Dulu, saya sempat dibuat pusing dengan urusan akomodasi. Pasalnya, pihak universitas ga menyediakan akomodasi. Memang sih ada yang namanya University Residence, tapi banyak pihak yang ga menyarankan tinggal di situ (bahkan termasuk universitasnya sendiri :D). Selain itu, di situ juga bentuknya shared flat yang terdiri atas 6 kamar. Yah males dong.

Akhirnya saya sok akrab memperkenalkan diri ke beberapa (sebenarnya cuma 2) senior dan minta rekomendasi tempat tinggal. Mereka bilang penawaran terbaik bisa dilihat di koran lokal. Salah satunya menyarankan saya tinggal di hotel dulu baru cari apartemen setelah sampai. Karena hal terakhir yang saya inginkan setelah sampai di Malta adalah direpotkan urusan akomodasi, tentu saja usul ini tidak applicable. Untungnya, saya dikasih link situs iklan-iklan apartemen juga.

Jadi saya mulai nyari-nyari iklan apartemen. Ternyata nyari apartemen single di Malta susah juga sodara-sodara. Selain jarang, mahal pula. Yang sering disewakan kebanyakan bentuknya shared apartments. Jadi, waktu itu pilihan saya sangat sedikit, ditambah lagi harus diburu-buru bukti akomodasi untuk urusan visa. Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa apartemen yang keliatan paling bagus dari seseorang yang kita sebut saja namanya JC. Hoho. Sewanya 350 euro sebulan, tapi belum termasuk ongkos listrik dan air, huhu.

Si JC ini lumayan baik orangnya (terlalu baik malah). Banyak mempromosikan Malta dan menawarkan diri menjemput di airport secara cuma-cuma. Nah, 2 hari yang lalu sampailah saya ke apartemen yang dimaksud (dengan memanfaatkan tawaran tumpangan gratis). Beginilah penampakannya, apartemen nomor 3 di Maracana Court.

DSC00370

Begitu masuk, beginilah pemandangannya. Seperti yang terlihat, ada dua single bed, yang saya gabung jadi satu biar tidurnya lega. Lalu ada tv (why would I need it?), AC, dan lemari. Lebih jauh dikit, ada tirai yang menutupi pintu kaca dan kawat nyamuk menuju teras (kebetulan pas foto ini diambil, saya lagi ngejemur :D).

DSC00368

Kalau dilihat dari sisi sebaliknya, begini keadaannya. Ada dapur dan meja makan. Jeleknya, di sini ga ada meja belajar, jadi meja riasnya saya pake buat belajar (atau tepatnya meletakkan laptop, karena saya kan belum mulai belajar). Nah lalu ada juga sofa buat nonton kulkas. Hehe seriusan, abis letaknya te[at di depan kulkas sih. Kalau mau nonton tivi (yang, ngomong-ngomong, belum pernah saya nyalain) mah enakan dari tempat tidur.

DSC00365

Suasana meja di sisi tempat tidur.

DSC00353

Begini keadaan dapurnya. Lumayan lengkap dan asik pokoknya. Waktu gambarnya diambil, kulkasnya masih kosong. Sekarang udah ada telur, susu, dan jus, hehe.

DSC00347

DSC00350

DSC00357

Selanjutnya, kamar mandi. Lumayan oke juga.

DSC00361

Ada mesin cuci juga.

DSC00362

Nah satu lagi. Berhubung pintu apartemennya auto-lock, saya tempelin kertas berikut di bagian dalam pintu.

DSC00359

Demikianlah apartemen saya. Sewa 350 EUR wajarlah ya, kalau udah mencakup ongkos listrik dan air, huhu. Sayangnya pada kenyataannya ga gitu. Kata si JC sih kalau hati-hati menggunakan AC dan water heater, ga perlu khawatir soal tagihan. Bukan masalah sebenernya. Saya ga bisa membayangkan orang sinting mana yang mau mandi air hangat di Malta. Lalu AC-nya juga sama aja kaya snack, alias angin doang, hehe. Sejauh ini bisa tidur dengan sangat nyaman tanpa AC.

Selesai. What do you think?