Saturday, November 07, 2009

lalala mati listrik

Mati listrik sewaktu gw menulis ini. Baru tidur selama kurang lebih 3 jam.
Keadaan kamar: remang-remang oleh penerangan lampu emergency dan layar laptop yang baterainya penuh. Suara orang ketawa-tawa di depan rumah terdengar nyaring banget (seharusnya itu orang-orang yang lagi ronda. Semoga). Mendengarkan albumnya si cantik Taylor Swift. Batere hp tinggal 1 bar. Masih agak dingin sisa-sisa udara AC. Kelaparan, tapi males membayangkan harus balik lagi ke dapur. Harusnya ga usah dibayangin juga sih, tinggal jalan.

Belakangan ini, mungkin bukan hari-hari paling meyakinkan yang pernah gw jalani. Berubah pikiran mengenai berbagai hal belasan kali dalam sehari. Ga yakin telah membuat pilihan yang tepat, juga ga yakin akan membuat pilihan yang tepat. Merasa telah membuat beberapa kesalahan yang seharusnya diperbaiki. Hmph, I just wish I had the guts to do so.

Bagaimanapun, merasa bersyukur karena of all the things that could go wrong, yang satu ini ga termasuk. Bersyukur masih banyak yang baik sama gw. Alhamdulillah. Harus segera membereskan beberapa hal juga kalau ga ingin semakin terlantar. Membereskan beberapa hal kecil tapi krusial dalam hidup juga. Cuma pengen hidup tenang sekarang ini.

Ngomong-ngomong, saya suka sekali pada Taylor Swift. Dia sangat cantik dan lagunya enak-enak. Hm, udah ah. Menghemat lampu dan baterai, beranjak tidur.

Wednesday, September 30, 2009

what a day

Meninjau kemarin.
Rencana: pagi-pagi ke Thamrin buat interview, lalu setelah selesai siangnya ke kampus.
Rencana yang sederhana, bukan?
Yang terjadi: banyak, tapi ga ada yang sesuai rencana.
Males cerita. Intinya sih dikerjain sama mbak-mbak HRD-nya. Sempet mikir mau ngambek, tapi akhirnya memutuskan buat bersabar aja karena butuh (tapi sih kalo tau apa yang akan terjadi, mendingan ngambek aja).

Yah bagaimanapun ada beberapa hal menarik:
  1. Ada cowo yang pdkt di telepon sama gebetannya sepanjang perjalanan Transjakarta koridor 6. Sampe doi turun di Dukuh Atas dan nyambung Transjakarta merah, belum berenti juga. Jadi penasaran doi pake kartu apa. Ngobrol segitu lama tetep hemat, hoho. Males aja dengerinnya. Bukan berarti saya emang niat dengerin lho, hehe.
  2. Jangan ngobrol dengan kandidat lain kalo duduknya di seberang ruangan. Terdengar dodol, ngobrol jauh-jauhan dengan suara keras padahal ada kursi-kursi yang deket.
  3. Saya lupa jalan pas nyetir pulang. Nah loh, kan berangkatnya naik Transjakarta, kok pulangnya naik mobil? Rahasia! Muter-muter nyari jalan, tapi malah ketemu joki, yang berarti gw menuju arah yang salah. Udah berbelok-belok lagi berdasarkan insting, ketemu serentetan joki lainnya. Akhirnya nanya sama bapak-bapak di pinggir jalan. Untung manjur! Banyak jasanya tuh bapak.
  4. Belajar nyetir sambil lepas alas kaki. Ya, kebanyakan orang ga bisa nyetir dengan alas kaki. saya sebaliknya. Tapi kemarin akhirnya saya nyeker pas nyetir. Kenapa? Kelingking dan ibu jari kedua kaki saya melepuh gara-gara kelamaan pake sepatu cantik.
Segitu aja cerita moralnya.
Intinya sih: sepertinya saya masih akan menganggur beberapa waktu ke depan, hoho.

Monday, September 28, 2009

Inkdeath


Judul: Inkdeath
Penulis: Cornelia Funke
Penerbit: Chicken House, 2008
Tebal: 699 halaman
Penilaian: 5 dari 5

Ini adalah buku terakhir dari trilogi Inkheart. Agak telat bacanya karena nunggu edisi paperback. Sebelumnya, kilas balik dulu ke buku-buku sebelumnya. Di Inkheart, Meggie mengetahui bahwa ayahnya, Mo, ternyata punya kemampuan memunculkan makhluk-makhluk dari buku yang sedang dibacanya. Sewaktu membaca buku Inkheart, beberapa tokoh dari buku itu – Dustfinger, Capricorn, dan Basta – muncul ke dunia Mo. Sebagai gantinya, istri Mo – Resa – tersedot ke dunia tempat buku itu diceritakan, Inkworld. Sembilan tahun kemudian, Dustfinger yang merindukan Inkworld meminta Mo membawanya kembali ke sana. Namun, untuk itu mereka harus berhadapan dengan Capricorn dan Basta.

Di akhir Inkheart, Capricorn berhasil dikalahkan dan Resa kembali bersama Mo dan Meggie. Pada buku selanjutnya, yaitu Inkspell, akhirnya Dustfinger menemukan orang yang bisa membacakannya kembali ke Inkworld, yaitu Orpheus – yang memiliki bakat yang sama dengan Mo. Namun selanjutnya, malah Meggie, Mo, dan Resa yang masuk ke Inkworld. Ternyata kisah Inkheart sudah berkembang tak tentu arahnya. Inkworld sekarang dikuasai Adderhead yang kejam.

Inkdeath bercerita tentang kelanjutan kisah mereka di Inkworld. Di sini, Dustfinger telah mati karena menukar nyawanya dengan nyawa Farid. Namun Farid berusaha agar Dustfinger dapat kembali dari kematian. Mo menjadi buronan Adderhead. Sementara itu, Resa tengah mengandung anak kedua. Usaha Resa untuk membawa keluarganya kembali ke dunia mereka ternyata tidak berjalan lancar. Karenanya, Mo harus membuat penawaran dengan Kematian, di mana bukan hanya nyawanya yang dipertaruhkan, melainkan Meggie dan Dustfinger juga.

Penutup yang sempurna untuk trilogi Inkheart. Jadi kalau di buku pertama Capricorn terasa kurang jahat dan di buku kedua Meggie terasa sungguh menyebalkan (saya harus bersusah payah menamatkan Inkspell karena sebel sama Meggie), buku terakhir ini flawless. Kisahnya suram, penuh kegelapan di sana-sini, tapi diakhiri dengan sempurna. Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.

Suami Cornelia Funke meninggal beberapa saat sebelum Inkdeath selesai. Di bagian persembahan (bagian yang ga pernah saya lewatkan di buku manapun), ada tulisan:
To Rolf, always – it was the best of things to be married to Dustfinger.

Heheh, mengharukan. Dari buku pertama, Dustfinger sudah menjadi tokoh favorit saya. Dan di Inkdeath, Dustfinger sungguh mengagumkan. Inkworld ga akan sama tanpanya, hoho. Saya sempat lihat Inkheart edisi terjemahan bahasa Indonesia. Ternyata namanya Staubfinger. Mungkin karena diterjemahkan langsung dari Jerman.

Friday, September 25, 2009

Hm, libur Lebaran kok lama amat ya. Kemarin ke kampus tapi ternyata belom buka, wok3. Akhirnya nge-Bogor deh. Niatnya mau nyampah-nyampah numpang makan di rumah Bu Mia tapi ternyata orangnya sudah punya acara sendiri. Hoho sombongnya harus booking jadwal dulu. Di Bogor ga ada apa-apa. Jalan-jalan di Botani Square tapi molnya kaya Detos, hoho. Sehabis makan kami pun kembali ke Jakarta, memanfaatkan tiket gratis buat nonton KCB2.

Hihi, itu film busuk banget ya. Dari 5 menit pertama aja udah keliatan busuknya, ga keliatan nuansa Islaminya. Isinya usaha pencarian jodoh doang, tapi wanitanya pake jilbab dan prianya pake baju koko. Udah gitu kesannya ngegampangin banget. Siangnya minta cariin istri, abis maghrib langsung nikah. Pria A pengen balikan sama mantan istrinya, si mantan istri dengan santainya bilang udah nikah lagi. Si mantan suami pun setelah itu langsung berpaling pada wanita lain. Dodol ah. Tapi untung gratisan, jadi ga berasa rugi deh.

Sudah cukup tentang KCB, saatnya nonton yang lebih bermutu: HIMYM season 5!

Sunday, September 20, 2009

Little House On The Prairie

Ini serial favorit saya semasa kecil dulu. Jadi belum lama ini, saya membaca Anne of The Island, buku ketiga seri Anne of Green Gables. Entah kenapa (padahal settingnya beda), buku itu mengingatkan saya pada Little House On The Prairie. Akhirnya download deh karena penasaran.

Katanya serial ini udah ada sejak nyokap masih kecil. Salah satu tontonan wajib nyokap juga dulu. Untungnya, pas saya kecil (sekitar kelas 4 atau 5 sd), serial ini diputar ulang. Tiap Sabtu malem di TPI wajib banget nonton serial ini.



Little House On The Prairie berkisah tentang keluarga Ingalls. Ada sang ayah, Charles, yang digambarkan pantang menyerah banget. Pas panen gandumnya gagal, doi jalan 100 mil pake sepatu bot yang udah rusak demi nyari kerja. Terus ada sang ibu, Caroline, yang pengertian banget meskipun hidupnya susah. Ga pernah minta macem-macem, bantuin Charles ngebajak sawah, hebat deh. Anak-anaknya ada 3, perempuan semua: Mary, Laura, dan Carrie. Mary yang paling tua dan paling cantik. Laura tokoh utamanya, dengan rambut coklat yang biasa dikepang dua. Carrie diceritain masih kecil banget, saya ga begitu inget.

Kayanya waktu yang di TPI dulu, serial itu menghilang tanpa terselesaikan. Begitu tau bahwa ada bukunya, saya langsung beli deh. Seri Rumah Kecil yang ditulis Laura ternyata dilanjutkan oleh anaknya, Rose, dalam seri Lereng Bukit. Tapi saya ga terlalu hobi sama bukunya sih.

Jaman sekarang ga ada lagi ya tontonan bermutu kaya gitu. Inget waktu itu sempet ada Keluarga Cemara yang sejenis sama Little House, tapi saya ga suka.

Monday, September 14, 2009

i'm dying to have some sleep

Luar biasa cape. Udah beberapa hari ini ga bisa tidur. Blah. Sangat mengantuk dan pusing. Tapi ya, ga bisa tidur.

Monday, September 07, 2009

lala

Rasanya sekarang males banget nulis di blog ini. Ga tau mau nulis apa. Padahal dulu waktu lagi bosen-bosennya hidup, tetep aja ada yang ditulis, meskipun isinya keluhan doang sih. Sekarang, saat hidup udah mendingan (ah masa sih), rasanya jadi makin males ngupdate. Mungkin karena ga ada yang ingin dikeluhkan (tapi boong).

Kemarin buka puasa sama anak-anak 28. Tergolong sepi sih. Sempet lupa sama beberapa orang, tapi bodo lah, senyum-senyum aja sambil salaman. Pas nonton video jaman dulu, baru inget betapa parahnya anak-anak 28 dalam hal ngegas orang, wokwokwok. Di Fasilkom ga ada acara gitu-gituan sih.

Yah, jadi besok udah Senin lagi. Senin yang kosong tanpa kerjaan, kecuali mungkin jadi supir. Udah cape jobsdb-ing. Susah ya nyari kerjaan yang pas, kantornya deket dan ga macet, serta gajinya gede, hehe. Banyak hal yang perlu dikerjakan sebenarnya, tapi gw selalu menjadikan puasa sebagai dalih untuk menunda pekerjaan. Yah, gw ngejar pahala juga dong. Dalam artian, tidurnya orang puasa adalah ibadah, hoho. Bicara tentang puasa, berat badan gw udah naik lagi. Tapi lagi ga peduli. Kayanya berat 50 kilo bukan masalah besar. Nanti aja gw panik, kalo berat gw 51.

Postingan ini ditulis sambil mendengarkan audio book The Book Thief. Baru pernah dengerin audio book. Lumayan asik juga ternyata. Ngomong-ngomong, gw baru menamatkan Life of Pi entah untuk yang keberapa kalinya. Baru kali ini gw memfokuskan diri pada gambaran Richard Parker. Akhirnya tadi penasaran terus googling tentang harimau Royal Bengal deh. Ternyata cantik yah.

Udah ah, sekian saja update-annya.