Fase penolakan adalah sesuatu yang pasti dialami kalau kita memasuki lingkungan baru. Buat saya, fase penolakan terlama terjadi ketika saya pindah ke Pekanbaru dulu. Saya sebel dengan orang-orangnya, pelajarannya, sekolah, semuanya. Hal yang sama terjadi saat baru masuk Fasilkom dan kerja di KPEI, meskipun periodenya jauh lebih singkat.

Makanya saya heran ketika beberapa minggu pertama di sini, rasanya kok saya ga mengalami fase itu, hehe. Seneng-seneng aja tuh dengan segala hal yang ada di Malta: orang-orangnya baik, cuacanya nyaman, pemandangannya indah… Dalam banyak hal, saya merasa hidup saya mengalami perbaikan.

Dan guess what? Saya baru mengalami fase penolakan itu sekarang, setelah sebulan lebih. Dan bukan penolakan terhadap Malta, melainkan terhadap kuliah-kuliah linguistik, hehe. Oke, saya sadar kok saya mengambil jurusan ini dengan modal nekat doang, karena saya ga punya background linguistik sebelumnya (saya bahkan ga tau corpus itu apa). Namun belajar linguistik dari awal ternyata tidaklah semudah yang saya bayangkan.

Segala hal tentang linguistik terasa membosankan dan tidak menarik. Ga ada formula matematika, ga ada reasoning deduksi atau induksi, ga ada algoritma. Sintaks, semantik, morfologi, phonetics, phonology, semua itu terasa seperti omong kosong. All the time saya berpikir, why should anyone care? Argh.

Lalu si Chomsky! He’s everywhere. Ya ampun, nama itu ribuan kali disebut-sebut dalam setiap kuliah linguistik. Well, kuliah CS juga sih, tapi ga sering-sering amat. Honestly, saya mulai benci banget sama si Chomsky, huhu.

Masalah selanjutnya adalah saya tidak punya buku. Sebenarnya saya punya prinsip: ga ada yang susah kalau kita mau belajar dari buku. Tapi ga seperti di perpustakaan Fasilkom di mana buku kuliah diperjualbelikan, di sini harus mesen dulu di toko buku. Jadi sampai bukunya datang, saya harus berpuas diri dengan ebook dan slide kuliah, benda-benda yang sebelumnya saya anggap ga berguna.

Hopefully ini cuma sebuah fase. Insya Allah akan segera berlalu. Untungnya temen-temen saya bersedia ngajarin (meskipun pikiran seperti “why should I care” masih sering muncul di kepala saya saat diajarin, hehe).

Oke, saatnya mengingatkan diri sendiri:

  • bahwa saya dikasih uang jajan dalam jumlah sangat besar oleh EU untuk mempelajari linguistik
  • bahwa ini pilihan saya dan meskipun saya sering membuat pilihan tanpa pemikiran panjang, tetap saja harus saya jalani dengan penuh passion (beh)
  • bahwa pasti ada trade off antara sinar matahari dan pemandangan indah dengan kesulitan kuliah
  • bahwa saya adalah computer scientist, jadi tidak seharusnya saya benci berada di depan komputer
  • bahwa banyak yang mengharapkan saya sukses dengan studi ini dan segera pula ke kampung halaman
  • bahwa Tuhan Maha Penolong, jadi jangan lupa berdoa

Saatnya nyanyi dulu biar semangat kalo gitu.

From coast to coast, I'll make the most
Of every second I've been giving with this crowd
Without a doubt, you're all I dream about
At night we lie awake
With stories taking us back to the nights we felt alive
The nights we felt alive

I would've married you in Vegas
Had you given me the chance to say "I do"
Could I make it more obvious, could you
Be anymore obvious

(All Time Low - Vegas)