Judul: Cathing Fire (Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerbit: Scholastic
Harga: Rp. 117.000,00
Rating: 1/5
Oke, jadi ini adalah buku kedua dari seri The Hunger Games. Setelah menyelesaikan The Hunger Games, Katniss dan Peeta kembali ke District 12. Namun rupanya permainan belum berakhir di situ. Meskipun Katniss sudah berusaha menutupi aksi pemberontakannya, Capitol tetap tidak tertipu. Mereka malah mengatur sedemikian sehingga Katniss dan Peeta harus ikut serta lagi di Quarter Quell, edisi Hunger Games setiap 25 tahun sekali.
Ya ampun, seandainya bisa, pasti buku ini sudah saya kasih nilai minus (sebenernya siapa juga yang ngelarang? Hehe. Tapi sekedar konvensi saja, di blog ini range nilai dari jelek ke bagus adalah 1-5). This is totally lame, buhuuu.
Masalah utama yang saya temui di sini adalah karakter-karakternya. Di sini, Katniss seperti kehilangan kepribadiannya. Tidak konsisten, egosentris, dan penuh keluh-kesah. Peeta digambarkan masih sama seperti di buku pertama: lebay. Lalu bagaimana dengan Gale, ibunya Katniss, adiknya Katniss? Saya tidak merasa kenal mereka. Sepertinya mereka cuma tokoh numpang lewat saja, kepribadiannya tidak penting.
Masalah kedua adalah ceritanya. Seriously, semua hal tentang I will do anything to keep Peeta alive dan while you live, the revolution lives? Duh. Maaf saja, ceritanya sangat payah. And I thought this was supposed to be a suspense novel? Well, I almost die of boredom.
Masalah selanjutnya, sama seperti masalah di buku pertama, adalah cinta-cintaannya. Err, menikah? Di usia 16-17? Sama-sama dihantui mimpi buruk jadi harus saling menemani? Setelah begitu sering ciuman (seriously, Collins mendeksripsikan ciuman udah kaya bernapas), Katniss masih belum menentukan perasaannya ke Peeta? Duh. Duh. Duh.
Kesimpulannya: buhuuuu, kembalikan uang sayaaaa!