Judul: The Absolutely True Diary of A Part-Time Indian
Penulis: Sherman Alexie
Penerbit: Little, Brown
Harga: Rp 104.000,00
Komentar: 5 dari 5 bintang
Oke, saya kembali me-review buku. Kali ini adalah buku yang saya beli dalam rangka merayakan keberangkatan saya dulu, hehe. Tokoh utamanya adalah seorang anak Indian Spokane berusia 14 tahun, namanya Arnold Junior. Arnold lahir dengan hydrocephalus dan berbagai masalah fisik lainnya, misalnya giginya yang ada 42 buah dan kirinya yang rabun dekat serta mata kanannya yang rabun jauh. Hihi, kocak deh.
Tadinya Arnold hidup tenteram bersama keluarga dan teman-temannya di tempat penampungan Indian Spokane. Suatu hari di luar kebiasaannya, Arnold melempar buku geometrinya ke wajah gurunya, Mr. P. Percakapan dengan Mr. P sesudahnya membuka mata Arnold bahwa ia harus mencari harapan baru di tempat lain. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pindah ke Reardan, tempat anak-anak kulit putih bersekolah.
Tentu saja ini perubahan besar bagi Arnold. Bukan hanya sahabatnya, Rowdy, marah atas keputusannya, Arnold juga menemui kesulitan di Reardan. Mulai dari naksir Penelope, gadis cantik yang bulimia; berteman dengan Gordy yang jenius; bergabung tim basket Reardan dan bertanding melawan teman-teman Indian-nya. Di sini kita bisa melihat bagaimana seorang anak Indian bergabung dengan komunitas kulit putih. A part-time Indian, seperti apel yang merah di luar, putih di dalam, begitu pengandaiannya.
Jarang-jarang kan saya ngasih 5 bintang buat sebuah buku, hehe. Tapi memang buku ini superb banget deh. Sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dengan tidak menggurui. Gaya bercerita Arnold benar-benar kocak. Plus, Arnold juga hobi menggambar, jadi diari ini penuh dengan gambar-gambar lucu. Most of the time, saya ga berhenti ketawa baca buku ini. Kecuali di bagian-bagian yang sangat mengharukan tentu saja :)
Highly recommended.
It’s a weird thing.
Reservations were meant to be prisons, you know? Indians were supposed to move onto reservations and die. We were supposed to disappear.
But somehow or another, Indians have forgotten tht reservations were meant to be death camps.
I wept because I was the only one who was brave and crazy enough to leave the rez. I was the only one with enough arrogance.