Belakangan ini saya merasa sangat busuk dalam bersosialisasi. Bukannya tadinya hobi juga sih, hihi, tapi seminggu terakhir ini rasanya ga nyaman banget berada di tengah perkumpulan manusia. Entahlah, lagi ga nyambung rasanya, pikiran melantur kemana-mana. Semalam, saat berjalan pulang dari apartemen teman (yang berarti cuma turun tangga doang) dalam totalitas kesenduan, tiba-tiba saya teringat petikan kata-kata dari Extremely Loud and Incredibly Close yang bikin saya merinding.
What about a teakettle? What if the spout opened and closed when the steam came out, so it would become a mouth, and it could whistle pretty melodies, or do Shakespeare, or just crack up with me?
Yah, ga sepanjang itu juga sih yang keinget, hehe. It’s like hearing your favorite song played on the radio, like having a line of that song stuck in your head for days. Yang sebenarnya bisa membuat suasana hati jadi cukup berantakan. Seriusan deh, padahal saya ga begitu ngerti korelasi antara petikan kalimat di buku tersebut dengan kondisi kehidupan saya saat ini.
It still amazes me, you know, how words can be so beautifully combined and change your life, well maybe not forever, but at least for a few days. Saya masih sering teringat kalimat-kalimat di penghujung Life of Pi:
For example, I wonder, could you tell my jumbled story in exactly one hundred chapters, not one more, not one less? I’ll tell you, that’s one thing I hate about my nickname, the way that number runs on forever. It’s important in life to conclude things properly. Only then you can let go. Otherwise you are left with words you should have said but never did, and your heart is heavy with remorse.
Oke, yang di atas itu saya nyontek dulu dari bukunya, karena yang terngiang-ngiang di kepala saya hanyalah intinya, bukan kata per kata. Lalu ada lagi kutipan mahadahsyat dari Jalan Cinta Para Pejuang:
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan terkibas-kibas
Do you see now why I love books so much? I can’t put it into words. I just know that, they come inside you in a quiet and peaceful way that after reading a book, you’re never the same person you were. As for my case, I become a little weirder. But I can live through a bad day that is full of depressing and embarrassing moments, knowing that it will end with me reading a good book before sleeping.
Kalau ada satu hal yang saya takutkan, itu adalah kalau-kalau saya kehilangan minat membaca. Bahkan sekarang pun, waktu saya untuk membaca sudah semakin sedikit. Salahkan teknologi dan tugas kuliah, hehe.
Oke, hal-hal yang meresahkan hati tertuliskan sudah (huhu, yang mana?). Saatnya menjemput malam dalam balutan selimut.
*tugas kuliah apa kabarnya ya? huhu*