berjamaah. Saya rindu solidaritas yang langsung terjalin setiap kali terjadi bencana, penggalangan dana dan kotak sumbangan yang diedarkan. Dan sebentar lagi, saya akan rindu melihat kambing dan sapi dijual di pinggir jalan menjelang Idul Adha. Ya, saya sedang rindu Indonesia.
eh bu kok mengharukan ya bu